Awalnya saya nggak terlalu minat waktu ada info perekrutan jadi KPPS di desa saya, selain karena diri ini yang semakin kesini semakin mager beraktivitas. Juga karena waktu itu belum tahu honornya berapa, kalau sama kayak tahun 2019 yang honornya ‘cuma’ 500 ribuan, kayaknya nggak worth it banget walaupun kerjanya cuma sehari.

Tapi setelah denger kabar kalau honornya naik jadi satu juta seratus ribu buat anggota dan satu juta dua ratus buat ketua, dipikir-pikir lagi kayaknya lumayan juga, kerja sehari dapat duit segitu. Apalagi berbekal pengalaman di tahun 2019, waktu itu saya dan kelompok di TPS saya bisa cepat selesai menyelesaikan semua penghitungan sampai pengepakan ke kelurahan ‘cuma’ sampai jam 10 malam sementara banyak TPS yang sampai pagi. Saya jadi optimis, kalau tahun ini bisa lebih mudah apalagi dengan fomat yang semakin memudahkan, di mana nantinya salinan C1 tiap pemilihan tinggal di-copy aja dan dibagiin ke saksi, nggak usah ditulis manual seperti tahun 2019.

Setelah pendaftaran dengan proses yang lumayan ribet dengan upload banyak berkas sampai mesti cek kesehatan seperti gula, kolesterol, buta warna dll., saya akhirnya diterima jadi KPPS dan beberapa hari kemudian ditunjuk jadi ketua KPPS.

Semua masih terlihat mudah, ketika ada BIMTEK pun, saya masih bisa memahami alurnya. Yang saya lihat, pemilu kali ini, jauh lebih ringkas dari pemilu sebelumnya. Saya optimis bisa selesai dengan cepat waktu hari H, apalagi pas saya tahu dapat TPS di sebelah rumah persis. Ah.. kalau istirahat bisa balik ke rumah dulu buat selonjoran.

Hari H pencoblosan pun dimulai, pagi banget saya udah di TPS ngatur kursi dan segala macam persiapan TPS. Lalu satu per satu warga setempat mulai datang buat nyoblos. Tidak ada kendala berarti siang. Beberapa orang yang tidak dapat undangan nyoblos tapi masih warga setempat, berhak nyoblos mulai jam 12 siang.


Beberapa orang lagi yang bawa KTP luar kota mencoba datang ke TPS berharap bisa nyoblos, namun sayangnya karena nggak bawa surat pindah TPS dari KPU mereka nggak bisa ikutan nyoblos. Aturan kali ini emang agak ribet dan kurang sosialisasi, jadi kalau ada warga yang mau nyoblos di kota lain, mereka harus ke KPU dulu ngurus suratnya. Dan sayangnya, sosialisasi tentang hal inin sangat minim sekali sehingga banyak orang mikirnya jam 12 mereka bisa nyoblos yang penting bisa nunjukin KTP.

Setelah waktu coblosan berakhir, kami istirahat sejam lalu mulai persiapan untuk penghitungan suara. Kami tidak tahu, kalau semua rasa capek itu akan mulai dari sini. Berawal dari buka kotak suara presiden dan menghitung surat suara yang masuk, ternyata selisih satu sama daftar pemilih yang hadir. 158 daftar pemilih yang tercatat, 159 surat suara yang masuk ke dalam kardus.

Kami mulai hitung ulang lagi sambil mencoba menenangkan diri. Mengecek kembali daftar hadir sambil mengingat-ingat siapa yang masuk ke Daftar Pemilih Tetap tapi cuma bawa KTP. Untungnya, akar permasalahannya bisa ketemu setelah dihitung ulang kesekian kalinya, meskipun cukup memakan waktu. 

Penghitungan suara calon presiden berjalan dengan lancar, pasangan 02 unggul jauh dari lawannya. Penghitungan dilanjutkan ke pasangan DPD dulu karena ada salah satu surat suara presiden yang salah masuk kesini. Jadi, di awal penghitungan tadi, kotak suara presiden dan DPD dibuka bersamaan disaksikan oleh pengawas TPS dan saksi parpol.

Penghitungan DPD berjalan dengan lancar, banyak surat suara tidak sah yang masuk kotak. Ya, wajar aja sih.. mereka pasti pada nggak kenal sama orang-orang yang ada di gambar karena surat suara DPD adalah orang-orang yang nyalon nggak lewat partai.

Setelah istirahat sebentar buat solat ashar, penghitungan suara lanjut ke DPR Provinsi, waktu sudah semakin sore, dan ketika dibuka logistik untuk DPR Provinsi, saya cukup kaget. Ada 20 lembar kertas C Plano partai beserta daftar caleg yang harus ditempel. Dan kertas ini ukurannya gede-gede semua. 

Personil lengkap bareng Linmas dan Pengawas TPS


Ngerekap C Plano

Gila.. buat masang seluruh kertas ini aja udah makan waktu banyak banget. Sementara saya baru ngerasain kalau dengkul rasanya udah mau copot, kelamaan berdiri ngitungin surat suara dari awal, dan ini masih ditambah ngitungin lagi yang dari DPR Provinsi. 

Satu per satu, surat suara disebutkan sah dan tidak sah. Sampai akhirnya 159 surat suara selesai dibacakan semua menjelang maghrib. Setelah ini, kami masih harus merekap di tiap C Plano berlembar-lembar ukuran besar yang ada di tembok, termasuk partai-partai yang nggak dapat suara sama sekali juga tetap harus direkap yang ternyata melelahkan sekali. Setelah itu, kami masih harus tandatangan di setiap lembarnya, yang artinya harus tanda tangan sebanyak 20 kali.

Kami memutuskan untuk istirahat dulu dan lanjut lagi setelah isya. Beruntung, TPS-nya di sebelah rumah saya, jadi saya tinggal masuk rumah aja dan selonjoran bentar. 

Sambil selonjoran, saya udah mikir kalau ini nggak bakal selesai cepet. Masih ada lagi 2 penghitungan kotak suara DPR Kabupaten dan DPR Provinsi. Yang itu artinya, saya dan KPPS lain masih harus dua kali nempelin 20 kertas plano ukuran besar. Juga dua kali membuka 159 surat suara, melakukan pemungutan suara sah dan tidak sahnya. Dua kali juga merekap hasilnya di 20 kertas plano ukuran besar. Serta dua kali juga tanda tangan sebanyak 20 kali. 

Sekitar jam sebelas malam, anggota KPPS udah mulai pada lesu. Masih ada satu lagi penghitungan yang harus dikerjakan. Dengan sisa-sisa tenaga yang sebenernya jelas udah nggak produktif banget kalau dikerjain, akhirnya kami berbagi tugas lagi, nempelin poster, menghitung, merekap dan tanda tangan.

Penghitungan selesai. 

PR selanjutnya tinggal merekap semuanya di lembar salinan ukuran kertas A4 dan di-copy untuk dibagikan ke para saksi yang hadir. Masalahnya adalah, untuk 1 hasil salinan DPR, jumlahnya ada sekitar 8 lembar, jika saksi yang hadir saat itu ada 10 aja, udah 80 lembar yang harus di-copy di printer yang kecepatan ngeprint hasil copy-annya nggak cepet-cepet amat. Udah gitu 8 lembar dikali 10 saksi ini masih harus dikali 3 karena saksi juga minta hasil DPR Kabupaten, DPR Provinsi, DPR RI, belum ditambah C salinan hasil capres cawapres. Ada ratusan lembar yang harus di-copy malam itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30, kaki pegelnya udah level ubun-ubun ditambah ngantuk yang udah mulai nggak bisa diajak berdamai. Kopi dan cemilan udah nggak ada menarik-menariknya di mata saya. Untungnya, semua pekerjaan penggandaan hasil C salinan udah beres dibagikan ke semua saksi. Saya udah bisa melihat gambaran tidur di kasur yang empuk setelah ini.

Hingga beberapa saat kemudian, salah satu anggota KPPS yang bertugas jadi admin nyeletuk, “Mas.. aku belum masukin semuanya ke SIREKAP”

Saya masih positif thinking, kalau ini tidak membutuhkan waktu lama. “Oh iya, tinggal difotoin aja langsung. rekapannya, hasil akhirnya aja, kan?”

“Semuanya, mas.”

“Maksudnya semuanya?”

“Semua lembar yang ditempel tadi, dari awal sampai akhir.”

Saya langsung lemes.. lembar yang udah pada dicopotin dan dimasukkin ke kardus dikeluarin lagi dan diurutin dari awal sampai terakhir. Tiga kotak dari DPR aja udah ada 60 lembar, ditambah presiden dan DPD. Itu artinya ada sekitar 70 kali pengambilan foto yang harus dilakukan. Dan tentu saja fotoinnya satu per satu. 

Admin SIREKAP masih harus bekerja keras, sementara yang lain udah pada bengong sambil nungguin kalau-kalau admin SIREKAP butuh bantuan beresin C Plano yang udah selesai difotoin.

Saya dudukan di lantai sambil sesekali ketiduran saking capeknya. 

Sekitar pukul 03.30, semuanya udah selesai, tugas terakhir masih harus dilakukan, nganterin segala logistik ke kelurahan. Tiga anggota KPPS yang masih pada remaja siap nganterin ke kelurahan karena emang ada honor transportnya.

Pemungutan suara dan segala urusan administrasinya selesai sekitar jam 4 pagi. membayangkan kerja dari pagi sampai pagi lagi, ini bener-bener nggak produktif banget. Dan ya… hasil pekerjaan sempurna macam apa yang mau diharapkan dari orang-orang yang kerja dari pagi sampai pagi lagi?

Kalau semuanya berjalan lancar pun tetep aja butuh waktu seharian lebih, apalagi yang misal ada problem pas penghitungannya. Di TPS lain daerah saya, ada yang waktu mau ngeprint hasil salinan buat para saksi, ternyata printernya nggak bisa dipakai buat nye-can. Mau panik juga tenaga udah habis terpakai buat penghitungan, mau nangis juga kayaknya udah terlalu capek. 

Ketika saya merebahkan diri di atas kasur, saya kepikiran, bisa dapat ijin dari kepala sekolah untuk libur satu hari lagi ternyata alhamdulillah banget. Lalu, saya membayangkan para petugas KPPS yang cuma dapet ijin satu hari kerja. Berarti setelah ini semua selesai menjelang subuh, mereka udah harus siap-siap lagi buat lanjut berangkat kerja. 

Lalu saya kepikiran lagi, para saksi partai politik yang harus bertahan hingga menjelang pagi demi nunggu hasil copy-an salinan C1. Rata-rata mereka dapat honor cuma 250 ribu rupiah. Sepertinya itu nggak worth it banget.

Yah.. dibalik nominal yang sepertinya terlihat lumayan, ternyata emang kerjanya beneran secapek itu.