Tampilkan postingan dengan label CerPan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CerPan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 18, 2014

The Three Mahasiswa's Part II

Februari 18, 2014
Ini adalah lanjutan dari CerPan tentang tiga mahasiswa yang berjuang mencari rumah kontrakan terindah, ternyaman dan... termurah, yang belum tau ceritanya bisa baca dulu di The Three Mahasiswa’s Part 1, dan ini cuplikan cerita sebelumnya:


“Ini kamarnya cuma dua ya Pak?” Kata Ganggo sambil melongok salah satu kamar yang berada di belakang. Sebenarnya tanpa ditanya pun, seharusnya Ganggo tahu, kalau padepokan ini kamarnya cuma dua.
“Seperti yang kalian lihat, Nak” 
“Mmmm.. ini memang gak ada keramiknya ya Pak rumahnya?” Edotz menanyakan hal yang cukup berbobot.
“Nah.. itulah Nak. Kalau nanti kisanak jadi mengontrak padepokan ini. Uangnya rencana mau dipakai buat pasang keramik, jadi setelah kisanak masuk kesini, rumah ini udah berkeramik. Tenang saja.”
“Oh gitu... berapa ini Pak kira-kira setahunnya?” Ganggo kali ini mengajukan pertanyaan yang bagus.
“Lima juta Nak, per tahunnya.” Kata Bapak mantap.
Mereka bertiga pura-pura manggut-manggut padahal sebenarnya mencium aroma busuk lagi untuk kedua kalinya. Kali ini baunya agak sedikit berbeda.
“Maaf Nak, bau banget ya? Bapak tadi kentut.” 
“...”
Setelah percakapan yang diwarnai aroma kentut itu. Mereka bertiga meminta waktu kepada  bapak pemilik kontrakan untuk mendiskusikan permasalahan ini dulu. Deal atau enggaknya. Malam itu, dalam perjalanan pulang mereka saling diam. Memikirkan untung ruginya untuk menyewa padepokan disitu.
***

Selama tujuh hari tujuh malam Edotz, Pandik dan Ganggo terus berpikir dengan teramat sangat serius untuk memutuskan apakah mereka nantinya akan mengambil kontrakan senilai lima juta yang belum dikeramik itu atau tidak. Bagi mereka, membuat keputusan itu tidak boleh dilakukan dengan tergopoh-gopoh. Karena itu mereka berpikir dengan menggeleparkan diri di dalam kamar dengan Pandik sebagai instrukturnya. Pemilihan Pandik sebagai instruktur ini bukan tanpa alasan tapi didasarkan pada bentuk badan Pandik yang mirip ikan duyung. Dan hubungan antara pemilihan instruktur menggeleparkan diri dengan mirip ikan duyung, sampai saat ini masih terus menjadi misteri.

Sampai akhirnya pada suatu malam, di dalam kamar paviliun yang sudah tidak lagi nyaman untuk ditempati. Mereka kembali berdiskusi.

“Kalo gue sendiri sih oke.” Kata Ganggo.

“Kalo gue enggak oke. Rumahnya enggak terlalu gede. Rumah model kayak gitu udah banyak.” Edotz memberikan alasan.

“Gue juga enggak oke. Kayaknya buat parkir motor juga susah.” Kali ini giliran Pandik yang memberikan pendapat.

“Yak, udah jelas... gue enggak, Pandik enggak dan cuma Ganggo yang oke. Berarti keputusannya enggak! Sori banget ya Nggo. Coba lagi tahun depan!” Edotz mengambil kesimpulan. Nadanya persis kayak juri Indonesian Idol waktu lagi ngadain audisi.

“Berarti pencarian kita belum berakhir.” Ganggo berkata lirih sambil menatap langit-langit kamar. Kemudian terjadi hening yang panjang, masing-masing berpikir mau mencari kos atau kontrakan yang nyaman di mana lagi.

Memang mereka keliatannya gaya banget, padahal baru nyari kontrakan sekali tapi lagaknya udah sok pake gaya, “mau nyari di mana lagi.”
***
Di suatu siang yang cerah, saat Edotz sedang asik menjahit celana dalamnya yang berlubang di depan pintu kamar dan Pandik sedang terkapar gara-gara kepanasan di depan ruang tivi tanpa memakai kaos. Tiba-tiba Ganggo pulang, mukanya keliatan kasihan, dipadukan dengan efek ngenes, sedikit keringetan, dan yang paling menyedihkan, mukanya mendadak gelap dan pekat. Setelah diamati lebih jauh lagi, ternyata emang bentuk muka Ganggo yang kayak gitu, gelap dan pekat. Kadang jadi pekat hemat, kadang jadi pekat ekonomis.  Eh, itu paket dink.

Sambil melepas sepatunya yang berwarna krem, padahal dua tahun yang lalu masih berwarna putih. Ganggo membuka percakapan. “Heh, kalian berdua mesti denger, gue dapet berita bagus!”

“Apaan?” Edotz menjawab alakadarnya, masih fokus menjahit celana dalam.

Sedangkan Pandik tidak bereaksi, sepertinya dia terlalu kepanasan.

“Tadi ban motor Edotz kan bocor, terus gue tambal. Nah iseng-iseng gue coba tanya-tanya sama tukang tambal bannya masalah kontrakan. Dan dia ngasih rekomendasi yang MAHASISWABANGET! Bayangin aja, katanya gue mau ditunjukin kontrakan yang per tahunnya cuma tiga setengah juta! GILA GAK TUH! Tapi katanya sih tempatnya agak jauh.” Ganggo bercerita antusias sambil membuka kancing bajunya satu per satu.

“HAH?! Kayak apa bentuknya tuh tiga setengah juta! Berapa kamarnya?!” Edotz terlihat sangsi.

“Halah.. jangan-jangan atapnya dari jerami. Lantainya dari tanah. Sekalian aja pake tenda. Kita tinggal pakai seragam pramuka.” Pandik jauh lebih sangsi.

“Ya terserah kalian aja, katanya sih kamarnya dua. Kalo mau besok kita liat bareng-bareng aja. Kalo sampe rumahnya bagus kan lumayan, kita bisa hidup nyaman... harga murah dan gak akan ada gangguan dari ibughost lagi.” Ganggo memantapkan Edotz dan Pandik.

“Boleh juga sih.. Oke, besok kita liat, bener kata Ganggo--siapa tau tempatnya ternyata nyaman. Kita jadi enggak akan kepanasan lagi tiap siang.” Edotz mulai berkhayal.

“Dan kita enggak perlu khawatir jemur tiga handuk berjejeran.” Pandik tersenyum.

Lalu mereka bertiga kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Terlukis sedikit senyuman di bibir Edotz, Pandik dan Ganggo akan bayangan kontrakan tiga setengah juta yang benar-benar mengusik mental mahasiswa mereka. 

Selesai menjahit celana dalam. Edotz memasak dua bungkus mie instant untuk mereka bertiga dengan porsi kuah full sepanci. Iya, karena kalo pake mangkok, kuahnya enggak bisa maksimal, maka Edotz memasak mie instant dan menghidangkannya menggunakan panci. Mereka bertiga makan sangat lahap dan terlihat sangat akrab. Mereka saling berbagi dengan ceria. Berbagi kuah, berbagi mie dan berbagi aroma keringat. 


***

Keesekoan harinya, sekitar pukul sepuluh. Edotz, Ganggo dan Pandik udah siap untuk menuju ke kontrakan senilai tiga setengah juta rupiah. Kebetulan memang saat itu mereka enggak ada jam kuliah. Setelah menjemput tukang tambal ban, mereka melaju dengan santai diiringi bayangan kontrakan murah yang bisa bikin mereka ngirit dengan damai. 

‘Nah, ini mas rumahnya.” Kata Tukang tambal bannya. “Bentar ya, saya panggilkan pemilik rumahnya dulu.”
Edotz, Ganggo dan Pandik saling bertatapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Mereka kini sedang berada di sebuah pemukiman kumuh. Di sekitar mereka banyak rumah penduduk yang di terasnya banyak bertumpuk barang-barang bekas. Bahasa kasarnya, sampah-sampah yang masih layak dikumpulkan. Bangunan semi permanen yang terbuat dari kayu mengelilingi mereka, sebagian atapnya dari seng, sebagiannya lagi ada yang enggak ada atapnya. Ternyata, itu toilet yang biasa dipakai bersama dengan fasilitas sumur berbonus katrol buat naik turunin ember.

 Kurang lebih ilustrasinya seperti gambar di atas, enggak terlalu beda jauh.

Entah apa yang ada di pikiran tukang tambal ban, sampai menunjukkan tempat yang enggak sehat ini pada ketiga mahasiswa unyu yang ada di depannya. Mungkin yang ada dalam pikiran tukang tambal ban waktu itu, wajah Ganggo yang dekil saat nambal ban kemarin siang, dikiranya tukang pungut sampah. Ini semua gara-gara wajah Ganggo seorang.

“Silakan mas kalo mau diliat-liat dulu, ini bapaknya yang punya rumah.” Kata tukang tambal sambil mempersilakan masuk.

Edotz, Ganggo dan Pandik masuk dengan sungkan ke dalam rumah yang bisa dikatakan paling bagus di antara rumah di sekitarnya. Sebagian terbuat dari tembok, sebagian lainnya terbuat dari kayu dan atapnya udah terbuat dari genteng walaupun belum dipakein ternit.

“Ini kamarnya mas, memang agak gelap, tapi kalo dipasangin lampu nanti terang.” Kata Bapak pemilik rumah yang sudah cukup tua dan rambutnya mulai banyak memutih. Penjelasannya luar biasa, Edotz baru tau ternyata kamar yang gelap kalo dipasangin lampu jadi terang.

Mereka bertiga hanya manggut-manggut dan saling berpandangan.

“Kalau toiletnya di mana Pak?” Edotz menanykan hal yang penting.

“Oh, di sebelah sini Mas.” Kata bapak sambil menuju pintu kecil yang ada di seberang kamar. “Nanti kalo udah dibersihkan jadi nyaman. Kalo airnya enggak ada, bisa pakai sumur yang ini. Tinggal dibeliin katrol Mas.” Bapak pemilik rumah melanjutkan penjelasannya. Lagi-lagi penjelasan yang luar biasa dan bikin Edotz terpukau. Ternyata, toilet kalo dibersihkan jadinya nyaman. 

Edotz, Ganggo dan Pandik kembali manggut-manggut dan saling berpandangan. Sepertinya mereka punya pikiran yang sama.

Mereka kembali berputar mengelilingi rumah. Kalo diliat-liat, rumahnya memang besar, lebih besar dari ekspektasi mereka bertiga. Bahkan teras rumahnya juga terlihat luas, tapi sayangnya lantainya masih terbuat dari semen, belum berkeramik. Ditambah tanah di sekitar rumah belum disemen atau dilapisi paving. Mereka sudah membayangkan, kalo hujan pasti bakal jadi masalah besar, seenggaknya lumpur bakalan nempel di motor, sandal dan seluruh tubuh mereka. Yang terakhir itu bisa saja terjadi kalo mereka pulang menuju rumah sambil guling-guling dari ujung jalan.

“Kayaknya cukup dulu deh Pak, nanti kita bicarakan bareng-bareng dulu jadi apa enggaknya. Oh iya, kami boleh minta nomernya bapak? Biar mudah menghubunginya.” Kata Pandik sambil kembali saling berpandangan dengan Edotz dan Ganggo.

Sesampainya di kos...

“ANJRIT! Parah banget rumanhya! Gue sih dibayarin juga ogah kali nginep disitu.” Edotz mengungkapkan ketidakpuasannya.

“Gue juga males! Bayangin aja, ternyata kita dibawa ke pemukiman kumuh. Bukannya menghina ya, itu kayaknya komplek rumah pemulung atau pencari barang bekas gitu. Hiiih....”  Kali ini Pandik yang bersuara.
“Gue juga gak nyangka bakalan separah itu.” Ganggo terlihat pasrah.

Mereka keliatan masih shock. Sepertinya tidak ada hasrat dalam diri mereka masing-masing untuk kembali ke rumah tiga setengah juta per tahun tersebut. Mereka seakan trauma, sepertinya mereka perlu minum Kiranti untuk menghilangkan trauma mereka yang parah.

Ternyata, mencari kontrakan yang nyaman dan sesuai harapan itu enggak semudah nempelin pembalut di kening kalo lagi demam. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan untuk memutuskan iya atau enggaknya menempati sebuah rumah. Mereka bertiga enggak mau gegabah.. karena mereka telah belajar dari pengalaman Edotz yang sebelumnya telah gagal dalam mengambil keputusan dalam mengontrak sebuah rumah. 

Kegagalan Edotz itu terjadi tepat sebelum Pandik, Edotz dan Ganggo menyewa paviliun yang sedang ditempatinya saat ini. 

Dan hari itu, mereka kembali mengheningkan cipta. Akan kemana lagi mereka mencari kontrakan yang bisa memberikan kenyamanan secara lahir dan batin? Dan... kegagalan seperti apakah yang pernah dialami oleh Edotz sampai Pandik dan Ganggo jadi begitu selektif dalam menentukan kontrakan untuk mereka tempati.
Nantikan kelanjutannya...

Kalian boleh kemana-mana dulu! Karena ceritanya akan dilanjutkan kapan-kapan. Kalo yang nulis lagi mood, lagi bahagia, dan tentunya lagi berhasrat buat nerusin kelanjutan cerita ini. Sebuah CerPan.. cerita kapan-kapan akan balik lagi, entah kapan.

sumber gambar: disini

Kamis, November 07, 2013

The Three Mahasiswa's Part 1

November 07, 2013
Tiga tahun lamanya gue hidup bareng temen-temen di kontrakan yang kami namakan Tugiran Community. Asal usul dari nama tersebut sebenarnya cukup sederhana. Pemiliknya bernama Pak Tugiran. Buat gue, itu adalah nama yang cukup keren, karena terlihat masih begitu kental unsur kedaerahannya. Dengan inisiatif yang seadanya kami pun menambahkan kata community di depannya untuk menyempurnakan kekerenannya. Sempet sih, mau menambahkan kata ‘D’, jadinya nanti D’ Tugiran. Tapi niat itu gue urungkan karena gue enggak mau dianggap mengekor D’ Bagindas.

Gue mau cerita.. mungkin sedikit, mungkin berbelit-belit. Ini cerita tentang gimana akhirnya gue bisa ngedapetin kontrakan Pak Tugiran yang harganya 12 juta per tahunnya. Yak, ini adalah sebuah catatan perjalanan tiga mahasiswa yang mencari kontrakan yang layak untuk dihuni.

Begini ceritanya:

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang mahasiswa berparas biasa-biasa saja. Ganteng enggak, jelek pun enggak. Dengan penuh ketulusan, mahasiswa ini hidup mandiri. Ngupil sendiri, cebok sendiri, pake celana dalem pun sendiri. Semua dilakukannya sendiri tanpa mau merepotkan orang lain, orang-orang memanggilnya dengan nama Edotz.

Edotz hidup dalam sebuah paviliun kecil bersama kedua orang temannya. Yang satu, berkulit hitam dan bisa dikatakan legam dengan perawakan kurus kering kering. Iya, memang seperti bunyi telepon aja kering-kering, dia dipanggil Ganggo. Satunya lagi, laki-laki, bertubuh gempal, bernapas pendek dan mudah berkeringat. Untuk lebih memudahkan imajinasi kalian, lihat saja Pepi yang ada di acara bukan empat mata. Penampakannya enggak beda jauh seperti itu.



Edotz, Ganggo dan Pandik hidup bahagia di paviliun tempat dia tinggal. Masa-masa kuliahnya dilalui dengan penuh warna, penuh airmata, dan penuh sesak. Semua itu mengajarkan kepada mereka pentingnya arti dari sebuah pengiritan. Di tempat ini pulalah, Edotz mempelajari skill memasak mie instant-nya secara otodidak. Tidak ada yang pernah tahu, bertahun-tahun setelahnya Edotz akan menjelma menjadi seorang masterchef spesialis mie instant. 

Edotz bisa memasak mie instant dengan teknik-teknik brilian, seperti misal merebus mie instant selama tiga puluh menit untuk mendapatkan ukuran mie instan yang semakin lebar. Edotz juga bisa memasak mie instant selama dua jam untuk merubah mie instant menjadi bubur mie instant. Resep-resepnya juga luar biasa, Edotz sering memvariasikan mie instant yang sederhana dengan campuran upil segar dan gorengan sisa semalam. Konon katanya, Edotz menemukan resep-resep juara ini selalu diakhir bulan.

Paviliun kecil itu memang diibaratkan seperti sebuah padepokan di mana mereka mendapat banyak pelajaran berharga dalam hidup. Pelajaran tentang indahnya hidup dalam satu ranjang dengan sesama jenis, juga pelajaran tentang bagaimana cara memandang tubuh laki-laki tanpa rasa horny.

  
Temen gue, Pandik, agak berbahaya.
Sebagai laki-laki, gue merasa kotor akibat perbuatannya...

Sampai akhirnya semua berubah, ketika negara api menyerang. Pimpinan negara api yang bernama Ibughost, tapi di KTP-nya tertulis ibukos, waktu itu berkunjung ke paviliun dan heran dengan adanya tiga buah handuk yang terjemur tidak rapi di sebelah paviliun miliknya. Merasa ada yang tidak beres, ibukos pun mengkroscek keberadaan penghuni paviliun tersebut.

“Kisanak! Berapa anak yang menghuni paviliun ini?” Ibukos bertanya kepada Ganggo dengan mata yang sangat menusuk secara tiba-tiba. Seandainya Ibukos ini laki-laki, Ganggo pasti akan menutupi pantatnya dengan kedua tangan untuk melindunginya dari tatapan yang sangat menusuk.

“Eeee.. ten..ten..tentu saja paviliun ini dihuni oleh dua orang nyonya.” Ganggo menjawab dengan ragu-ragu.

“Benarkah itu?!” Ibukos memicingkan matanya menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya percaya. “Lalu, kenapa jumlah handuk di depan ada tiga? Jangan-jangan kamu menempati paviliun ini untuk bertiga ya?! Jujur!”

“Maaf nyonya, hal itu tidak mungkin saya lakukan. Handuk saya memang ada dua, walaupun tidak rupa-rupa warnanya.”

“Ah bullshit! Awas kalo nanti ketahuan penghuninya lebih dari dua orang! Kalian harus menambah upeti untuk saya!”

Ibukos itu pun pergi meninggalkan Ganggo yang udah mulai bergetar kakinya menahan boker. Setelah situasi dirasa cukup aman, muncullah Edotz dan Pandik dari dalam kamar dengan penuh rasa khawatir.

“Parah! Tempat ini sudah tidak lagi aman! Kita harus secepatnya pergi meninggalkan tempat ini!” Pandik mulai khawatir.

“Iya, lagipula ini salah kita juga, waktu mau ngekos bilangnya mau dipakai cuma buat dua orang.” Edotz menimpali.

“Bukan itu, kita kan sengaja mau ngirit. Ongkos sewa paviliun per bulan yang udah murah ini kita bayar dengan patungan bertiga. Lagipula memang awalnya Ibukos bilang paviliun ini cuma boleh ditempati dua orang. Kalo kebanyakan orang dia takut tempatnya jadi cepat rusak. Memang Ibukosnya aja yang pelit!” Ganggo menjelaskan dengan keadaan masih gemetaran.

“Lalu, sekarang kita harus bagaimana? Kita tidak mungkin main petak umpet begini terus.. kita harus mencari tempat baru yang lebih nyaman dan tanpa tekanan seperti ini.”

“Kita cari kontrakan saja. Nanti malam kita akan mencarinya” Kata Pandik mantap.

Malamnya, Edotz, Ganggo dan Pandik sudah siap dengan kudanya masing-masing (baca:motor). Mereka bertiga berjalan pelan sambil melihat keadaan-keadaan di sekitar untuk mencari tempat tinggal baru yang lebih nyaman. Mereka bertanya kepada masyarakat sekitar untuk mendapatkan informasi yang bisa diperoleh. Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah kosong yang ada tulisan “DIKONTRAKAN”. Perjalanan mereka malam itu berakhir setelah Pandik mencatat nomor telepon yang tertera di bawah tulisan “DIKONTRAKAN”. Sepertinya perjalanan mereka begitu cepat,  ya. Jadi enggak seru, nih.

Keesokan harinya, saat matahari bersinar terlalu pijar. Pandik, Edotz dan Ganggo udah siap buat mendatangi tempat kontrakan semalem. Mereka udah janjian buat melihat kondisi calon padepokan mereka yang baru. Harapannya sih, mereka bisa cocok dengan padepokan tersebut dan juga yang terpenting cocok dengan harganya.

“Silakan dilihat dulu, Nak” Kata Bapak pemilik kontrakan sambil membuka pintunya. 

Pertama kali mereka melangkahkan kaki masuk, tiba-tiba tercium aroma busuk yang sangat menyengat namun terasa tidak asing. Ternyata, Ganggo kentut tanpa bersuara. Hal ini diketahui setelah Pandik mencium satu per satu pantat teman-temannya untuk mencari kebenaran yang ada.

“Ini kamarnya cuma dua ya Pak?” Kata Ganggo sambil melongok salah satu kamar yang berada di belakang. Sebenarnya tanpa ditanya pun, seharusnya Ganggo tahu, kalau padepokan ini kamarnya cuma dua.

“Seperti yang kalian lihat, Nak” 

“Mmmm.. ini memang gak ada keramiknya ya Pak rumahnya?” Edotz menanyakan hal yang cukup berbobot.

“Nah.. itulah Nak. Kalau nanti kisanak jadi mengontrak padepokan ini. Uangnya rencana mau dipakai buat pasang keramik, jadi setelah kisanak masuk kesini, rumah ini udah berkeramik. Tenang saja.”

“Oh gitu... berapa ini Pak kira-kira setahunnya?” Ganggo kali ini mengajukan pertanyaan yang bagus.

“Lima juta Nak, per tahunnya.” Kata Bapak mantap.

Mereka bertiga pura-pura manggut-manggut padahal sebenarnya mencium aroma busuk lagi untuk kedua kalinya. Kali ini baunya agak sedikit berbeda.

“Maaf Nak, bau banget ya? Bapak tadi kentut.” 

“...”

Setelah percakapan yang diwarnai aroma kentut itu. Mereka bertiga meminta waktu kepada  bapak pemilik kontrakan untuk mendiskusikan permasalahan ini dulu. Deal atau enggaknya. Malam itu, dalam perjalanan pulang mereka saling diam. Memikirkan untung ruginya untuk menyewa padepokan disitu.

Bersambung....

Akankah Edotz, Pandik dan Ganggo jadi menyewa padepokan senilai lima juta tersebut? Atau mereka akhirnya diusir dari paviliuannya karena dianggap kelebihan muatan oleh ibughost? Lalu mereka akhirnya tidur di gorong-gorong jembatan? Semua masih bisa saja terjadi.

Ikuti perjalanan mereka bertiga yang enggak tahu kapan kelanjutannya bakalan dibuatin lagi. Namanya juga CerPan, artinya ya.. cerita kapan-kapan. Nongolnya gak bisa ditebak. kapan-kapan, mungkin...

Wes,pokoknya nantikan episode selanjutnya!!!

About Us

DiaryTeacher Keder

Blog personal Edot Herjunot yang menceritakan keresahannya sebagai guru SD. Mulai dari cerita ajaib, absurd sampai yang biasa-biasa saja. Sesekali juga suka nulis hal yang nggak penting.




Labels

Random

randomposts