Review Novel Kuyang - Horor Asli Kalimantan

Selasa, November 15, 2022



Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke Gramedia di Rita Mall Tegal, iseng lihat-lihat buku horor terbaru yang kelihatannya menarik. Walaupun ya, sebenernya di rumah juga masih banyak buku horor yang belum dibaca.

Biasanya kalau saya nemu judul yang menarik, saya suka foto-fotoin sampul depannya. Begitu nanti udah di rumah baru deh saya buka marketplace nyari judul buku tadi dengan harga paling realistis. Maklum aja sih, harga buku di Gramedia hampir nggak pernah ada diskon, karena saya juga nggak buru-buru banget pengen baca bukunya, saya lebih milih sabar dikit beli di marketplace biar ngirit dikit.

Salah satu buku yang menarik perhatian saya sore itu adalah buku yang judulnya Kuyang karya Achmad Benbella, terbitan Gagas Media. Sebenernya sih saya udah sering liat buku ini riwa-riwi di marketplace atau Instagram, tapi waktu itu belum tertarik aja buat beli. Setelah membaca satu bab di Gramedia Rita Mall Tegal karena kebetulan ada buku yang udah nggak diplastikin, saya mantap buat meminang buku ini lewat Shopee.

Setelah nunggu selama tiga hari, buku Kuyang ini akhirnya sampai juga di rumah. Kalau biasanya saya nunda-nunda buat baca buku yang dateng, kali ini saya langsung khusyu baca novel Kuyang ini.

Berikut data & blurb novel Kuyang:

Berat buku: 300 gram

Ukuran: 14 x 20 cm

Halaman : 308 hlm

 Tanggal terbit : 26 Januari 2022

Penerbit : Gagas Media


BLURB

“Tipuan terhebat iblis adalah saat kau percaya ia tidak ada.”

Kata-kata itu terngiang terus di benak Bimo. Ia tak bisa lagi mengelak, keputusannya untuk mengubah nasib ke Desa Muara Tapah adalah hal yang akan ia sesali seumur hidup. Kini, ia harus menghadapi kenyataan, makhluk yang bersekutu dengan iblis sedang mengincar istri dan calon anaknya.

Ada banyak sesal tertumpuk dalam hatinya. Ia juga tak bisa lagi memutuskan siapa yang layak dipercaya. Pak Kasno dan Pak Tingen, teman mengajarnya? Pak Sekdes dan istrinya? Atau dukun beranak yang selama ini membantu istrinya? Bagi Bimo semua mengabur dan meresahkan. Ia hanya memiliki sang istri yang sedang hamil di desa ini, dan itulah yang hendak dirampas.

Iblis dengan kepala tanpa tubuh melayang-layang terus terbayang dalam ingatan Bimo. Di sela seringainya, ia memamerkan kaki bayi yang ada di mulutnya bersimbah darah. Bimo tahu, jika ia terlambat bertindak, istri dan calon anaknya akan bernasib sama. Ia menyusun berbagai rencana di kepala. Tak boleh ada yang merenggut istri dan calon anaknya.

Satu yang tak ia sadari; makhluk yang bersekutu dengan iblis itu selalu mengintai dari balik tirai!

🔥🔥

Buku ini bercerita tentang Bimo, seorang guru olahraga asal Sleman yang keterima CPNS di sebuah desa pedalaman Kalimantan. Bimo mau nggak mau ambil peluang ini meskipun harus ditempatkan di Kalimantan karena Bimo pengen memperbaiki kualitas hidupnya, mengingat selama ini Bimo udah lelah merasakan jadi guru honorer yang digaji dengan alakadarnya.

Cerita Bimo ini relate banget buat saya yang sama-sama jadi guru. Saya juga dulu sempat kepikiran rela buat ditempatin di mana aja bebas deh, asal bisa lulus jadi PNS. Walaupun nyatanya setelah jadi PNS di kota sendiri, kadang mau berangkat kerja aja rasanya males, apalagi jadi PNS di luar kota jauh yang banget dari rumah sendiri. Bisa-bisa tiap malem nangis kangen sama orang rumah.

Bimo akhirnya berangkat ke Kalimantan bareng sama istrinya, Sriatun. Sri memaksa untuk ikut merantau karena lelah dengan ocehan mertua dan khawatir kalau Bimo bakal macem-macem di tanah perantauan.

Membayangkan ribetnya jalan yang harus ditempuh Bimo dan Sri buat sampai ke sekolah yang dituju, saya jadi putus asa sendiri kalau hal itu terjadi pada saya. Menempuh perjalanan berjam-jam dari Jawa ke Kalimantan, begitu sampai Kalimantan mesti naik travel lagi membelah hutan sepanjang malam, begitu sampai dermaga, masih harus melanjutkan perjalanan lagi dengan perahu sekitar lima jam buat sampai ke desa Muara Tapah.

Tragisnya lagi, begitu sampai di desa, keadannya sangat sepi sekali, bahkan tidak ada sinyal sama sekali. Udah gitu, warga desa yang hampir nggak ada anak kecilnya ini juga sepertinya tidak terlalu suka dengan kehadiran Bimo dan Sri.

Cukup lama berjalan kaki melewati desa yang sepi, mereka akhirnya berhasil sampai di sekolah tujuan setelah di tengah perjalanan mereka diantar oleh seorang kakek yang ditemuinya tanpa sengaja bernama Bue Alang. Di desa ini Bimo dan Sri menempati rumah dinas SD di sebelah rumah kepala sekolah bernama Pak Kusno.

Besoknya, Bimo mulai diperkenalkan sebagai guru baru untuk ngajar di hadapan tujuh siswa SD sekolah tersebut. Iya, satu sekolah siswanya cuma tujuh, bukan satu kelas. Istrinya, Sri juga dapat kesempatan jadi guru honorer di SD ini buat ngajar bahasa inggris. Dan nggak butuh waktu lama untuk merasakan teror pertama, Bimo dan Sri langsung mendapati salah satu muridnya bernama Mayang kesurupan sampai naik ke atap sekolah, lebih sadisnya lagi Mayang sempat makan tikus yang membuat darah tikus berceceran kemana-mana.

Melihat kejadian yang menyeramkan ini, Pak Kusno sebagai kepala sekolah mengajak Bimo dan Sri untuk laporan ke rumah Pak Kades yang rumahnya cukup jauh dari sekolah. Mereka harus berjalan masuk ke dalam hutan untuk bisa sampai ke rumah Pak Kades.

Setelah melalui beberapa hal mistis di dalam hutan, mereka akhirnya sampai di rumah Pak Kades, yang ngerinya mereka tiba-tiba mendapat ‘serangan’ entah dari siapa berupa angin kencang yang berhasil membuat bangunan di sekitar rumah Pak Kades runtuh seketika. Beruntung, disitu ada Mina Uwe, seorang perempuan yang sudah cukup berumur, berhasil menghalau serangan angin ribut itu meskipun dengan kewalahan.

Mina Uwe pula yang akhirnya mengetahui kalau Sri ternyata sedang hamil dan perlu mendapat perlindungan dari incaran teror Kuyang.

Hari-hari selanjutnya dapat dipastikan hidup Bimo dan Sri jadi tidak tenang, penuh dengan teror hantu yang bikin mental ngedrop. Bahkan Sri yang tadinya percaya diri mau mendampingi Bimo di Kalimantan, akhirnya merengek minta pulang saking ‘berbahaya’-nya daerah Kalimantan ini.

Setelah mengetahui kalau Sri ternyata hamil, mereka mulai dincar hantu Kuyang yang ingin merebut janin. Hingga di suatu malam, sebuah kejadian di rumah Bimo membuat gempar seisi desa yang terpaksa membuat mereka harus memasuki hutan.

Pada akhirnya, siapa sosok yang menjelma menjadi kuyang ini benar-benar membuat Bimo dan warga desa lainnya terkejut.

Setelah menyelesaikan halaman terakhir, saya mantap memberi nilai bintang lima untuk novel ini. Gaya berceritanya asyik untuk dinikmati, penulisnya bisa membuat deskripsi horor yang pas, membuat saya ikut membayangkan betapa seramnya desa di Kalimantan ini.

Mengingat penulisnya yang memang asli Kalimantan, memang terlihat penulis memiliki wawasan yang luas tentang seluk beluk Kalimantan ini.

Buku ini juga sangat sedikit typo-nya, tidak ada plot hole yang membuat saya ‘memprotes’ alur ceritanya. Semuanya pas, dari bab pertama sampai terakhir semuanya menjadi satu cerita yang padu.

Jadi, buat yang lagi bingung cari bacaan horor yang tidak mengecewakan, buku ini sepertinya pas banget buat dibaca.

You Might Also Like

1 Komentar

  1. Halo, Bang Edotz. Masih aktif nge-blog ternyata 🥳

    Wah, menarik nih ceritanya kalo dijadiin film. Dulu aku pernah penasaran banget sama kuyang sampe nyari artikel dan nonton videonya di YT.

    BalasHapus

Tanya Aja, Sini...

Nama

Email *

Pesan *

Like us on Facebook

Subscribe