Suatu Hari, CPNS 2014 di Kota Pati

Jumat, Februari 12, 2021


Saya pertama kali ngerasain deg-degannya ikut tes CPNS waktu itu tahun 2014. Saya baru beberapa bulan jadi guru wiyata bhakti dengan gaji setara mengheningkan cipta, dan saya belum ada setahun lulus jadi sarjana.

Sebenarnya alam bawah sadar saya telah memvonis kalau jadi CPNS itu sebuah ujian hidup yang paling berat. Tingkat kesulitannya setara dengan makan tujuh permen milkita sambil berjalan di atas jembatan Shiratal Mustaqim.

Membayangkan harus mengerjakan seratus soal dengan berbagai ‘genre’ dalam waktu hanya sembilan puluh menit ditambah harus bersaing dengan berbagai macam lulusan S1 sejenis dari berbagai macam kampus yang kebanyakan lebih ternama dan menjanjikan. Itu semuanya bener-bener membuat saya stres. Saya udah kalah mental dulu sebelum bertanding.

Waktu itu, sistem seleksi CPNS belum ada tes SKB, Seleksi Kompetensi Bidang. Tes kedua yang harus dijalani setelah lulus tes Seleksi Kompetensi Dasar sesuai dengan bidang pilihan formasinya masing-masing. Waktu itu juga formasinya masih keseluruhan, jadi kalau ada formasi 70 guru SD. Tujuh puluh formasi itu diperebutkan oleh semua pendaftar formasi guru SD.

Beda dengan sekarang, yang formasinya udah ‘dipecah’ per sekolah, jadi misal daftar CPNS saingannya hanya dari pendaftar di sekolah yang sama.

Setelah info seleksi mulai menyebar ke segala penjuru, saya mulai mengamati satu per satu formasi PGSD di tiap kota. Kota Pemalang, tempat saya tinggal, nggak ada formasi sama sekali. Mau nggak mau saya harus mencari formasi di kota-kota tetangga, yang sayangnya jumlah formasinya minim, rata-rata nggak ada sepuluh. Jelas mental saya nggak sanggup harus bersaing dengan ‘entah’ puluhan atau ratusan pendaftar lainnya hanya untuk memperebutkan jumlah formasi yang nggak seberapa.

Setelah berkeliling dari satu kota ke kota lainnya, pilihan saya akhirnya jatuh ke kota Pati yang buka formasi kalau nggak salah sampai 72 formasi. Peluang yang cukup besar dibandingkan dengan kota lain.

Dengan kemampuan berpikir saya yang alakadarnya, saya merasa sedikit ada harapan, iya sedikit, untuk bisa mencoba peruntungan lulus CPNS di kota Pati.

Saya pun mulai mengurus berkas-berkas buat daftar yang ternyata cukup melelahkan. Karena masih dalam euforia pendaftaran CPNS. Kantor kelurahan, kecamatan sampai Disdukcapil semuanya penuh sesak sama pejuang NIP. Datang pagi pulangnya bisa sampai sore. Setelah bolak-balik mengurus berkas pendaftaran, saya pun resmi mengirim berkas lewat kantor POS dengan tujuan kantor BKD Pati.

Persoalan selanjutnya adalah bagaimana cara saya menginjakkan kaki di Pati saat tes CPNS nanti? Saya benar-benar buta tentang kota Pati. Sementara selama ini saya terdidik hidup dengan damai, sejak kecil jarang banget bepergian kemana-mana naik bus.

Saya juga orangnya pemalu, membayangkan harus berdiri di pinggir jalan buat nyetop bus yang lewat aja saya grogi. Apalagi pas udah duduk di dalam bus, terus harus berdiri mendekat ke pintu bus pas mau turun dan mesti teriak “kiri!”, ah... saya minder banget.

Mau naik motor sendirian, saya juga orangnya gampang keder kalau di jalan. Belum perasaan grogi yang nggak bisa hilang kalau sewaktu-waktu harus berpapasan dengan polisi kota lain. Saya was-was, khawatir tiba-tiba dipepet terus ditanyain, “Siapa Tuhanmu?!”

Solusi lainnya adalah ngajak teman berangkat bareng yang juga sama-sama daftar CPNS di kota Pati. Sayangnya, nihil. Teman sekota dan tetangga kota nggak ada yang daftar di Pati. Saya mulai menyesali keputusan mendaftar di kota Pati sekaligus menyesali betapa cemennya mental diri sendiri, baru mau berangkat tes di kota yang masih sama-sama Jawa Tengah aja kebingungan.

Otak saya terus menscreening nama-nama yang sekiranya bisa dijadiin teman buat berangkat ke Pati. Meskipun nggak daftar di sana, setidaknya ada yang mau diajak buat nemenin berangkat ke sana.

Sampai akhirnya, satu nama terpikir dalam benak saya, Dadang. Teman seangkatan beda jurusan di kampus. Pernah bareng di BEM Institut, dan pernah bareng ikutan lomba Stand Up Comedy yang diadain Mirai Ocha, dan kita-kita sama dapet juara di kampus sendiri.

Lelaki yang mirip Ki Joko Bodo waktu remaja ini juga sepertinya nggak sibuk-sibuk banget. Udah gitu, rumahnya juga nggak jauh-jauh banget. Saya di Pemalang, Dadang di Batang. 

Dengan penuh harap, saya pun mulai nyepik Dadang buat nemenin tes CPNS di kota Pati. Ternyata, tanpa jual mahal sedikit pun Dadang langsung mengiyakan ajakan saya. Dia hanya meminta buku saya yang Lelaki Gagal Gaul sebagai imbalannya. Ya... semudah itu~

Beberapa hari kemudian, setelah ketemuan di Semarang. Saya udah duduk di atas motornya Dadang dalam perjalanan menuju kota Pati. Nggak nyangka, bahkan Dadang memfasiitasi motornya dipakai buat jalan. Takjubnya lagi, Dadang ternyata menguasai rute perjalanan dari Semarang ke Pati.

Dadang benar-benar menjelma seperti malaikat yang dikirim JNE buat saya. Semoga Dadang melakukan kebaikan ini bukan karena cinta.

Kami sampai di Pati sekitar habis maghrib. Kami mencari lokasi tes dulu biar besok nggak gugup, setelah itu baru lanjut makan. Lalu destinasi berikutnya adalah mencari kos-kosan harian di sekitar lokasi tes.

Nyatanya, setelah muter-muter kesana kemari, yang terjadi adalah kos-kosan udah penuh dan nggak ada lagi rekomendasi kos-kosan yang dapat kami temui. Sementara hari udah mulai malam, badan udah mulai pegel karena perjalanan yang panjang dan sempat kehujanan juga. Saya khawatir besok pas tes jadi malah meriang dan nggak fokus.

Akhirnya, setelah mempertimbangkan berbagai macam kemungkinan, yang sebenarnya hanya ada dua. Antara tidur di masjid atau pom bensin. Kami pun sepakat untuk tidur di pom bensin. Sungguh tempat tidur yang nyaman sekali buat seseorang yang besok harus bertarung menghadapi ujian negara.

Setelah sampai di sebuah pom bensin pinggir jalan, kami mulai bersih-bersih diri. Lalu tiduran pasrah di sebuah musala kecil pakai tas yang dijadiin bantal. Sementara hari semakin malam, saya masih belum bisa memejamkan mata. Khawatir bakal ada orang iseng yang tiba-tiba dateng lalu ngambil barang pas lagi enak-enak tidur. Walaupun kayaknya tidurnya nggak bakalan enak sih.

Seolah memahami keresahan saya, Dadang tiba-tiba berkata, “Uwis Dot raksah khawatir, tinggal turu wae rapopo, persiapan nggo tes ngesok. Barang-barangmu aku sing jogo, aku ora turu, kalem”.

(Udah Dot, nggak usah khawatir, tinggal tidur saja, persiapan buat tes besok. Barang-barangmu aku yang jagain, aku nggak tidur, tenang.)

Ya Allah... Dadang So sweet banget, sambil mengangguk malu saya pun berusaha keras untuk tidur dengan alas lantai yang keras.

Lewat tengah malam, sayup-sayup saya mendengar ada suara beberapa motor berhenti. Kemudian ada beberapa laki-laki ikutan duduk di musala. Entah ada berapa orang, yang jelas lebih dari satu. Orang-orang ini kemudian ngajak ngobrol Dadang, tanya dari mana, kenapa pada tidur disini dan entah pertanyaan apa lagi saya nggak ingat. Sepertinya lumayan lama, mereka ngobrol.

Besoknya, Dadang cerita kalau sepertinya orang-orang semalem ada niat yang nggak beres. Matanya jelalatan ngamatin tas saya dan Dadang yang sebenernya isinya nggak berharga-berharga banget. Paling cuma sempak buat besok buat tes yang cukup berharga karena tinggal satu-satunya.

Untungnya, Dadang masih kuat melek, jadi aman. Walaupun kalau mereka terpaksa harus melakukan kekerasan dalam waktu satu detik kami udah nangis-nangis mohon ampun. Ya, mungkin mereka mengurungkan niat karena mengira Dadang beneran Ki Joko Bodo.

Paginya, saya mandi di pom bensin, pakai seragam putih hitam, lalu berangkat mampir buat sarapan dengan hambar di pinggir jalan, rasanya udah deg-degan nggak karuan banget, bahkan saya sampai ngerasa mules lagi, tapi terus saya sugesti kalau rasa mules ini hanya sesuatu yang fana.

Setelah sampai di lokasi tes, diiringi mengucap bismillah saya melangkah pasrah dengan rasa pesimis masuk ke tempat antri peserta CPNS. Dadang dengan senang hati membawakan tas saya, tak lupa berbisik good luck yang membuat saya semakin makin mules. Dalam hati saya merasa beruntung punya partner sepengertian Dadang disaat-saat seperti ini.

Sembilan puluh menit saya lalui dengan keringat deras dan deg-degan ekstrim. Meskipun tangan mendadak tremor, saya bisa menyelesaikan soal sebelum waktu habis. Tapi, tetap aja saya lebih memilih sampai waktu habis dengan sendirinya. Kemudian saya memejamkan mata, lalu mengintip layar monitor was-was melihat hasil nilai yang tertera.

352.

Dari nilai maksimal 500.

Wooow... nilai yang sangat alhamdulillah buat saya. Saya bangkit dari kursi tes dan melangkah dengan penuh kelegaan. Setelah menenangkan diri untuk beberapa saat, kami langsung pulang menuju Semarang.

Di perjalanan, ban motor Dadang sempat bocor yang membuat kami oleng mendadak di tengah jalan, untung di belakang nggak ada becak yang melaju dengan kencang. Dadang segera menepi dan sempat mau niup ban motornya pakai mulut, tapi saya cegah karena nggak tega. Beruntung, nggak harus dorong motor sampai berkilo-kilo, beberapa meter di depan ada tukang tambal ban seolah udah tahu banget bakalan ada motor bocor di sekitar sini.

Setelah menunggu sekitar satu jam, kami melanjutkan perjalanan dengan lancar tanpa kendala sampai Semarang. Lalu, saya mengucap terimakasih ke Dadang, kami pun berpisah lagi untuk melanjutkan jalan hidup kami masing-masing.

Hari-hari selanjutnya, saya mulai deg-degan menunggu hasil pengumuman CPNS. Beruntung website BKD Kab. Pati update terus hasilnya setiap hari, saya bela-belain ngecek nama pendaftar CPNS formasi PGSD satu per satu tiap nilai tes udah diupload di web BKD Kab. Pati. Saya tahu nama-namanya karena semua nama peserta pendaftar CPNS di Pati ditampilkan di website BKD. Saya masih cukup punya harapan dengan nilai yang saya dapat.

Selama beberapa hari, nama saya masih bertahan di tujuh puluh besar, sampai akhirnya nama saya terlempar dari tujuh puluh besar dengan mulus. Har--hari berikutnya banyak juga pendaftar formasi PGSD yang dapat nilai gede-gede banget, saya mulai pesimis tapi tetap berharap keajaiban terjadi saat pengumuman CPNS nanti.

Hasilnya, tentu saja sesuai dugaan. Saya gagal, dan menempati peringkat seratus empat dari empat ribu lebih pendaftar formasi CPNS. Yang bikin nyesek adalah, selisih nilai saya dengan nilai orang yang ada di urutan terakhir lulus CPNS hanya sepuluh poin, hanya jarak dua soal yang saya salah kerjakan.

Kalau dilihat lagi, nilai yang saya dapat, seandainya saya daftarnya di kota Pekalongan, Batang, Kendal bahkan Semarang dan sekitarnya, saya masih bisa lolos CPNS dengan meyakinkan. Yaah... kenyataanya emang nyesek banget, tapi kalau dipikir-pikir mau nyesek terus tiap hari juga percuma, yang namanya belum rejeki ya mau bagaimanapun tetap saja belum rejeki.

Saya jadi ngebayangin bagaimana nyeseknya orang-orang yang nilainya sama dengan batas minimal lulus CPNS di kabupaten Pati, tapi harus kalah karena perhitungan bobot nilai sesuai aturan. Balik lagi sama yang namanya belum rejeki. Mau ditangisin sampai guling-guling di jalan raya bikinannya Daendels juga tetep nggak akan mengubah keadaan.

Sampai suatu hari, saya jadi bersyukur karena waktu itu, pada tahun 2014 saya gagal lolos CPNS di Kota Pati.

You Might Also Like

16 Upil

  1. Haloo mas.. Waah cukup menarik yaa ceritanya, perjuangan terjal dan penuh liku.. Ditunggu cerita slanjutnya..

    BalasHapus
  2. Akhirnya Edotz jadi PNS juga nggak ya? Kayak Hadi Kurniawan dan Rido Arbain. Ini temen blogger jadi PNS semua. 👍

    BalasHapus
  3. Wah, Mas, dulu berarti sainganku nih. Sama-sama nggak lolos. Wkwkwk

    BalasHapus
  4. PNS memang jadi rebutan sejak Indonesia merdeka...
    menarik ceritanya......
    Thank you for sharing

    BalasHapus
  5. Luar biasa bapak Edot ini memang, masih lucu aja wkwkwk.

    Sebenernya ada pilihan lain loh selain nginep di mushola atau hotel kuda laut. Bisa nyoba ke kantor polisi, setahu gue nggak papa nginep di sana. Tapi takutnya besok pagi bukannya ikut tes CPNS malah sidang perkara, jangan dah apalagi stelah gue lihat muka si Dadang yg kriminal-able bgt. Udah bener emng nginep di pom bensin.

    Lama banget anjir gak main ke sini, lancar jaya terus buat bang edot, udah nambah banyak nih yang jadi PNS. Goksss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya juga ya, lebih aman juga di pos polisi

      Makasih Ichsan ~~

      Hapus
  6. Ini sama kayak sahabatku, ujian terakhir CPNS dia cuma jarak satu poin dari rank terakhir di atasnya yg keterima. Agak nyesek tapi yaudahh yaa.

    Aku pernah juga taun segitu ikut daftar. TAPI... lupa (atau sengaja) satu dokumen nggak kuunggah 😂 jadi ya ga lolos sih tahap verifikasi awal. Lagi juga daftarnya di BIN. Blm tentu lolos, mana udah jg pacaran sama WNA (jadi BIN gaboleh berpasangan dg WNA jg). Yaudaaaah siiihhhh, kegagalan itu jg pintu lain ke rejeki lain atau malah hal besar lainnya juga :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo selisih cuma satu kayaknya malah nyesek banget ya malahan :D

      Kok malah sengaja nggak diunggah :D
      Kalau ketrima di BIN waktu itu malah keren kan, bisa nyobain berbagai macam profesi di Indo..

      Tapi kayaknya malah lebih seneng yang sekarang ya Mbak :D

      Hapus
  7. ternyata perjalanan menuju pns cukup panjang juga yah, banyak sekali hal hal yang harus dilakukan. keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, itulah hidup ... suatu saat nanti bisa dijadiin cerita

      Hapus
  8. Wah kata2 penutupnya bikin penasaran sama kelanjutannya 'Sampai suatu hari, saya jadi bersyukur karena waktu itu'. Berarti kejadian waktu itu walaupun mengecewakan sepertiny pd akhirnya berakhir bahagia yaa 😁
    Btw, senang sekali bs punya teman sebaik Dadang yaa 😍

    BalasHapus

Tanya Aja, Sini...

Nama

Email *

Pesan *

Like us on Facebook

Subscribe