Mobil Bekas Nabrak?

Melanjutkan kisah tentang mobil pertama dalam hidup saya, sebuah Toyota Agya matic tahun 2016. Setelah melakukan beberapa modifikasi ringan seperti menempel stiker, memasang cover setir, dan hal-hal lain yang lebih bersifat memperindah daripada memperbaiki, ternyata jiwa konsumtif saya belum juga merasa puas. 

Setiap ada waktu luang, saya justru sibuk menonton video modifikasi Agya milik orang lain. Aktivitas ini sama sekali tidak membuat mobil saya berubah, tetapi entah kenapa memberi perasaan seolah-olah saya juga sedang ikut membangun sesuatu yang besar. Sampai suatu hari saya merasa ada satu hal yang mengganggu, yaitu lampu depan mobil yang masih berwarna kuning, kuning yang bukan sekadar kuning, tapi kuning yang mengingatkan pada lampu ruang tamu zaman dulu, yang tidak benar-benar menerangi jalan, melainkan lebih cocok untuk menemani orang minum teh sambil dengerin radio.

Perihal Mobil
    Memuat...

Saya mulai mencari lampu LED putih di Shopee dan Tokopedia, membandingkan harga, membaca ulasan, dan merasa seperti teknisi profesional padahal sebenarnya cuma liat doang belinya entar-entaran. Namun rencana itu berubah ketika saya menemukan informasi tentang lampu yang katanya lebih terang dari LED, yaitu projie biled. Namanya saja sudah terdengar canggih, seperti alat kesehatan, dan setelah saya cari tahu lebih jauh, harganya juga cukup membuat kesehatan mental terganggu. 

Biaya pemasangannya bisa di atas dua juta, bahkan ada yang tembus tiga juta, tergantung spesifikasi yang dipilih. Katanya hasil tidak akan mengkhianati harga, tapi harga sudah lebih dulu mengkhianati kondisi rekening saya. Selain mahal, proses pemasangannya juga tidak sebentar karena harus membongkar headlamp, bisa memakan waktu seharian. Saya pun mulai menimbang-nimbang sambil menenangkan diri dengan lanjut-lanjut scroll.

Di tengah kebiasaan scroll grup modifikasi Agya Ayla di Facebook, saya menemukan sebuah postingan yang terasa seperti jawaban do'a. Ada seseorang yang menjual headlamp lengkap dengan projie-nya karena mobilnya sudah dijual dan dikembalikan ke kondisi standar. Artinya, saya tidak perlu repot bongkar lampu, tinggal copot dan pasang karena katanya kabel sudah plug and play. Harganya pun hanya satu juta lima puluh ribu rupiah. 

Di kepala saya, ini bukan lagi transaksi, melainkan kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan. Setelah memastikan penjualnya bisa dihubungi dan terlihat meyakinkan, meskipun dalam hati saya sadar penipuan juga sering terlihat meyakinkan. Saya pun membeli barang tersebut. 

Beberapa hari kemudian paketnya benar-benar sampai, isinya dua headlamp dengan projie terpasang rapi. Saya sudah membayangkan proses yang sangat sederhana: datang ke bengkel, pasang, menunggu sebentar, selesai, lalu pulang dengan mobil yang mendadak terlihat lebih modern.

Sayangnya, kenyataan tidak sesederhana itu. Ketika saya datang ke bengkel dekat rumah, para mekanik sedang istirahat siang sehingga saya harus menunggu sekitar setengah jam. Setelah ada mekanik yang datang, saya menjelaskan maksud kedatangan saya dan dia mengangguk mantap, seolah pekerjaan ini akan selesai dalam hitungan menit. Namun setelah dibongkar dan diutak-atik cukup lama, progresnya tidak terlihat jelas. Mekanik mulai terlihat bingung dan akhirnya mengatakan bahwa mereka kesulitan mencari sambungan kabelnya, bahkan menyarankan saya pergi ke tukang lain untuk menyambungkan kabel agar sesuai dengan bawaan mobil. 

Saya pun pulang membawa kembali lampu tersebut, lengkap dengan kebingungan baru. Ketika saya konfirmasi ke penjualnya, dia justru menegaskan bahwa lampu itu tidak perlu diutak-atik karena semuanya sudah disetting plug and play. Dari situ saya mulai berpikir mungkin memang bengkelnya saja yang belum terbiasa.

Seminggu kemudian saya mencoba bengkel lain, diantar oleh Om dari istri yang kebetulan kenal sama pihak bengkel supaya lebih mudah menjelaskan. Mekanik di sana juga terlihat santai dan yakin saat melihat lampu yang saya bawa. Saya sempat merasa tenang karena tampaknya kali ini akan berhasil. Namun tak lama kemudian, beberapa anak PKL terlihat mengerubungi mobil saya, membuka kap mesin, memeriksa sana-sini, lalu saling berdiskusi dengan ekspresi yang tidak lagi sesantai tadi. 

Salah satu mekanik akhirnya mendatangi saya dan berkata bahwa headlamp mobil saya ternyata seperti “dipaten”, bahkan ada kawat yang mengikat headlamp ke bodi. Jika ingin diganti tetap bisa, katanya, tetapi harus melubangi sedikit bagian bodi lalu dipoles biar nutup lagi lubangnya, tapi artinya harus dicat juga. Saya yang baru pertama kali melihat hal seperti itu langsung terdiam, mulai curiga pada masa lalu mobil ini. Jangan-jangan mobil ini pernah mengalami sesuatu sebelum saya membelinya.

Alih-alih membahas solusi pemasangan lampu, saya justru bertanya apakah mobil ini ada indikasi bekas nabrak? Mengingat dulu saya membeli mobil ini hanya dengan bantuan sopir ibu untuk mengecek, yang belakangan saya sadari supir ini memang ahli nyetir tapi bukan berarti jago menilai kondisi kendaraan. 

Mekanik mengatakan kemungkinan besar tidak ada bekas insiden nabrak, tetapi dia nunjukin bahwa bagian kanan depan mobil pernah dicat ulang. Dia bisa langsung melihatnya, sementara saya yang sudah lama memakai mobil ini tidak pernah menyadari apa-apa. Siang itu saya kehilangan semangat untuk melanjutkan pemasangan projie. Saya pulang dengan perasaan campur aduk, masih memikirkan bekas cat ulang itu, meskipun sebenarnya mobilnya baik-baik saja.

Akhirnya lampu projie tersebut saya jual kembali di grup modifikasi Agya Ayla. Iseng saya naikkan harganya seratus ribu, dan ternyata tetap ada yang membeli. Uang kembali, bahkan ada sedikit tambahan, sebuah akhir yang cukup melegakan untuk sebuah rencana yang tadinya cukup prestisius bagi saya. Setelah semua kejadian itu, saya kembali ke rencana paling sederhana: mencari lampu LED putih biasa yang penting mudah dipasang, tidak perlu bongkar apa-apa, dan tidak membuka misteri baru tentang masa lalu mobil. 

Kisah lampu ini nanti akan saya tulis di postingan selanjutnya, kalau pas ada niat.

Posting Komentar

0 Komentar