Awal tahun 2025, target baca buku saya nggak muluk-muluk: 15 buku.
Saya menulis target 15 buku ini tentu sudah dilandasi dengan pertimbangan yang matang. Sebulan minimal bisalah baca satu buku aja. Masa sih, sesibuk-sibuknya ngejalanin hidup, nyelesain satu buku sebulan nggak sanggup? Toh, sebenarnya juga nggak sibuk-sibuk banget, kan. Bisalah kalau sebulan satu buku. Nah… nanti pasti ada momen di mana semangat membaca buku saya lagi nanjak banget. Bisa tuh sebulan lebih dari satu buku. (Ini versi saya yang optimis dan belum kenal TikTok.)
Momen lagi niat baca buku juga kayaknya bisa terjadi dalam beberapa waktu, nggak mungkin cuma sekali. Jadi pasang target 15 buku, rasanya masuk akal banget. Itu juga udah minimal banget. Kayaknya, sih, nanti di akhir tahun bisalah hasilnya lebih dari 15.
Lalu, di awal 2026, saya harus menampar diri sendiri setelah tahun 2025 kemarin saya hanya sanggup membaca empat buku. Iya, empat. Bahkan lima aja enggak.
Kalau alasannya adalah sibuk, tentu saja bukan itu. Saya masih punya banyak waktu luang. Tapi waktu yang seharusnya bisa dipakai buat baca buku, habis buat scroll-scroll media sosial tanpa tujuan yang jelas, entah apa yang dicari. Tahun 2025 kemarin, emang sih, saya lagi suka bikin materi pembelajaran kelas 6 buat dimasukkan ke blog, lengkap dengan game edukasi sederhana dan fitur-fitur lainnya. Ngutak-atik banyak hal yang kadang nggak perlu juga, seperti tampilan blog misalnya, yang rasanya selalu kurang dan nggak pernah benar-benar selesai.
Tahun kemarin juga preferensi saya jadi lebih ke ngonten di TikTok dan Instagram. Sesuatu yang di tahun sebelumnya bahkan nggak pernah ada di daftar niat hidup. Sejak salah satu video saya meledak dadakan sampai 13 juta views—yang sebenarnya niche saya tentang pendidikan, tapi pas upload video liburan tanpa niat apa-apa, eh malah meledak—pengikut yang tadinya cuma puluhan, tiba-tiba jadi puluhan ribu. Kesenangan membaca buku pun terdistraksi, dan saya mulai berpaling ke media sosial. Buku kalah sama algoritma.
Sampai akhirnya, tanpa sadar, 2025 sudah habis, dan saya cuma bisa menyelesaikan empat buku.
Buku-buku yang saya baca tetap masih didominasi genre horor. Jadi saya mau ngomongin sedikit buku apa aja yang berhasil saya tamatkan.
Pertama, ada Di Balik Jendela. Saya mengawali 2025 dengan cukup gemilang ketika begitu tekun membaca novel ini di awal-awal Januari. Novel yang sebenarnya sudah cukup lama saya beli, tapi nggak kebaca-baca. Tiba-tiba saja mood membaca datang, dan buku ini bisa selesai dalam waktu singkat.
Saya bahkan dengan semangat menulis review-nya di sini → Review Di Balik Jendela.
Buku kedua, Laut Bercerita. Buku ini usianya lebih lama lagi saya beli dibanding Di Balik Jendela. Niat bacanya sudah lama, tapi karena lumayan tebal, jadi selalu ditunda sampai setahun lebih. Setelah mencoba mencicil halaman demi halaman, saya mulai terbawa alur ceritanya dan larut ke dalam buku ini. Akhirnya berhasil saya selesaikan, meskipun dengan tempo santai. Santai tapi konsisten—hal yang jarang terjadi di hidup saya.
Buku ketiga, Surau karya MWV Mystic. Saya memang suka membaca karya penulis yang satu ini. Ketika di Tokopedia muncul buku ini tanpa sengaja dan statusnya masih “baru terbit”, saya sempat menahan diri untuk tidak langsung membeli karena harganya seratus ribu lebih.
Dan ternyata benar, setelah sebulanan, harga buku ini mulai turun. Ada toko yang ngasih diskon lumayan, dan saya bisa beli di harga 80 ribuan. Nggak perlu drama mengendap dulu di rak buku, begitu sampai langsung saya baca dan bisa selesai dalam waktu semingguan. Saya bahkan niat banget sampai menulis review-nya. Ini dia → Review Surau.
Buku selanjutnya, ini jujur ya... saya baru tahu kalau ternyata Simpleman sudah mengeluarkan novel berjudul Oemah 43. Setelah dicek, novel ini ternyata terbit tahun 2024, dan saya baru tahu di sepertiga akhir 2025. Telat tapi sok kritis.
Membaca tulisan Simpleman di buku ini bikin saya ingat film Pabrik Gula yang katanya mirip KKN di Desa Penari, cuma beda setting. Ada sekelompok orang datang ke tempat baru, ada yang berbuat asusila, lalu kena balasan dari penunggunya.
Mirip juga dengan Oemah 43. Ada perempuan ditawari pekerjaan dengan gaji lumayan buat ngerawat orang, tapi orangnya aneh dan tempatnya serem. Premis ini ngingetin saya ke Sewu Dino. Yang bikin saya agak nggak sreg, kenapa Simpleman seperti selalu memaksa horor berbau Jawa, tapi nuansa Jawanya justru terasa minim.
Judulnya Oemah 43, tapi dibaca sampai akhir tetap saja yang muncul Rumah Nomor 43. Sebenarnya nggak perlu dipaksakan ke bahasa Jawa, kan. Tadinya saya mau nulis review buku ini, tapi seperti biasa, kebanyakan nunda, akhirnya nggak kesampaian sampai sekarang.
Dan sebenarnya, saya juga sedang dalam proses membaca ulang kumpulan cerpen Ahmad Tohari berjudul Mata yang Enak Dipandang. Tapi sampai 2025 selesai, bacanya belum juga tamat. Buku sabar, saya yang tidak.
👀👀👀
Belakangan ini, minat membaca saya memang lagi nyungsep banget. Tapi, entah kenapa, dengan penuh rasa percaya diri yang entah datang dari mana, saya masih berharap seperti saat menentukan reading challenge Goodreads: 15 buku di tahun 2025.








0 Komentar