Setelah sempat maju mundur memutuskan untuk beli apa nggak buku Sebuah Seni Untuk Memahami Kekasih karya Agus Mulyadi ini, akhirnya jari tangan saya bergerak lebih cepat dari otak saya untuk klik beli buku ini di Shopee.

Agus Mulyadi ini mulai terkenal beberapa tahun yang lalu sejak foto editannya sama artis luar negeri jadi viral, dia juga seorang blogger yang khas dengan gaya tulisannya yang kadang diselipi dengan bahasa jawa.

Agus Mulyadi udah menerbitkan beberapa buku dan yang udah saya baca bukunya berjudul Jomblo Tapi Hafal Pancasila, Bergumul dengan Gusmul sampai yang terakhir Lambe Akrobat.

Agus sekarang udah jadi redaktur di Mojok.co, dimana sebelumnya juga pernah menduduki jabatan Pemimpin Redaksi.

Buku yang akan saya ulas ini sepertinya buku yang cukup narsis. Menceritakan tentang kisah-kisah menggelitik Agus dan Istrinya, Kalis yang juga salah satu redaktur Mojok.

Membaca buku ini memang hanya cukup sekali duduk dan diakhiri dengan, “Apaaan nih! Baru aja dibaca udah habis halamannya.”

Ya... buku ini memang tipisnya agak nggak tahu diri. Hanya 98 halaman, itu pun udah termasuk jatah buat ilustrasi yang memakan 17 halaman sendiri. Ajaibnya di buku ini ada 38 bab atau cerita yang disuguhkan.

Jadi nggak heran, kalau setiap bab di buku ini ceritanya pendek-pendek, bahkan ada yang pendek banget, cuma selembar. Semacam baru buka bab baru, pas dibalik udah ganti bab baru lagi.

Buku ini diawali dengan pengantar berjudul ‘Kalis dan Cerita Lainnya’ yang bercerita awal perkenalan Agus dengan Kalis di sebuah acara ulang tahunnya Mojok di Malang dan Surabaya. Dalam perjalanan ke Surabaya inilah Agus dapet momen ngobrol banyak sama Kalis. Agus sadar kalau mereka berdua ternyata punya banyak kesamaan. Sama-sama suka Dewa 19 adalah salah satunya.

Selanjutnya Agus dan Kalis sepakat nonton konser Dewa 19 bareng, dan itu semacam kencan pertama mereka. Sejak saat itu, komunikasi mereka semakin rutin, sampai akhirnya Agus mantap buat mengungkapkan isi hatinya dan baru dijawab tiga minggu kemudian. Jawaban yang tentu saja udah pasti, Agus diterima.

Kisah-kisah konyol mereka berdua pun dimulai...

Bab pertama dibuka dengan sangat baik karena langsung bikin saya cekikikan. Jadi ceritanya Kalis ini pergi naik motor lalu melipir ke pom bensin karena niatnya mau ngisi bensin. Nah, pas sampai di antrian, Kalis turun dari motor dan coba buka jok motornya, tapi jok motornya susah dibuka. Dengan usaha apapun dan tenaga sebesar apapun Kalis mencoba mengangkat jok motornya, hasilnya tetap sia-sia. Joknya nggak kebuka-kebuka. Akhirnya setelah dicermati, ternyata yang Kalis angkat adalah jok motor bagian depan. Pantes nggak kebuka-kebuka. 😂

Terus ada juga bab berjudul Video Call, ceritanya Agus sama Kalis ini lagi video call-an. Setelah sekian menit ngobrol, tiba-tiba video call mereka terhenti, lalu Kalis ngirim pesan teks di WA begini, “Mas, maaf, kuotaku habis, gantian Mas yang nelfon video call ya?”

Sebuah pesan yang singkat, dan terlihat lugu. Ya, karena yang namanya video call WA kan sama-sama pakai kuota semua, nggak cuma yang nelepon saja.

Bab lain yang menurut saya lucu judulnya ’Baju Bagus’. Agus sama Kalis ini memang suka ngomongin kemiskinan mereka masing-masing. Salah satu contoh kemiskinan mereka adalah waktu kecil Agus cuma punya dua kaos ‘keren’ yang hanya dipakai di momen tertentu, semisal acara ulang tahun atau jalan-jalan ke alun-alun.

Kaos Agus pada masa itu cukup keren dengan gambar Joshua dan Digimon. Nah, cerita cuma punya dua kaos itu ternyata jauh lebih mengesankan dibanding cerita Kalis. Semasa kecil, Kalis cuma punya satu kaos istimewa yang hanya dipakai di acara tertentu. Dan apa gambar kaosnya? Sunan Giri. Hahaha 😂



DATA BUKU:

Weight : 0.2 kg

Penulis : Agus Mulyadi

Penerbit : Shira Media

Tahun Terbit : 2020

Jumlah Halaman : 120

Dimensi : 13 x 19 cm

ISBN : 978-602-5868-90-0


Membaca buku ini memang sukses bikin senyum-senyum sendiri. Agus sukses mengamati perilaku Kalis yang ‘ternyata’ banyak lugunya. Kenapa kata ternyata saya beri tanda kutip? Karena setau saya, yang selama ini saya lihat tentang Kalis adalah orang yang sangat smart, kritis dan penuh energi karena aktif menyuarakan hak-hak perempuan.

👦

Dalam buku ini, Agus terang-terangan menunjukkan sisi lain Kalis yang membuat saya sempat nggak percaya karena loh kok Kalis ternyata selugu ini, sering teledor juga. Kayak salah satu cerita di bab berjudul ‘Pesawat’. Kalis pernah ketinggalan pesawat karena terlalu santai di bandara, nggak tahu jadwal penerbangannya dimajukan. Kalis juga pernah dengan teledornya salah pesan tiket pesawat yang harusnya Jakarta-Solo jadi Jakarta-Jogja.

Secara keseluruhan buku ini akan sangat mudah diterima dan cocok buat dibaca bagi yang belum kenal sama Agus Mulyadi karena memang cerita-cerita bareng Kalis di buku ini relate banget sama kekonyolan kita sehari-hari.