#Cerpen : Announcer Keder

11/27/2018 07:44:00 pm


















Seperti biasa, pagi ini, pukul 07.30 Tejo udah berdandan rapi dengan setelan celana jeans hitam, sweater polos warna biru dan topi Quiksilver yang juga berwarna biru. Tejo udah merasa gaul setengah mati melihat penampilannya di depan cermin, dan sekarang sedang bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerjanya dengan jalan kaki manja.

Sebenarnya Tejo adalah calon guru SD yang gagal. Iya, Tejo baru merasakan wisuda sekitar sebulan yang lalu. Wisuda yang sebenarnya bisa dikatakan terlambat karena teman-teman seangkatannya udah pada wisuda duluan sekitar enam setengah tahun yang lalu.

Seharusnya, setelah wisuda kini Tejo bisa mengabdikan diri di sekolah dasar, mengamalkan ilmu-ilmu yang udah Tejo dapatkan selama kuliah dan mengajarkan nilai-nilai luhur pancasila kepada anak-anak. Tapi kenyataannya, sekarang Tejo malah jadi penyiar radio, di channel 107.7 Funky FM kota Pemalang.

Yah... memang agak gaje dan agak-agak enggak nyambung dengan ijazah yang Tejo miliki. Tapi setidaknya hal itu jauh lebih baik, daripada Tejo mesti jadi penyiar berita duka di mushola deket rumah. Kelihatannya Tejo enggak akan sampai hati ngelakuin hal yang satu ini karena hati Tejo mudah tersentuh. Bisa-bisa Tejo nyiarin berita dukanya sambil nangis sesenggukan dengan diselingi suara sedotan ingus yang fals.

Walaupun Tejo enggak jadi guru SD. Ternyata ada hikmah yang bisa diambil dari peristiwa yang jarang ini, karena akhirnya puluhan atau bahkan ratusan siswa berhasil mengejar masa depannya dengan gemilang tanpa ada unsur-unsur sesat yang Tejo tularkan jika Tejo benar-benar menjadi guru SD.

Jadi penyiar radio itu sebenarnya semacam ibadah, karena termasuk pekerjaan yang bisa menghibur banyak orang melalui suara. Nah, masalahnya Tejo baru sadar kalau suara Tejo serak-serak-ngebass-nyakitin. Kayaknya Tejo bukannya dapet banyak pahala, tapi justru malah dapet dosa gara-gara udah menyiksa telinga para pendengar di kota Pemalang.

Tejo khawatir, setelah masyarakat denger suara Tejo.. satu per satu telinga mereka jadi pada diamputasi. Pertama yang kanan, besoknya yang kiri. Atau bisa juga pertama yang kiri, besoknya yang kanan. Sebenarnya ini tergantung selera aja sih, mau yang mana duluan yang mesti dipotong. Hiiiii....

Awalnya Tejo pikir jadi penyiar itu gampang. Tinggal cerewet aja dan ngomong macem-macem, abis itu, udah.. misi sukses. Tapi ternyata, begitu Tejo berangkat ke studio radio, kesan pertama yang Tejo dapet di hari pertama Tejo kerja adalah... RIBET! Lebih ribet daripada legalisir KTP di kecamatan.

Kenyataannya, jadi penyiar radio itu dituntut kelincahan dan keselarasan antara berpikir dan bertindak.

Pertama, harus bisa mengatur jadwal iklan yang bakalan dimunculin karena udah ada jadwal waktu tayangnya sendiri, jadi antara ngomong sama muterin lagu harus bener-bener udah dipikir dulu. Jangan sampai keasikan ngomong, malah lupa waktu. Muterin iklannya malah molor.

Kedua, harus bisa mengatur playlist lagu secara cepat. Stok lagu di radio udah jelas banyak banget. Maka dari itu kelamaan dikit nyari, lagu yang diputer keburu abis. Terjadilah kekosongan atau jeda dan mungkin bisa juga terjadi keheningan yang panjang. Mau ngapain tuh kalau udah kayak gitu?

Kalau masih berstatus penyiar baru kayak Tejo, berhadapan dengan hal semacam itu pasti masih sering grogi. Melarikan diri dari ruang siaran mungkin bisa jadi solusi yang patut dicoba kalau terjadi kepanikan karena enggak bisa nyari lagu dengan cepat sementara lagu yang diputer udah habis.

***
Kalau dihitung-hitung, berarti belum ada sebulan Tejo menjalani karir di dunia kepenyiaran yang fana ini. Sebenarnya sesuai peraturan perusahaan di radio yang Tejo tempati. Tejo harusnya mesti menjalani masa training dulu selama tiga bulan baru bisa dilepas siaran sendirian.

Masa-masa tiga bulan itu harus Tejo lewatin dengan berbagai hal seperti: Tejo harus latihan reading (latihan baca script), terus juga mesti latihan bikin script siaran sendiri, sampai ngejejerin penyiar senior tiap lagi siaran biar Tejo paham hal apa aja yang harus dilakuin selama siaran.

Dengan jadwal yang terkesan monoton itu, alhasil hidup Tejo jadi terasa hitam putih. Tejo hitam, penyiar yang Tejo jejerin putih. Iya, kerjaan awal-awal di radio indah banget. Tejo mesti jejerin penyiar yang siaran selama berjam-jam. Cuma jejerin aja, tanpa dikasih kesempatan buat grepe-grepe penyiarnya. Bukan karena Tejo punya pikiran mesum sih, ya.. Tejo cuma pengen hiburan aja karena selama ngejejerin penyiar emang enggak ada hiburan sama sekali. Daripada Tejo mesti grepe-grepe tubuh sendiri, kan enggak afdol banget.

Selang beberapa hari setelah Tejo lumutan di kursi sebelah penyiar. Di suatu sore yang syahdu dan bersahaja. Tanpa diduga sebelumnya, tiba-tiba Tejo diminta melakukan prosesi reading (baca script siaran) di hadapan tiga para penyiar senior.

Oh iya, bentar... tolong jangan tanya sama Tejo maksud dari sore yang syahdu dan bersahaja itu kayak gimana. Tejo pasti enggak bakalan paham.

Sebenarnya ini bukanlah hal yang Tejo harapkan. Tapi Tejo bisa apa kalau manajer radio yang bernama Mbak Yul udah memberikan titah. Tejo memanggil manajer dengan sebutan Mbak Yul, karena Tejo rasa itu panggilan yang tepat. Karena kalau Tejo manggilnya Mas Yul Tejo pasti bakal digampar.

Sekedar informasi aja, Yul ini cewek.

Pada momen bersejarah ini, ketika Tejo mesti reading di hadapan tiga penyiar lain. Ternyata tanpa diduga-duga, dengan hebatnya Tejo berhasil membuat seisi ruangan terdiam! Gak ada suara sama sekali dan kalau diperhatikan mereka sepertinya menikmati banget suara Tejo.

Belakangan Tejo baru sadar, mereka diem karena emang lagi dengerin Tejo ngomong. Bukan karena ‘gak bisa berkata-kata’ gara-gara kekuatan magis suara Tejo. Yah, Tejo telah salah mengartikan.. ternyata sebagai cowok Tejo kurang peka. Tejo emang payah...

Di sela-sela kesedihan Tejo yang gagal memahami arti diam para penyiar sore itu. Ada hal menyedihkan lagi yang harus Tejo alami yaitu saat harus mendengar komentar-komentar mereka. Kata Mbak Yul, Tejo masih keliatan grogi banget waktu proses reading tadi. Tejo enggak bisa bersikap santai, enggak bisa bersikap ‘lepas’. Sebenarnya itu bisa dimaklumi, karena Tejo emang sebelumnya enggak punya background penyiar, karena itu tadi Tejo reading-nya masih sambil malu-maluin.

Sambil dengerin komentar satu per satu dari para penyiar senior, diem-diem Tejo nutupin kemaluannya sendiri pakai tangan saking malunya.

Kata Mbak Yul, Tejo dibilang masih terlalu jauh dari ekspektasi. Gaya bicara Tejo datar, flat. Gak ada powernya kalau ngomong. Bahkan Tejo dibilang lebih cocok kerja di air kata Mbak Yul. Tejo curiga, Mbak Yul ini dulu suka ikutan layanan sms Ki Joko Bodo waktu remaja dulu.

Huft banget... gara-gara ini Tejo ngerasa gagal sebagai Power Ranger Biru harapan bangsa. Gimana Tejo bisa jadi Power Ranger Biru Sang Penumpas Kemaksiatan yang berbakti pada nusa dan bangsa kalau baru ngomong di depan tiga biji penyiar aja Tejo masih minder. Sekedar catatan, dari kecil sampai segede ini Tejo memang masih memendam cita-cita untuk bisa menjadi Power Ranger biru.

Gara-gara komentar yang pedesnya nendang itu, Tejo sempet mikir kayaknya Tejo enggak bakat deh jadi penyiar. Baru ngomong aja udah ribet, suara Tejo juga terdengar serak-serak jijik’in. Gak ada yang bisa diharapkan dari sisa-sisa kelaki-lakian Tejo. Tejo putus asa, diiringi lagu Ibu Kita Kartini yang mengalun samar-samar...

Enggak mau terus-terusan dianggap Penyiar Keder. Hari-hari berikutnya, Tejo jadi sering browsing script siaran radio di google. Tejo sengaja latihan reading di ruang produksi sendirian. Bukan karena Tejo pengen fokus dan berkonsentrasi. Tapi karena Tejo enggak pede kalau didampingi sama orang lain. Seolah-olah Tejo ini sedang ada dalam dongeng berjudul Putra Malu & Tujuh kurcaci. Tentu saja Tejo berperan jadi salah satu kurcaci yang enggak populer, bukan putra malunya.

Tapi kalau misal terpaksa Tejo yang jadi pemeran utamanya, kayaknya judul dongengnya bakalan direvisi jadi Putra Kemaluan. Mendadak Tejo merasa seperti seonggok titit tanpa tuan di padang pasir tandus nan gersang.

Baru sekitar dua minggu Tejo menjalani masa training. Tiba-tiba Tejo dapet kabar yang mengejutkan. Jauh lebih mengejutkan dari berita Arya Wiguna yang ngelakuin sumpah pocong hanya demi mempertanggungjawabkan perkataannya tentang Farhat Abbas yang pernah selingkuh.

Sumpah... menurut Tejo ini adalah sumpah pocong paling enggak penting yang pernah terjadi dalam sejarah persumpahpocongan di Indonesia. Dan herannya lagi, kabar yang Tejo denger kenapa harus dibandingkan dengan sumpah pocong ini?! Maklumin aja, Tejo memang lemah dalam menganalogikan sesuatu.

Kabar yang Tejo dengar, cukup mencengangkan. Tejo mendapat titah dari manajer radio untuk siaran perdana! Iya, siaran perdana yang artinya Tejo harus siaran sendirian! Tanpa didampingi orang tua, pacar dan handai taulan. Entah apa motivasinya, Tejo belum sempat melakukan penyelidikan lebih jauh.

Pukul dua belas siang... Tejo pun duduk di kursi penyiar. Seketika, pantat Tejo terasa panas, padahal ruangannya ber-AC. Sepertinya kursi penyiar ini enggak mau nyetel dengan pantat unyunya. Sepenuh hati Tejo coba enggak terlalu peduli karena Tejo harus memikirkan bagaimana ia harus mengoperasikan semua yang ada di depannya saat ini. Menata lagu, menata backsound, dan memanajemen waktu biar iklannya bisa muncul tepat waktu sesuai jadwal. Ribet banget!

Semua keribetan itu terasa sempurna karena siaran perdana Tejo siang itu adalah acara.... CAMPUR SARI.

Sebenarnya ini gak terlalu jadi masalah banget, Tejo tetep didampingi sama senior. Di sebelah Tejo ada sesosok cewek bernama Sekar. Penyiar dengan suara paling enjoy kalau ngebawain acara campur sari ini penuh kesabaran membimbing Tejo menghadapi seperangkat alat asing di depan Tejo.

Mungkin kalau Sekar suatu saat jadi dosen pembimbing skripsi. Mahasiswanya pasti bakalan seneng banget. Saking sabarnya nih, bisa-bisa malah Sekar yang ngerjain skripsinya mahasiswa daripada membimbing skripsi.

Menurut Tejo sih, siaran campur sari bukan merupakan perbuatan yang hina-hina banget. Tapi masalahnya adalah siaran campur sari ini Tejo harus ngomong pakai bahasa kromo, bahasa jawa halus. Bukan bahasa Indonesia, bukan bahasa ngapak, apalagi bahasa Bangladesh. Mau gak mau Tejo harus nerima, selain nerima Tejo bisa apa? Enggak bisa apa-apa. Iya, disuruh ngerjain soal matematika SD juga Tejo enggak bisa.

Tejo mengamati detik demi detik lagu di playlist komputer depan Tejo. Menjelang lagu berakhir dan sebentar lagi backsound, deg-degan Tejo semakin menjadi-jadi. Tejo pengen kabur! Ke Vietnam deh kalau perlu demi menghindari kenyataan bahwa sebentar lagi backsound diputer dan itu artinya udah waktunya Tejo buat ngomong.

“KAR! SEKAR! BENTAR LAGI BACKSOUND KAR! ASTAGHFIRULLAH KAR! ASTAGHFIRULLAH!” Tejo berteriak histeris sambil nutupin mata.

Sekar hanya menatap Tejo nanar. Mungkin kalau diterjemahkan arti dari tatapan Sekar, kurang lebih artinya, “IDIOT LU!”

Hari bersejarah itu pun akhirnya benar-benar terjadi.

Tejo.Siaran.Dengan.Bahasa.Krama.Inggil.Atau.Jawa.Halus.

“Assalamualaikum Wr. Wb..., Funky FM Rencang setyo panjenengan. Kepripun pawartosipun panjenengan sedoyo ing dinten meniko? (Funky FM sahabat setia anda. Bagaimana kabar anda semua di hari ini?) Bla.. bla.. bla..”

Tejo ngomong dengan suara yang kedengeran grogi banget walaupun krama inggil Tejo lancar. Iya, karena Tejo sebenarnya cuma baca teks, sambil gemeteran, sambil tersendat-sendat, juga sambil bernafas.

Semuanya berjalan lancar, meskipun entah gimana bentuknya suara yang Tejo keluarkan. Tejo mencoba cuek, kalau nanti muncul teguran atau laporan bahwa pendengar radio Funky FM tiba-tiba telinganya bernanah atau mungkin ngeluarin ambeyen dari kuping. Tejo hanya tinggal menyerahkan semuanya pada Manajer, Mbak Yul. 

Tejo terus berjuang untuk menyelesaikan tugas Tejo selama sejam. Dan prahara itu terjadi disaat sesi greeting online, atau saat Tejo menerima telepon dari pendengar.

Harap dicatat, bagi orang awam kayak Tejo. Nerima telepon sambil berusaha nyari lagu yang direquest itu enggak mudah. Tejo gagap banget...

Karena panik, lagu yang Tejo cari enggak ketemu-ketemu setelah Tejo matiin telepon. Dengan gusar Tejo langsung bilang ke Sekar dengan bahasa Yunani Kuno, “KIE PIBEN KAR? NYONG BINGUNG NEMEN SUMPAH!”, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia gaul jadi, “INI GIMANA KAR? GUE BINGUNG BANGET SUMPAH!”

Sekar segera ngambil alih tugas, lebih tepatnya menyelamatkan kebodohan Tejo dengan menurunkan volume mic.

ANJRIT! Tejo lupa... posisi Tejo kan masih ON AIR!

Itu berarti suara kepanikan Tejo didenger sama seluruh orang kota Pemalang yang siang itu lagi dengerin Tejo siaran?! Anjrit lagi deh... pada debutnya siaran sendirian, Tejo udah ngelakuin kesalahan paling bego. Tejo merasa gagal banget.

Setelah susah payah Tejo balik ke lagu dan memastikan volume mic turun. Tiba-tiba Sekar ngakak. Kenceng banget. Sadis... tanpa perasaan juga tanpa tedeng aling-aling. Kalau Tejo kembali harus menerjemahkan makna senyuman Sekar. Mungkin kurang lebih jadinya seperti,

“HAHAHABEGOBANGETLUJADIORANGHAHAHASUMPAHBEGONYAKEBANGETANHAHAHA!"

Tejo cuma nyengir garing melihat Sekar yang ketawa lepas. Dengan rambut hitam panjangnya yang tergerai bebas, Tejo jadi enggak sengaja keasikan mengamati Sekar yang lagi ketawa. Di mata Tejo Sekar terlihat manis nan adem. Setelah beberapa hari Tejo kerja bareng Sekar, baru kali ini Tejo sadar kalau ternyata Sekar terlihat manis. Apalagi saat tertawa lepas.

“Udah kenapa Kar, ketawanya sadis amat.” Tejo memohon.

“HAHAHAHA... Lagian kamu ceroboh banget jadi orang, panik sih panik tapi gak usah ikutan ngapak juga ngomongnya. HAHAHA..” Sekar masih menyiksa perasaan Tejo dengan tawanya.

Sejak peristiwa itu, Tejo justru jadi sering duet dengan Sekar untuk siaran. Karena sepertinya Tejo memang belum siap dilepas sendirian. Gara-gara itu pula, hubungan Tejo dengan Sekar jadi makin akrab. Panggilan mereka pun jadi aku-kamu, bukan lo-gue atau nyong-koe.

Kalau ada jadwal siaran malam hari, Tejo mendadak bahagia. Karena Tejo dapat bonus nganterin Sekar pulang. Tejo menikmati saat-saat itu. Apalagi momen ketika sampai di depan rumah Sekar, saat Sekar bilang, “Makasih ya, kamu hati-hati pulangnya. Kalau udah sampai rumah kasih kabar.” Kemudian ditutup dengan senyuman manis Sekar.

Dua minggu selanjutnya mereka jadi sering jalan bareng, sms-an, sampai mention-mentionan di Twitter ngomongin macem-macem. Walaupun gara-gara sering ngobrol gak jelas di Twitter sama Sekar. Tejo jadi sering di-unfollow sama followersnya. Yang tadinya followersnya 20 biji sekarang tinggal dua biji, yang setelah dicek sisa followersnya cuma ada Sekar, kedua akun Twitter radio tempat Tejo kerja.
***
Malam itu seperti biasa, Tejo dapet jadwal siaran pukul 20.00 bareng Sekar. Tejo selalu menikmati saat-saat seperti ini, saat berdua dengan Sekar di ruang siaran, saat di mana Tejo bisa melihat senyum dan tawa Sekar dari dekat.

Seperti biasa pula, saat lagu sedang diputer. Mereka sering bercanda, seolah-olah obrolan mereka enggak pernah ada habisnya. Sampai akhirnya, nada bicara Sekar berubah serius.

“Jo, kamu harus cepet membiasakan diri dengan semua alat radio yang ada di depan kamu ini.” Kata Sekar tanpa berani menatap Tejo.

“Iyalah, aku pasti bakalan cepet membiasakan diri. Lagian ini juga mulai paham.. Hehe kenapa emangnya Kar?”

“Ya... soalnya, mulai besok aku udah resign dari sini.”

“Hah?! Ma... maksudnya?! Kamu udah enggak jadi penyiar di sini lagi? Kok mendadak banget Kar?” Tejo terlihat sangat shock.

“Aku dapet panggilan kerja di salah satu bank swasta. Aku rasa, ini kesempatan buat aku berkarir lebih jauh Jo. Kamu bisa kan, mulai besok mesti siaran sendirian?”

“Ya.. tapi kenapa mendadak banget ngomongnya, Kar?”

“Aku nunggu kesempatan yang pas aja Jo, aku juga butuh mental nyampein ini ke kamu. Kalau aku ngomong ini dari kemarin, aku kan gak tau gimana reaksi kamu.”

“Sekarang jadi tau kan gimana reaksi aku? Kar, kita.. masih bisa ketemu, kan?” Suara Tejo mendadak berat.

“Enggak tau Jo, aku dapet penempatan di Timika, Papua. Jauh banget, kan?” Sekar tersenyum, masih tetap manis di mata Tejo. Dan Tejo sadar, kalau setelah malam ini. Tejo enggak bisa melihat senyum manis Sekar lagi, dari dekat.

“Kita kan masih bisa mention-mentionan di Twitter, jangan khawatir. Kamu harus janji sama aku kalau setelah ini kamu bakal seriusin pekerjaan penyiar ini. Kamu bakalan jadi penyiar hebat yang selalu ditunggu-tunggu para pendengar. Aku yakin kamu bisa, kok.” Kata Sekar, kali ini menatap mata Tejo dengan teduh.
***
Satu bulan telah berlalu, Tejo sekarang udah bisa siaran sendirian. Bahkan rating acara yang dipegang Tejo, acara SEMPAK (Senandung Musik Paling Asik) jadi begitu rame dengan penggemar. Ratusan sms gak pernah berhenti setiap Tejo udah mulai on air.

Sejak Sekar pergi, Tejo telah bertekad untuk menjadi penyiar yang gaul dan handal. Enggak keder lagi, seperti dulu. Bahkan mungkin kalau bisa, Tejo pengen jadi penyiar yang bisa menguasai dunia. Semua itu dilakukannya demi Sekar yang telah mengajarinya banyak hal. Tentang seluk beluk dunia radio, dan juga tentang perasaan yang kadang enggak harus diungkapkan.

Malam itu, saat Tejo siaran sendirian. Di sesi greeting online, Tejo menerima telfon dari seorang cewek bernama Kara yang nggak mau nyebutin lokasinya. Walaupun begitu, Tejo langsung mengenalinya kalau itu suara... Sekar. Ternyata walaupun udah ada di Timika, sekar masih setia dengerin Tejo siaran via streaming. Malam itu, mereka ngobrol berdua dengan begitu bahagia untuk melepas rindu, tanpa peduli mereka sedang on air, yang obrolannya didengar banyak orang dan juga nggak peduli di belakangnya penelpon lainnya antri menunggu.

You Might Also Like

0 Upil