Aplikasi Berbasis Manual

Bertepatan hari Sumpah Pemuda kemarin, sekolah gue enggak ngadain upacara bendera sebagai peringatan hari Sumpah Pemuda, tapi justru ngadain pembagian hasil rapot UTS. Seperti yang udah pernah gue ceritain sebelumnya, sekolah tempat gue ngajar rapotnya nggak cuma pas semesteran aja, tapi tengah semesteran juga ada rapotnya. Lumayanlah... bisa bikin gue sibuk sambil berkeluh kesah.

Pengerjaan rapot kali ini lebih banyak ngeluh dari yang sebelumnya karena sekolah gue menerapkan sistem baru. Kalau biasanya udah ada formatnya di excel dengan segala kemudahan yang tetep aja ribet. Kali ini sekolah gue melakukan uji coba pengerjaan rapot dengan aplikasi.

Aplikasi ini tujuannya biar semua nilai anak juga tersimpan dalam database yang jika sewaktu-waktu membutuhkan tidak perlu mengobrak-abrik berkas nilai di dalam lemari yang entah ada di lemari sebelah mana.

Nah... tepat satu minggu sebelum pembagian rapot, para  wali kelas dikumpulin lalu diberi arahan buat ngerjain rapot pake aplikasi yang katanya udah dibeli dengan harga mahal oleh sekolah. Gue sih malah bersyukur akhirnya sekolah gue ini makin keren aja.

Sayangnya, apa yang gue harapkan hanyalah tinggal harapan. Aplikasi yang dibagikan ke tiap guru ini masih terdapat banyak masalah. Mulai dari nggak ada tombol ‘back’-nya. Jadi kalo mau balik ke halaman sebelumnya, ya harus nutup halaman aplikasinya. Pertama kali ngelihat hal ini, rasanya pengen ketawa ‘HAHAHA’ kenceng banget.


Selanjutnya, daftar mata pelajaran yang dimuat dalam aplikasi tadi ternyata belum lengkap. Di aplikasi yang gue pegang, ekstrakurikulernya banyak yang belum diinput. Gue ingin mengulang ‘HAHAHA’ yang sebelumnya terlintas dalam pikiran, udah niat-niat mau ngentry nilai tapi tempatnya nggak ada.

Selanjutnya lagi, daftar absensi anak yang gue pegang ternyata berbeda urutannya. Di aplikasi, daftar nama anak diurutkan pakai abjad dari A sampai Z. Beda sama absensi yang gue pegang, yang diurutkan dari nomor induk.

Mungkin emang sepele sih, tapi kalo mesti masukin nilai dengan daftar absen yang beda, rasanya jadi makan waktu banget. Misal Bambang di absen nomer dua puluh, tau-tau di aplikasi jadi nomer lima. Gue jadi mesti selalu mengamati daftar nama yang jadi memperlama.

Salah satu yang bikin gue pengen tepuk tangan nanar adalah aplikasi ini dibagikan tepat satu minggu sebelum pembagian rapot. Dengan sedikit tutorial dari sang pembuat aplikasi, gue mengentry nilai satu per satu sambil menahan air mata. Dibandingkan dengan tahun lalu yang nilainya tinggal di copy paste ke dalam kolom excel. Kali ini nilai 31 anak dengan puluhan mata pelajaran harus gue entry satu per satu.


Belum lagi ngentry-nya mesti nyari nama anak dulu karena nggak sesuai absen kelas. Hari pertama, semua masih coba gue jalanin dengan tegar. Hari kedua, gue masih semangat mengerjakan dengan sesekali berkeluh kesah. Hari ketiga, gue masih terus ngerjain tapi kok rasanya nggak selesai-selesai ya...

Nggak perlu nunggu hari keempat, siang itu gue langsung pasrah nggak sanggup buat ngerjain rapot dengan aplikasi yang nggak ada tombol back-nya ini. Rekan wali kelas tiga di sebelah gue bahkan udah memberi hasutan untuk memundurkan jadwal pembagian rapot karena situasi lapangan yang tidak kondusif.

Kepasrahan gue berubah putus asa setelah melihat nilai hafalan juz 30 anak-anak harus dientry satu-satu, dan satu anak ada tiga surat alqur’an yang harus ditulis secara manual. Itu artinya gue harus bersemangat mengisi sembilan puluh tiga surat yang penilaiannya ada dua macam. Itu artinya lagi, berarti sembilan puluh tiga dikali dua. Dan itu harus dikerjakan hanya dalam sisa waktu dua hari. Gue yakin Bandung Bondowoso yang sanggup bikin 999 candi dalam satu malam belum tentu bisa nyelesein pekerjaan ini.

Gue dan rekan sejawat sepenanggungan dilanda kepanikan dan keputusasaan yang panjang. Disaat kegetiran ini membuat kepala cenat-cenut, instruksi libur dari kepala sekolah belum juga kami dapatkan. Yap.. disela-sela mengerjakan rapot, gue juga harus tetap membagi waktu untuk tetap mengajar di kelas. Sampai sore.

Aplikasi yang belum sempurna dan waktu yang sudah sangat mepet akhirnya terdengar juga oleh kepala sekolah. Wali kelas diminta berkumpul dan diminta untuk tetap bersemangat. Nggg... ini.....

Hingga akhirnya, titah dari kepala sekolah siang itu membuat gue bisa menyambung nafas yang tersengal-sengal. Hari kelima, sekolah akan diliburkan dipersembahkan spesial untuk wali kelas fokus mengerjakan rapot dengan aplikasi yang gue sebut sebagai mahakarya ini. Meskipun gue sendiri enggak yakin, gue bisa menyelesaikan nilai rapot yang luar biasa banyaknya ini, sekedar informasi aja... mata pelajaran Agama Islam di sekolah gue sendiri ada enam nilai yang harus dientry.

Disela-sela bisik-bisik wali kelas di ruang rapat, akhirnya salah satu wali kelas memberi solusi bahwa nilai yang sudah masuk nanti bisa di export ke format word atau excel sesuai selera. Nantinya nilai-nilai yang belum masuk karena aplikasi yang belum sempurna bisa diedit manual pakai word.


Subhanallah.... luar biasa sekali. Kenapa hal ini harus dicetuskan ketika hari penghakiman hanya tersisa dua hari.

Dengan beban tanggungjawab yang mau nggak mau harus diselesaikan. Rapot anak-anak tengah semester gue kerjakan dengan tangkas via microsoft word. Gue yang dari awal cetak-cetik masukin nilai ke aplikasi dengan sungguh-sungguh akhirnya bermuara juga ke sistem manual.

Terus ini sebenernya aplikasi buat apaaaaaan???

Nggak mau kesel terus-terusan, akhirnya nilai rapot anak berhasil gue selesaikan tengah malam dengan terengah-engah sebelum besoknya dibagikan. Itu semua terjadi berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan serta didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat guru di sekolah menyatakan dengan ini kemerdekaannya.


Sebenarnya dari pihak sekolah juga nggak menyangka akan jadi seribet ini. Waktu awal pengen dibuatin aplikasi buat mengolah nilai siswa, dari pihak sekolah taunya dengan dana sekian aplikasi siap digunakan dengan segala pesona kemudahannya. Sayangnya, aplikasi yang digadang-gadang akan membuat penyimpanan arsip nilai lebih nyaman justru menimbulkan keresahan di awal kemunculannya dan ujung-ujungnya pake manual juga.

Kala Guru Butuh Buku

Sebagai guru SD generasi milenial, gue lebih suka ngajar pakai smartphone dibanding pakai buku pelajaran. Alasannya, smartphone lebih simpel dan praktis dibanding buku pelajaran yang ukurannya lebih besar dan seringkali mesti ditekuk biar lebih enak digenggam pas lagi ngajar.

Banyak keuntungan yang gue dapatkan kalo ngajar pake smartphone. Pertama, praktis. Nggak usah nyari-nyari buku pelajaran di tumpukan meja guru karena semua udah ada di smartphone dengan versi pdf. Kedua, bisa nyari halaman di buku pelajaran versi pdf lebih cepat dibanding pakai buku pelajaran cetak yang kadang mesti jilatin jari tangan dulu biar lengket. Ketiga, sambil pura-pura ngajar gue bisa sesekali ngecek notifikasi sosial media... sambil kepoin IG mantan.

Meskipun udah sok-sokan jadi guru masa kini. Gue tetaplah guru yang menjunjung tinggi kearifan lokal sebagai guru SD di mana yang namanya guru identik dengan buku paket. Jadi, se(sok)milenial-milenialnya gue, tetep aja ada kalanya gue kalo ngajar butuh yang namanya buku paket.

Sayangnya, kadang untuk mendapatkan kebutuhan buku paket yang mencukupi standar belajar anak-anak tidaklah mudah. Gue udah sering nulis keresahan gue di blog ini kalau usaha ngedapetin buku di kota gue yang minim toko buku jauh lebih susah daripada ngedapetin mantan yang udah jadi milik orang lain.

Gue emang orang yang suka baca buku, seringkali untuk beli novel-novel terbaru gue mesti pergi ke gramedia di kota tetangga yang jaraknya kurang lebih sejam dari kota gue. Apalagi untuk ngedapetin buku paket pelajaran yang bermacam-macam. Di kota gue pilihan buku pelajarannya bener-bener enggak lengkap. Yang banyak dijual di kota gue justru buku teka-teki silang dan buku-buku latihan jurus silat, gue enggak tertarik beli karena gue guru SD bukan guru silat.

Kebetulan tahun ini gue ngajar anak kelas 3 SD. Pembelajarannya mesti tematik, jadi bentuk pembelajarannya mesti pake ‘tema’ yang nanti berhubungan dengan beberapa mata pelajaran yang saling berhubungan dikemas dalam satu pembelajaran.

Nah sebagai guru penganut tematik, minimal gue butuh beberapa buku pegangan untuk satu mata pelajaran juga untuk membandingkan isi materi yang ada dan juga untuk variasi soal latihan anak agar tidak melulu mengandalkan internet.

Karena nggak mau mengandalkan buku paket alakadarnya dan  Buku Sekolah Elektronik yang ada di smartphone, gue pun mencoba mencari paket buku tematik sekolah dasar di toko online yang bertebaran dimana-mana.

Butuh waktu yang cukup lama buat gue untuk menentukan toko online yang akan gue order. Gue nggak bisa asal beli di toko online karena gue pernah trauma kena tipu belanja lewat online. Gue udah transfer duit tapi barang pesanan nggak pernah sampai ke rumah gue.

Oleh karena itu gue bikin pertimbangan beberapa hal sebelum belanja online. Pertama, harus terjamin keamanannya. Kedua, metode pembayarannya enggak ribet. Ketiga, bisa nyari ekspedisi kurir pengiriman yang sesuai. Keempat, banyak tersedia buku pelajaran yang dipengen, jadi belinya bisa sekalian.

Memang banyak toko online yang hampir kriterianya mendekati pertimbangan yang gue sebutkan di atas. Sayangnya, tidak semuanya bisa masuk kategori, kebanyakan penjual bukunya enggak terlalu lengkap. Setelah memilih-milih dengan khidmat, akhirnya gue memilih untuk beli di toko online Tokopedia karena kepraktisannya.


Gue bisa memilih buku sesuai budget minimal sampai maksimal. Gue juga bisa memilih untuk mencari penjual yang lokasinya paling dekat dengan kota gue untuk meminimalkan ongkos kirim. Selain itu, gue juga bisa memilih dukungan pengiriman yang gue kehendaki.

Setelah gue order buku yang gue pengen, gue nggak perlu pusing mikirin cara pembayaran yang sulit karena Tokopedia juga bisa bayar di Indomaret dan Alfamart. Kalau udah bayar, nggak usah bingung mesti ngapain lagi karena proses pembayaran kita bakal diproses secara otomatis oleh Tokopedia dan tinggal nunggu pesanan diproses oleh penjual. Buku akan sampai dengan indah ke alamat rumah. Gue pun jadi bisa ngajar dengan variasi buku paket yang layak.

Tagline Baru, Diary Teacher Keder


Diary Teacher Keder.

Yap.. ini adalah tagline baru yang gue pake buat blog ini. Mungkin ini emang kelihatannya nggak penting sih, tapi nyatanya gue mau aja niat-niatnya ngerubah tagline blog gue setelah sekian lama bertahan dengan Lelaki gagal Gaul. Otomatis, dengan berubahnya tagline di blog gue ini. Gue juga menampilkan header baru untuk menunjang kepantasan tagline yang gue pake dan biar terlihat lebih fresh.
  

Kenapa Diary Teacher Keder?

Soalnya gue nggak kepikiran lainnya lagi. Bisa dibilang tagline ini gue pakai untuk mem-branding blog gue. Tujuannya biar ketika ada orang yang kesasar ke blog gue atau temen blogger yang main ke blog gue tau kalo blog ini yang punya seorang guru tapi tidak mencerminkan sosok guru pada umumnya.

Kalau diary mungkin semua udah paham apa artinya, ya. Teacher Keder, Teacher artinya guru dan Keder dari bahasa jawa artinya bingung. Jadi kalo disederhanakan artinya Catatan Guru Bingung.

Maksudnya, gue nggak akan menuliskan hal-hal yang biasa dilakukan oleh seorang guru seperti keceriaan saat mengajar, pengalaman menyenangkan bersama anak-anak, atau kegiatan-kegiatan sekolah pada umumnya.

Bukan berarti blog yang punya kategori kayak di atas yang gue sebutkan jelek ya. Gue cuma pengen blog gue keliatan beda aja.

Gue pengen mengisi blog ini dengan hal-hal unik atau nyeleneh yang nggak biasa. Misalnya pengalaman apes gue atau apesnya anak-anak saat di sekolah, atau kelakuan guru di sekitar gue yang nyeleneh. Gue sengaja nggak nulis pengalaman lucu karena gue tau diri kadang tulisan gue bukannya lucu tapi malah garing.

Ya, mungkin bisa dibilang blog ini akan penuh dengan aib orang lain. Mau gimana lagi, gue pinternya cuma ngumbar aib orang lain aja. Tapi gue tetep bakal menyamarkan nama orang yang gue tulis kok, ngumbar aibnya juga bukan ngumbar aib yang bener-bener ‘aib’, gue nggak seheboh ibu rumah tangga yang tangguh ngerumpi sambil belanja sayur di lingkungan komplek kok.

Selain itu, gue juga nggak pengen nulis kegiatan-kegiatan sekolah karena gue nggak mau nyebutin identitas sekolah gue. Gue khawatir aja, nantinya ada orang browsing mau daftar di sekolah tempat gue ngajar, lalu kesasar di blog ini, baca-baca tulisan di blog ini lalu jadi mengurungkan niat buat daftar karena gurunya kayak gue.

Niatnya blog ini berbagi pengalaman gue sebagai guru, tapi dari sisi yang enggak pentingnya. Bukan sisi yang menginspirasi dan hal positif lainnya. Walaupun nantinya apa yang gue tulis nggak melulu soal cerita apesnya gue sebagai guru. Ya, intinya setiap blog perlu banget punya branding sendiri. Gue pengen blog ini dikenal sebagai blog dengan keseharian seorang guru yang ‘beda’.

Apa yang gue tuliskan di atas udah jadi rencana gue yang nggak terlalu muluk. Tapi kalo ternyata nanti di tengah jalan mendadak gue jadi males nulis, blog jarang diupdate, komentar jarang dibalesin. Ya... namanya juga kehidupan. Gue cuma bisa berencana, Tuhan yang menentukan, males yang jadi alesan.

Duh... Smartphone Gue Jatuh!

 
Kehidupan seorang guru di sekolah gue nggak bisa dilepaskan sama sesuatu yang namanya smartphone. Gimana enggak, komunikasi sama orangtua siswa jadi sesuatu yang wajib di sini, harus banget dilakuin, intinya sama wajibnya kayak mandi junub deh.

Jadi, gue harus senantiasa menginformasikan segala sesuatu yang ada di sekolah pada orangtua siswa. Gue juga harus senantiasa siap menjadi pembaca yang baik kalau ada orang tua yang curhat tentang anaknya yang suka pelit kalo lagi makan permen split. Pas gue tanyain kenapa anaknya bisa pelit gitu, mamahnya niruin omongan anaknya yang bilang, “Habis mah.. permen split enak sih.”

Gue pun memahami perasaan anak-anak yang permennya nggak rela dibagi-bagi.

Sebenernya gue sih nggak masalah sama kebiasaan yang satu ini, toh tiap bulan juga gue dapat jatah pulsa dari sekolah buat komunikasi sama orang tua. Pokoknya demi keberhasilan belajar anak, gue siap untuk komunikasi dengan orang tua meskipun gue nggak pernah siap kalo diminta buat komunikasi sama mantan.

Selain balesin chat dari orang tua, gue juga suka pake e-book mata pelajaran di smartphone biar lebih praktis, juga biar gue nggak repot nenteng-nenteng buku melulu sambil coret-coret spidol di papan tulis, itu nggak keren. Gue pengen jadi guru masa kini yang gaul. Masa.. guru masa kini ngajarnya masa gitu.

Pernah waktu itu gue lagi asik ngajar di kelas sambil memegang erat smartphone di tangan kiri. Pas lagi mencoba niruin gerakan pesawat yang lepas landas. Tiba-tiba smartphone gue merosot dari tangan gue. Mendarat secara slowmotion dengan ujung kiri atas smartphone menyentuh lantai lebih dulu.

Gue kaget. Anak-anak malah pada ngetawain nasib apes gue. Merasa paling berwenang di kelas, gue langsung meminta anak-anak nulis istighfar karena udah ngetawain guru masa kini sebanyak tiga puluh kali. Mereka kaget, gantian gue yang ngetawain mereka. Tapi akhirnya kami berdamai, gue nggak mau disebut kayak Presiden Korea utara, Kim Jong Un yang terlalu gampang mengeluarkan perintah eksekusi.

Gue memungut smartphone gue yang terbengkalai di lantai dengan posisi tengkurep. Begitu gue ambil, gue shock! Ujung layar atas smartphone gue retak! Rasanya mencelos banget, khawatir smartphone gue jadi enggak bisa dipakai lagi, mesti masuk service HP berhari-hari. Gue bakalan kembali jadi guru masa lalu yang tiap ngajar kemana-mana bawanya buku paket mulu. Tapi untungnya, setelah gue elus-elus layar sentuhnya, semua masih berfungsi normal.

Gue meratapi keretakan layar smartphone yang ada di tangan gue sambil menatap nanar layar smartphone yang retak. Gue menyalahkan posisi jatuh yang tidak menguntungkan. Ternyata, walaupun smartphone gue udah pake pelindung layar Corning gorilla Glass 4 yang diklaim lebih tahan banting, kalo udah jatuh ya tetep aja bisa retak.

Sesaat gue langsung browsing nyari tau berapa biaya servis LCD yang retak buat smartphone gue. Nggak butuh waktu lama buat kaget, detik itu juga gue shock ngeliat harga servis yang sampai lima ratus ribu rupiah buat sekedar ganti layar smartphone.

Seharian gue melamun mikirin nasib layar smartphone yang udah enggak elok lagi buat dipandang. Sampai akhirnya, gue menyadari kalau ini semua sebenarnya salah gue sendiri. Gue terlalu percaya diri sama label Corning Gorilla Glass 4, gue jadi takabur enggak mau pake aksesoris macem-macem buat smartphone gue.

Coba kalau dari awal beli smartphone gue mau nengok flipcover buat smartphone gue, mungkin jatuhnya bakalan lebih safety. Coba kalo dari awal beli smartphone gue mau nambahin aksesoris iring buat smartphone gue. Mungkin smartphone gue malah enggak bakalan jatuh karena ada cincin yang bikin smartphone aman di jari gue.

Nggak mau terulang kejadian yang memilukan kayak siang tadi. Gue langsung browsing buat nyari aksesoris smartphone yang bikin smartphone gue jadi semakin terlindungi. Pas lagi buka Google, nggak sengaja gue nyasar ke website duahari.com dan wow.. ternyata disini ada banyak aksesoris smartphone dengan harga terjangkau yang bikin gue nyesel dalam hati, “Kenapa gue baru ketemu sama duahari.com sih sekarang sih!”

Ngeliat tampilan website yang nyaman jadi bikin gue betah berlama-lama berselancar ngeliat produk-produk yang dijual. Segala macam aksesoris smartphone mulai dari layar tempered glass, kabel usb, sampai powerbank semuanya ada disini. Mantap!

Dan ternyata, nggak cuma aksesoris smartphone aja yang dijual disini. Ada banyak kategori barang yang dijual dengan harga cihuy.

Mulai dari kebutuhan ibu dan anak, mobil dan motor, sampai kebutuhan untuk rumah dan taman juga tersedia di duahari.com.

Satu hal yang bikin gue tambah yakin untuk belanja disini adalah layanan pelanggan 24 jam yang bisa dihubungi via telepon dan email. Jadi kalo ada sesuatu yang pengen ditanyain bisa langsung hubungi customer servicenya.


Nggak butuh waktu lama, gue langsung nemu aksesoris yang gue butuhkan dengan harga terjangkau di duahari.com untuk smartphone gue. Dengan segala kemudahan yang diberikan sama duahari.com, kayaknya gue bakalan langganan belanja disini deh.

Setelah Setahun


Setahun ngejalanin semuanya di sekolah baru, ternyata gue bisa betah juga.

Padahal awalnya gue sempet ngerasa pesimis bisa bahagia di sekolah ini. Sekolah dasar yang paling mahal di kota gue, jumlah siswanya hampir enam ratus, dan pulangnya sore terus. Gue yang biasa ngajar di sekolah yang SPPnya gratis, jumlah siswanya nggak sampe seratus biji, dan sebelum jam dua belas udah pulang jelas kaget dengan keadaan ini.

Gue pindah ke sekolah ini karena keadaan. Sekuat apapun gue berusaha, gue harus angkat kaki dari sekolah yang lama. Sekolah gue bakalan digabung dengan sekolah sebelah karena sekolah gue kekurangan murid. Gue yang merasa nggak akan dapat kesempatan untuk jadi wali kelas kalau sekolahnya digabung mencoba peruntungan di sekolah yang paling elit di kota gue. Ya.. gue emang keliatan agak nggak tau diri.

Gue masih ingat waktu harus menjalani berbagai tes di sekolah yang elit ini. Gue harus mengerjakan soal pengetahuan umum. Dan banyak yang nggak bisa gue kerjain, mau buka google tapi nggak ada peluang, mau liat peserta sebelah, soalnya beda. Akhirnya gue mau pasrah aja sama nasib.

Berikutnya adalah gue mesti tes mengaji. Gue berhasil membaca surat wajib yaitu Ad Dhuha dan Al Kafirun dengan riang setelah beberapa hari sebelumnya terus hafalan surat ini. Berikutnya, gue harus tes melanjutkan ayat  Al Qur’an yang ada di juz 30. Di depan gue saat itu ada tiga buah amplop yang harus diambil salah satu. Lalu dengan penuh ketidakyakinan, gue ambil amlop yang di tengah.

Gue melihat ayat yang ada di nomer satu. Ya.. gue harus melanjutkan ayat ini. Setelah menghela nafas panjang gue pun mengucapkan, “Yang ini saya nggak tau, Bu.”

Pengujinya manggut-manggut lalu bilang, “Coba ayat yang kedua diteruskan.”

Gue menatap rangkaian tulisan arab di depan gue dengan seksama, lalu mengucapkan, “Ini juga nggak tau, Bu.” Muka gue waktu itu beneran kayak lagi nahan boker mati-matian pas lagi berhenti di lampu merah namun akhirnya keluar dikit. Malu campur merasa bodoh.

Pada akhirnya dari lima ayat yang diberikan nggak ada yang bisa gue lanjutkan. Gue bener-bener ngerasa gagal sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya gue harus ngejalanin tes micro teaching atau praktek ngajar. Di sini gue harus menunjukkan kemampuan ngajar gue yang paling keren. Padahal di sekolah sebelumnya gue ngajarnya nggak pernah keren. Selalu nyuruh anak buka LKS, buka buku paket, kadang-kadang gue juga suruh mereka buka aib orang tua sendiri.

Sebenernya gue udah mempersiapkan dengan matang tes micro teaching kali ini. Gue udah menyiapkan media pembelajaran menggunakan kartu angka untuk mengajar kelas IV, cara mengajar juga udah gue konsep biar yang menilai gue nantinya minimal bisa bilang, “Kalo gue sih, oke... nggak tau kalo Mas Kumambang”.

Sayangnya... gue udah berencana, Tuhanlah yang menentukan. Ketika gue udah grogi namun optimis untuk ngajar kelas empat, ternyata gue mesti ngajar kelas lima. Astaghfirullah... gue bener-bener nggak kepikiran mesti gimana ngajarnya.

Akhirnya dengan kemampuan alakadarnya gue ngajar matematika tentang waktu, materi yang paling aman dibanding materi lain. Biar keliatan niat dan ada usaha, alat peraganya gue pakai jam dinding. Tadinya sih gue mau pakai Jamkesmas, tapi nggak jadi... sekarang udah ada BPJS.

Proses micro teaching berakhir dengan derasnya keringat yang membasahi seluruh permukaan kulit gue. Bukannya keliatan macho, gue keliatan dekil. Tapi nggak apa-apa, semua udah berlalu. Gue tinggal sadar diri, kalau peluang gue masuk sekolah ini hampir nol persen.

Dua hari setelah tes, kalau lolos harusnya gue dikabarin buat tes wawancara. Hari itu gue cemas banget, berharap dikabari tapi juga tau diri ngelihat hasil tes sebelumnya. Sampai keesokan harinya, ternyata gue nggak dapat telepon atau sms diminta lanjut wawancara. Oke, nggak apa-apa. Gue masih bisa melanjutkan hidup, mungkin sebagai guru SBK atau guru silat di sekolah gue yang udah melakukan fusion dengan sekolah sebelah.

Disaat gue udah menata diri untuk ikhlas melepas jabatan wali kelas. Beberapa hari kemudian gue dapet telepon dari seorang bapak yang gue enggak tau namanya. Bapak ini bilang, “Halo, ini Pak Edotz ya?”

“Iya, Pak.. ini siapa ya?”

“Ah.. apalah arti sebuah nama di dunia yang penuh nyinyir ini. Btw, Kemarin Pak Edotz nggak dateng wawancara kenapa?”

“Lah... wawancara apa ya Pak? Saya nggak dikabarin.”

“Yang kemarin Pak Edotz ikut tes di sekolah itu loh, yaudah... besok jam dua sore dateng ya buat wawancara di sekolah.”

Gue sempet bengong. Dih.. ini serius? Tapi sesaat kemudian gue sadar, lalu bilang, “Oh iya Pak.. siap. Besok sore saya dateng ke sekolah. Terimakasih.”

“Oke, sudah dulu ya Pak Edotz, jangan lupa maem, nanti sakit.”

“Iya Pak, Bapak juga ya.”

***  

Sore itu gue berhadapan dengan seorang bapak yang siap mewawancarai gue. Entah siapa namanya, belakangan gue sadar, beliau adalah salah satu pengurus yayasan di sekolah.

Gue ditodong dengan bermacam-macam pertanyaan. Beberapa diantaranya, “Menurut Pak Edotz, islam itu apa?”

Entah kenapa yang terlintas di pikiran gue waktu itu jadi Ustadz Maulana. Akhirnya dengan mantap gue jawab, “Islam itu indah, Pak.”

Bapak di depan gue itu manggut-manggut. Gue melanjutkan, “Islam itu indah... karena banyak kebaikan di dalamnya.”, sungguh jawaban yang sangat alakadarnya.

Selanjutnya, gue ditodong lagi dengan pertanyaan, “Kenapa Pak Edotz daftar di sekolah ini?”

Sambil membetulkan posisi duduk lebih tegap, gue menjawab. “Itu semua karena Allah, Pak.” Gue nunjuk ke atas. Bapak di depan gue bilang, “Subhanallah.”

Tadinya gue pengen jawab gitu. Tapi enggak jadi. Gue jawab apa adanya, sekolah gue mau ditutup dan gue tau ada informasi pendaftaran di sekolah ini, jadi gue nyoba daftar disini.

Ngomongin masalah daftar. Sebenernya orang yang paling antusias biar gue daftar di sekolah ini adalah kakak gue yang laki-laki. Dia guru SD juga, kebetulan ngajarnya deket sama sekolah yang mau gue daftarin.

Konon katanya, setiap ketemu sama guru di sekolah yang gue daftarin ini. Kakak gue selalu memporomosikan gue secara masif. Bilang gue lulusan guru SD asli lah, gue jago pramuka lah, hobi naik gunung biar keliatan cool lah, masih muda dan bisa diandalkan lah. Semua yang baik-baik diobral sama kakak gue ke guru sekolah yang gue daftarin. Mulai dari kepala sekolah sampai guru kelas yang ditemui tiap ada pertemuan antar sekolah. Padahal dari semua kebaikan yang diobral kakak gue, satu-satunya yang benar adalah gue lulusan guru SD. Lainnya nihil.

Sesi wawancara sore itu berakhir dengan damai. Beberapa hari kemudian, gue dapat kabar kalo gue ternyata diterima di sekolah ini. Hari itu juga gue langsung pergi ke toko buku buat beli Juz Amma ukuran paling kecil, kenapa gue harus beli Juz Amma? Karena konon katanya jadi guru di sekolah ini minimal harus hafal Juz tiga puluh.

sesampainya di rumah, Juz Amma itu sengaja gue kasih sampul warna coklat dan sampul plastik. Bukan biar awet dan keliatan lebih rapi, bukan. Ya, ini biar kalo gue buka Juz Amma di jalan enggak malu.

Sejak saat itu, tiap ada kesempatan gue selalu hafalan secara maraton. Di kelas, di masjid sekolah, di atas motor, di atas penderitaan orang lain, gue senantiasa hafalan. Alhamdulillah.. hasilnya sekarang jadi nggak terlalu malu-maluin.

Berbulan-bulan setelahnya, gue mulai bisa ngerti alasan kenapa gue bisa keterima di sekolah ini. Mungkin ini emang rejeki gue. Pas gue daftar, sekolah lagi butuh guru cowok, lulusan PGSD dan bisa ngajar pramuka. Gue memenuhi semua kualifikasi di atas dibanding peserta lainnya. Walaupun sebenernya gue bukan anak pramuka, tapi  setidaknya ijazah Pramuka Kursus Mahir Dasar telah menyelamatkan gue.

Sekarang, gue udah bisa cengar cengir di sekolah ini. Satu-satunya hal yang bisa menghilangkan segala cengar cengir yang ada adalah ketika gue dapat giliran buat khotbah Jum’at di sekolah sekalian jadi Imam.

Suka-Suka Ngomongin Toko Komik Online

Waktu kecil, gue hobi banget main ke persewaan buku dan komik buat nyewa komik bareng temen-temen. Bahkan saking seringnya baca komik, Bapak gue di rumah sampai marah-marah kalo ngeliat gue baca komik. Alasannya, daripada baca komik mending baca buku pelajaran.  Komik bikin males belajar. Komik bikin Bapak ingat mantan.  

Walaupun sering ditentang orangtua, gue tetep hobi baca komik diem-diem. Kadang baca di kamar,  kadang baca pas Bapak lagi pergi, kadang baca pas Bapak lagi nggak ingat mantan. 

Dulu waktu masih anak SD, gue emang cuma bisa nyewa komik aja, nggak mampu dan nggak tau caranya beli komik. Sekarang setelah jadi guru SD, gue lebih leluasa buat beli komik sekalian buat koleksi. Mengingat komik baru harganya mahal, gue lebih milih nyari komik bekas yang harganya manusiawi buat dikoleksi.

Masalahnya nyari komik bekas di kota gue nggak semudah ninggalin cewek yang lagi sayang-sayangnya, jadi gue kalo beli komik lebih sering lewat online. Karena keseringan mengamati para penjual komik yang ada,  gue pun jadi tau mana toko yang asik dan mana toko yang kurang bisa direkomendasikan.

Sebelum gue lanjut, apa yang gue tulis ini cuma berdasarkan pendapat gue pribadi ya. Namanya pendapat pribadi, nggak bisa dijadikan pembenaran secara mutlak. Setidaknya apa yang gue bahas bisa jadi masukan buat kalian yang mau beli komik juga. 

Nih,  gue komentarin toko komik online yang udah gue amati.

Nb : link toko update menyusul


Toko ini ada di Tokopedia. Pertama kesasar ke toko ini, gue lumayan shock. Harga komik-komiknya kebanyakan di atas sepuluh ribu semua. Bahkan gue nemu komik Si Botak Hagemaru 10 volume dijual lima ratus ribu, dan.... laku terjual.  

Mungkin karena toko ini udah punya reputasi mentereng dan langganan gold merchant harga mahal tetep banyak yang beli.

Btw, belakangan ini harga komik dibawah sepuluh ribuan juga lumayan banyak di toko ini. Sayangnya kurir pengirimannya terbatas.

Sepakbola Mania & Komik Mania

Dua toko ini ada di Tokopedia, pemiliknya adalah orang yang sama. Ini bisa dilihat dari foto produk yang dipakai, sama persis. Lokasi kotanya juga sama, di Cirebon. Toko ini punya poin cukup tinggi di Tokopedia, makanya jual komik harga mahal pun banyak yang mau. 

Emang sih stok komik di tempat ini melimpah. Komik yang susah dicari kebanyakan ada disini, kondisinya gue lihat juga kayaknya masih mulus-mulus. Tapi, gue pribadi menghindari transaksi di toko ini karena harganya nggak ramah buat gue. Liat-liat aja deh etalasenya, banyak komik pasaran yang masih gampang dicari terbitan Level Comics mereka banderol 35 ribu per komik. Wow! 

Luna Comic

Gue udah dua kali beli komik disini, emang penjualnya ramah. Tapi harganya nggak terlalu ramah. Walaupun nggak mahal-mahal banget sih. Luna Comic ini bisa nyariin komik cabutan yang susah dicari. Kemarin gue nyari komik Shoot! volume 12 nemu disini, harganya dua puluh ribu. Tapi wajar, soalnya gue cari dimana-mana nggak nemu. 

Karena sayang kalo ongkos pengiriman buat satu kilo cuma diisi satu komik. Gue pun sekalian beli komik lain, nah... komik lain yang gue beli ini harganya di atas sepuluh ribu. Termasuk kurang ramah buat beli borongan. 

Btw, link-nya nyusul, gue nyari alamat tokonya nggak ketemu.

Myhobbysportstore

Kalo mau nyari komik yang harganya sepuluh ribuan kesini aja,  tapi kebanyakan nggak lengkap volumenya. Jadi mesti kudu selektif nyari komik yang emang diperlukan. Gue beberapa kali order di tempat ini, salah satunya buat ngelengkapin komik Samurai Deeper Kyo, Sentaro, City Hunter dll

Kadang komik yang biasa-biasa aja pun dijual harga sepuluh ribu,  kebanyakan dijual harga rata.  Buat komik nggak fullset, yang volumenya bolong-bolong harga segitu termasuk mahal. Tapi kalo boleh dibeli nomer yang dibutuhkan aja bisa jadi ikutnya murah, karena nyari komik buat ngelengkapin nomer komik yang kita punya biasanya rada susah.

Komik Novel Bandung

Toko ini koleksinya banyak yang bikin ngiler. Komik-komik langka banyak yang tersedia di etalasenya. Sayangnya, harganya bikin menelan ludah. Komik-komik lainnya juga sama, harganya bisa di atas sepuluh ribuan. Bahkan untuk komik dengan kualitas bekas rental yang ada staples pinggir dan cap stempel rental, harganya tetap di atas sepuluh ribuan.

Novel anak kayak Goosebumps aja per bijinya 19 ribu,  Lupus 15 ribuan. Banyak deh komik lainnya yang harganya mencengangkan.

Jambusari Komik

Gue perlu berterima jasih sama Jambusari Komik, karenanya gue jadi bisa ngelengkapin volume komik Gash Bell yang susah banget nyarinya. Berbulan-bulan lamanya gue udah ubek-ubek kemana-mana tapi nggak nemu-nemu.

Walaupun begitu, Jambusari tergolong mahal karena harga komiknya rata-rata sepuluh ribuan ke atas dengan kualitas eks. rental. Gue sempet liat juga, ada orang yang tanya berapa harga komik Kungfu Komang,  tapi malah dijawab,  "Yang ini mahal Kak, buat kolektor yang minat.", seolah-olah yang nanya kayak nggak mampu beli. 

Butet Nasution

Toko ini biasa jualan di Facebook dan dia juga punya toko buku beneran di Jakarta. Dia juga banyak resellernya. Nah, akhir-ini gue lagi suka baca novel Enid Blyton sama Agatha Christie. Mengingat ongkos kirim pakai JTR / JNE Trucking cuma lima puluh ribu dengan minimal berat 10 kilo, akhirnya gue borong novel disini. 

Gue udah niat mau langganan disini,  sayangnya gue harus di PHP in berkali-kali. Pesenan gue nggak dikirim-kirim. Pertama bilangnya, nunggu dijemput kurir wahana. Beberapa hari kemudian, bilang nunggu kurir JNE dateng. Besoknya bilang kalo pake JTR mesti nunggu 10 dus dulu baru kurirnya ngambil biar kurirnya nggak rugi bensin. Padahal setau gue, orang kalo mau kirim ya tinggal kirim aja. Bayangin aja nunggu 10 dus baru kirim,  kalo gak ada 10 dus.. bisa-bisa paket gue gak pernah dikirim. Tapi gue coba santai toh nggak terlalu buru-buru mau baca.

Masalahnya, lama kelamaan, ini orang mundur mulu bilangnya. Akhirnya setelah gue ngotot minta segera dikirim kalo gak terpaksa refund. Akhirnya gue dikasih resi pengiriman juga, tapi cuma alamat gue yang difoto, nomer resinya enggak. Dan begitu gue mengamati, ternyata kirimnya pake JNE OKE bukan JTR.  Kan ngeselin, jadi apa artinya mesti nunggu 10 dus coba.

Lebih ngeselinnya lagi, buku yang dateng ke rumah ternyata kurang. Lima puluh novel Agatha Christie gue belum sampe. Karena males di-PHP-in gue bilang mending refund aja, mundur-mundur mulu. Sampai sekarang udah sebulan, gue masih nagih mulu novelnya buat dikirim. 

Karena penasaran, gue puncoba kepoin Facebooknya. Dan ternyata ada beberapa juga yang nasibnya kayak gue. Diputer-puter mulu masalah resi. Jadi nggak cuma gue yang ngalamin kekampretan ini. Fix, gue nggak akan belanja disini lagi. 

Alphacomicshop

Gue kenal Alphacomicshop sejak awal-awal buka toko di Tokopedia dengan reputasi bintang perunggu masih dua biji. Waktu itu harganya lumayan murah, bahkan ada komik yang dijual lima ribuan.  

Makin kesini makin tinggi reputasinya, harga komik di Alphacomicshop ini nggak semurah awal-awalnya. Bahkan mulai ngasih harga jauh dari kata standar. Bagaimanapun juga, toko ini emang koleksinya banyak banget. Bahkan nggak cuma di Tokopedia, tapi toko ini juga buka cabang di  Bukalapak,  Kaskus,  Shopee sampai web sendiri juga punya. Pokoknya niat banget jualan komik.

Sayangnya, kadang harga nggak sesuai sama kualitas, komik kondisi eks. Rental, penuh staples, cover lusuh dijual sepuluhribuan ke atas. Tapi kalo kalian ngerasa nggak ada masalah sama kondisinya sih nggak apa-apa. Sekarang sih kayaknya malah lagi ngadain diskon nih toko.

Btw, gue pernah punya pengalaman nggak enak sama Alphacomicshop. Ceritanya gue beli banyak komik di toko ini, beratnya sampai enam kiloan. Mengingat toko ini ada di luar pulau Jawa, jadi yang harus gue hadapi adalah ongkir yang terjangkau. Akhirnya gue milih buat pake layanan paket pos biasa. Murah tapi sampenya lama. Gue hanya harus sabar. 

Masalahnya adalah gue udah sabar banget nunggu dua minggu karena gue percaya aja sama toko ini, tapi dipikir-pikir kok ini komik nggak nyampe-nyampe padahal udah lumayan lama juga. Akhirnya gue pun coba inbox buat minta resi, dan dibalesin muter-muter. 

Alasannya resi di toko dan dia lagi pulang kampung, beberapa hari nggak ada kabar dia alasan lagi toko lagi tutup dianya nggak enak badan. Sampai akhirnya dia jujur kalo barangnya ternyata belum dikirim karena kesalahan pegawainya. Oke, dua minggu yang sia-sia. Cukup tau buat Alphacomicshop. Kalo ternyata ada pegawai di toko kenapa gue dia mesti alesan pulang kampung dan lain sebagainya coba.

kinantikomik

Kinanti Komik ini harganya standar. Terlalu mahal enggak,  terlalu murah juga enggak. Di toko ini,  kita masih bisa nemuin komik dengan harga tujuh ribu lima ratus sampai sepuluh ribuan. 

Kinanti komik ini ada dimana-mana. Ada webnya, ada juga di Bukalapak,  Tokopedia, sampai Shopee.

Haki Toko

Kebanyakan komik yang ada disini dihargai sepuluh ribuan, menurut gue ini wajar sih.. kenapa? Karena komik yang dijual kebanyak fullset, volumenya sampai tamat. Jadi menurut gue itu wajar.  Bahkan kadang ada komik langka yang harganya tetep sepuluh ribuan.

Sayangnya, gue lihat di ulasan para pembeli banyak yang ngeluh sama kualitas komiknya. Bahkan yang dikirim ada yang nggak sesuai. Bilangnya komik lengkap, ternyata ada volume yang bolong. Bukannya apa-apa, nyari komik cabutan (volume tertentu) kadang nggak gampang loh. Sama aja mesti ngubek-ngubek toko online lagi, dan ongkos kirim lagi. 

Gue pernah beli komik Zenki di Haki Toko, alhamdulillah lumayan. Komik langka tapi harganya sepuluh ribuan. Padahal di tempat lain harganya udah nyampe empat ratus ribuan.

Milori Shop & Interest Shop

Kedua toko ini pemiliknya sama, walopun produk yang dijual nggak sama. Tapi yang jelas harganya sama-sama terjangkau. Gue pernah beli komik Kenji vol 1-21 di Milori Shop per komiknya cuma tujuh ribu rupiah. The Law Of Ueki 1-16 di Interest Shop harga per komiknya tujuh ribu lima ratus ribu rupiah. Buat gue ini terjangkau banget. Bahkan komik Kotaro yang di tempat lain harganya udah jutaan di toko ini harganya nggak sampe lima ratus ribu.

Harga komik, novel dan majalah lainnya juga terjangkau banget. Yang bikin gue suka lagi adalah dukungan pengirimannya lengkap. Ada JNE,  wahana sampai pos. Gue jadi bisa milih mana yang paling murah sampai kota gue. 

Ocean Book Store

Ocean Book Store ini ada di Facebok. Sebenernya harga komiknya standar, ada yang mahal ada yang murah, tapi kadang suka bikin ngiler kalo lagi ngasih promo. Contohnya bulan Desember kemarin, toko ini ngasih diskon 50% untuk semua komik. Gara-gara promo ini gue bisa dapetin komik yang tadinya pengen dibeli tapi nggak kesampaian. 

Kalo diitung-itung, kayaknya udah ribuan komik yang gue beli di tempat ini. Mulai dari serial misteri, komik oneshot, shonen star, shonen magz, sampai komik fullset. Kayaknya cuma disini gue nemuin komik yang harganya cuma dua ribu lima ratus, lima ribuan tapi judulnya oke banget.  Makanya gue khilaf. 

Masalah ongkos kirim juga nggak terlalu jadi masalah karena bisa pakai ekspedisi Cobra yang puluhan kilo ongkirnya cuma kena seratus ribu.  Karena keseringan beli,  kalo ada komik murah yang punya toko langsung nawarin ke gue.  

Terakhir,  kenapa Ocean Book Store bener-bener toko komik yang asik? Cuma disini gue bisa nemu novel Agatha Christie,  Sherrylin Kenyon,  Raditya Dika dan puluhan novel lainnya dengan harga cuma delapan ribu rupiah. Dan yang bikin geleng-geleng kepala, gue ditawarin novel Harry Potter original set 1-7 dengan harga per novel 25 ribu rupiah belum diskon 50%.

Asli deh,  bener-bener toko ini murahnya kebangetan. Btw, biasanya toko ini ngadain promo harga murah setiap akhir tahun. Tapi kayaknya Ocean Book Store udah gak aktif jualan lagi. Mungkin karena terakhirnya semua bukunya dipasrahin ke gue buat diborong.

***

Belakangan ini gue emang lagi betah banget baca komik. Itu sebabnya akhir-akhir ini gue jarang banget baca novel. Palingan sesekali buat selingan aja. Karena banyaknya komik di rumah gue, banyak yang sekali baca langsung gue jual lagi. Duitnya gue pake lagi buat beli komik lainnya.

Btw, kalian sendiri punya rekomendasi tempat jualan komik atau punya pengalaman unik beli komik? Share ya...