Saat Sekolah Butuh Kamera


Setelah beberapa bulan menikmati kerjaan di sekolah baru, ternyata ada banyak perbedaan yang gue rasakan. Selain waktu pulang sekolah yang lebih sore dari sekolah yang dulu, dan juga waktu tidur siang yang kini telah tiada. Di sekolah gue yang baru, gue juga mesti siap banyak tenaga karena sekolah ini sering banget ngadain kegiatan.

Yap, jadi guru di sekolah yang baru ini gue jadi rajin banget beraktivitas. Pokoknya ada-ada aja deh kegiatannya. Beberapa minggu yang lalu, sekolah gue baru ikutan kegiatan perkemahan bagi para siswa penggalang bersama beberapa sekolah dalam daerah binaan yang sama. Selanjutnya, bakalan ada agenda Super Camp, dan yang nggak kalah gede bakalan ada ‘Kemah Wilayah’ di Magelang selama lima hari, sekolah gue bener-bener super kalau masalah kegiatan di luar sekolah.

Nah, setelah sebelumnya gue kebagian jadi sekretaris kegiatan dimana gue harus akrab sama yang namanya surat menyurat. Untuk agenda Super Camp dan ‘Kemah Wilayah’ gue kebagian jadi seksi dokumentasi. Padahal gue udah mengajukan diri buat jadi seksi konsumen yang ngabisin stok seksi konsumsi, tapi ditolak. Gue juga coba mengajukan lagi buat jadi seksi bisu, malah mereka yang mendadak bisu, seolah-olah nggak peduli sama keberadaaan gue.

Entah apesnya gue atau emang gue pembawa sial. Mendadak kamera yang biasa dipakai buat kegiatan sekolah jadi rusak, suka nge-zoom sendiri--padahal nggak diapa-apain, udah gitu suka diem nggak bisa diapa-apain. Mengingat usia  kamera yang udah tua, akhirnya gue mengusulkan buat beli kamera baru aja. Kebetulan sekolah gue termasuk sekolah yang elit, yang kalo butuh sesuatu nggak perlu pusing masalah pendanaan.

Gue dan beberapa guru pun berdiskusi masalah kamera yang mau dibeli. Beberapa mengusulkan kamera DSLR biar hasilnya lebih mantap dan bisa dipakai buat jangka panjang. Setelah gue tanya, kamera DSLR itu kamera yang kayak gimana, jawabannya cuma “Kamera yang jepretannya bagus itu loh...”, sesimpel itu, sekarang gue yakin guru yang jawab tadi nggak tau apa itu kamera DSLR.

Mengingat perkembangan teknologi yang makin kesini makin cihuy, gue mengusulkan ke mereka lebih baik sekolah membeli kamera mirrorless yang lagi booming akhir-akhir ini. Emang apaan sih kamera mirrorless itu? 

Setau gue, intinya sih kamera mirrorless berarti kamera tanpa cermin. Istilah mirrorless lebih tepatnya mengacu pada mirrorless interchangeable lens camera (MILC), yaitu kamera yang lensanya bisa dilepas-pasang atau diganti, tetapi tidak dilengkapi cermin seperti DSLR. Absennya cermin ini secara langsung berdampak pada ukuran kamera mirrorless yang umumnya jauh lebih ringkas ketimbang DSLR.

Alasan lebih praktis dan enggak ribet adalah salah satu hal yang bikin kamera mirrorless akhir-akhir ini lagi booming. Ukuran yang lebih simpel dan bobot yang lebih ringkas pastinya akan lebih praktis kalau dibawa kemana-mana buat seksi dokumentasi  kayak gue. 

Setelah penjelasan yang gue paparkan tadi, sekolah gue setuju untuk lebih memilih kamera mirrorless buat inventaris sekolah. Lalu, gue diberikan mandat buat nyari kaamera mirrorless yang sesuai kebutuhan dan dengan harga terbaik tentunya. Untuk masalah ini gue jelas ngerasa siap banget karena gue udah tau dimana harus nyari kamera mirrorless yang meyakinkan dan banyak pilihan. Yap, gue hanya perlu melihat-lihat koleksi kamera mirrorless terbaik di MatahariMall. Kenapa?

Berbagai macam jenis kamera mirrorless yang diinginkan, lengkap ada di Mataharimall--tinggal kitanya aja pengen yang kayak gimana? Mulai dari rentang harga, merek kamera sampai yang ngasih diskon semuanya ada.

Misal, kita pengen nyari kamera mirrorless yang harganya lima sampai tujuh jutaan. Tinggal isi aja pada kolom ‘HARGA’ yang sudah disediakan Mataharimall, setelah itu klik ‘SUBMIT’, nantinya akan muncul daftar kamera dari harga lima juta sampai tujuh jutaan yang bisa kalian pilih. Praktis.



Kalau pengennya nyari yang lebih spesifik lagi gimana? Nggak usah khawatir, ada juga fitur STORAGE CAPACITY, CAMERA RESOLUTION, OPTICAL ZOOM, SCREEN SIZE sampai pilihan warna yang bisa kalian pilih. 


Jadi buat kalian yang suka naik gunung, bikin foto-foto unik dan ngerasa kamera DSLR udah terlalu ribet. Kalian sepertinya mesti nyoba buat liat-liat koleksi kamera mirrorless terbaik di MatahariMall.

Jangkrik, Boss! Part 1 : Lucunya Full, Nggak Setengah-Setengah

 

Beberapa hari yang lalu, akhirnya rasa penasaran gue akan film Jangkrik Boss! Part 1 tuntas terjawab juga. Jujur aja, gue nggak nyangka kalau gue harus melakukan ritual antri tiket yang cukup panjang demi nonton film ini. Udah gitu, selama masa antri, gue dibikin was-was bakalan kebagian tiketnya apa enggak.

Emang sih, kalau hari ini nggak dapet, masih ada hari esok. Masalahnya, gue nonton di kota tetangga. Dan kebetulan gue lagi libur, cewek gue juga. Kalau sampai nggak kebagian tiket, bakalan susah lagi nyari waktu yang pas. Beruntung, gue masih kebagian nonton yang jam lima sore, meskipun rencananya mau nonton yang jam tiga sore. Yah, walaupun harus kebagian kursi nomor dua dari depan, dan nontonnya agak sedikit mendongak, tapi nggak masalah, daripada gue mesti nonton jam setengah sembilan malem. Pulangnya pasti males banget.

Seperti film komedi belakangan ini yang lagi hobi ‘make’ para stand up comedian buat ikutan main. Film Jangkrik, Boss! Part 1 ini juga ikutan tren yang satu ini. Fico, Bene Dion, Yudha Keling, Ge Pamungkas, Bintang Bete dan beberapa komika lainnya juga ikutan nampang di film ini. Selain itu, Awwe dan Bene Dion yang juga komika, ikutan nulis skenario film ini bareng sutradara.

Film ini nyeritain tentang Dono yang diperankan oleh Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian berperan jadi Kasino dan Tora Sudiro yang berperan jadi Indro. Awal-awal film ini kita akan disuguhkan sisi lain cara berkendara para penduduk kota Jakarta yang nyeleneh. Dilanjut dengan tingkah konyol Dono, Kasino, Indro yang ada-ada aja. Mereka adalah anggota CHIPS yang intinya memberikan pelayanan bagi masyarakat, hampir mirip kayak polisi gitu lah. Nah, sayangnya karena kelakuan mereka yang konyol, mereka bertiga justru sering terlibat banyak masalah bukannya membantu menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat.


Seperti saat mereka bertiga bareng Sophie, cewek anggota CHIPS cabang Perancis yang datang khusus membantu Dono, Kasino, Indro buat menangkap para begal yang sering meresahkan masyarakat. Nah, dari sinilah konflik cerita yang sesungguhnya dimulai, mereka harus mendapatkan sesuatu untuk menggantikan sesuatu yang diakibatkan karena ngejar sesuatu. Ribet nggak bahasa gue? Maklum lah... ini gue sedang berusaha untuk tidak spoiler~

Intinya sih, sepanjang nonton film ini, gue ngakak terus-terusan. Komedi yang ada dalam film ini bener-bener cerdas banget. Entah berapa kali gue ketawa lepas gara-gara adegan-adegan yang sungguh-sungguh kampret.

Salah satu adegan yang paling bikin ngakak adalah waktu mereka bertiga ngejar sesuatu dan sesuatunya nyamar jadi bapak di gambar biskuit kalengan yang namanya diplesetin jadi Kong Cuan. Sumpah, ‘HAHAHA’ banget! Kerennya lagi, ibarat pake teknik call back di stand up comedy, adegan Kong Cuan ini juga muncul lagi di adegan yang lain. Cerdas!

Nggak cuma menghibur dengan komedi sehari-hari, film ini juga ngasih kritikan tentang apa yang terjadi di Indonesia. Seperti emas di Papua yang dikuasai negara asing, bakar lukisan yang dipermasalahkan tapi bakar hutan nggak jadi masalah. Dan ada beberapa lainnya yang tentunya harus kalian tonton sendiri.

Uniknya dari film ini adalah Om Indro muncul sesekali dengan bermacam-macam bentuk yang sumpah aneh-aneh aja dan bikin ngakak mulu, udah gitu yang bisa lihat cuma Indro (Tora Sudiro) aja. Bentuknya jadi apa aja? Ntar tonton sendiri deh ya. Hahaha...


Satu hal lagi yang bikin film ini makin keren adalah adegan atau dialog yang pernah muncul di film Warkop DKI jadul, bisa muncul lagi di film yang baru ini dengan scene yang pas! Bukan dipaksakan ada atau dibuat-buat, tapi emang nyambung banget sama alur ceritanya.

Dan yang paling bikin ngakak lagi adalah waktu Kasino bilang pesawatnya retreat gara-gara pasta giginya Dono ketinggalan. HAHAHA.

Oh iya, buat yang bertanya-tanya kenapa film ini dikasih judul ‘Jangkrik, Boss! Part 1’, nantinya kalian bakalan temuin jawabannya di film ini, sambil ngakak tentunya.

Jujur aja, film ini adalah film yang bikin gue hampir ngakak terus sepanjang gue nonton film ini. Lucunya emang lucu, nggak maksa dan nggak garing. Kalau sebelumnya menurut gue film Single adalah film komedi yang paling lucu di tahun 2016. Setelah nonton Jangkrik, Boss! Part 1 ini gue langsung menobatkan film ini adalah film komedi terlucu yang pernah gue tonton. Jadi, kalo harus menilai dari angka satu sampai sepuluh, film ini gue kasih nilai 9,5.

Nol koma lima yang bikin film ini nggak sempurna adalah karena filmnya bersambung! Kampret kan, nanggung banget jadinya, semoga Part 2-nya nggak kelamaan nongolnya. Tapi sebenernya masih bisa dimaklumin sih, lah dari judulnya aja ada Part 1-nya, berarti kan bakal ada part selanjutnya. Semoga nggak sampai ngimbangin 2 Fast 2 Furious aja deh.

Oh iya, di akhir acara ada beberapa cuplikan adegan di balik layar proses pembuatan film ini, dijamin kalian pasti ngakak ngeliatnya!

Setelah Sebulan Lebih....


Setelah sebulan lebih gue ngajar anak kelas empat di sekolah yang baru,  satu hal yang perlu gue syukuri adalah bahwa ternyata gue sanggup melewati ini semua dengan keadaan lancar tanpa terkendala apapun.  Selanjutnya, gue tinggal berusaha suatu saat nanti, yang entah kapan,  gue juga bisa melewati jembatan Shiratal Mustaqim dengan lancar tanpa terkendala apapun. 

Pertama kali gue menginjakkan kaki di kelas empat yang baru, gue ngerasa kalo gue ini cowok lemah yang kayaknya gak sanggup buat memanggul beban berat yang ada di depan gue karena yang ada di hadapan gue adalah siswa yang orangtuanya luar biasa aktif. Anak-anaknya juga luar biasa enerjik, yang tiap minum air mineral dari gelas langsung pada teriak ROSO!

Perasaan khawatir kalau di tempat ini gue akan mengajar lebih berat ternyata terbukti. Anak-anak disini luar biasa aktif, sedangkan gue bentar lagi masuk masa tenggang. Belum sempet isi pulsa lagi.

Gue udah ngerasa perjalanan gue setahun ke depan bersama mereka tidak akan mudah sejak gue membuat kontrak belajar bersama mereka. Mereka benar-benar berisik, bahkan cewek yang lagi bergerombol satu meja di kafe aja kalah berisik. Mereka beneran susah dikendalikan. Gue merasa perlu memanggil sang pengendali anak buat mengatasi keberisikan ini. 

Udah gitu,  gue masih kesulitan beradaptasi di tempat baru.  Sekolah gue yang dulu,  jam dua belas palingan udah bisa pulang, sementara di sekolah yang baru pukul setengah empat gue baru bisa keluar sekolah, dengan nuansa kucel yang khas di wajah. Gue bener-bener sadar, didikan sekolah negeri sebelumnya membuat gue benar-benar terbuai akan romansa duniawi. Sekalinya pulang sore, kaget. Naik motor  bengong sambil megangin knalpot saking shock-nya.

Kalau di sekolah yang dulu tiap istirahat gue bisa nyuruh anak-anak buat beliin jajan, di sekolah yang baru hal itu rasanya musykil.  Jelas aja, gak ada orang yang jualan di lingkungan sekolah karena anak-anak udah dapet snack khusus dari sekolah. Kebiasaan gue makan bakso kuah tiga ribu rupiah tiap istirahat pertama pun terhenti disini.

Kegelisahan gue bertambah ketika gue ditunjuk jadi sekretaris buat acara kemah penggalang untuk sepuluh SD. Yap, gue jadi sekretaris, padahal di sekolah yang dulu, pegang surat aja gue bersin-bersin. Tapi lagi-lagi di sekolah yang baru, gue dipaksa harus siap. 

Jadi ceritanya gini, kenapa gue bisa sampai jadi sekretaris. Awalnya gue diajak guru kelas enam, sebut saja Pak Duhri, buat ikutan rapat persiapan pramuka di salah satu sekolah. Gue pun mengiyakan tanpa menimbulkan kegaduhan. Begitu sampai di lokasi rapat, ternyata waktu itu sedang pembentukan panitia. Beberapa saat kemudian, Pak Duhri yang duduk di sebelah gue, mendadak nerima telepon sambil berjalan keluar kelas. 

Dan ternyata itu terakhir kalinya gue ngeliat Pak Duhri di ruangan itu, gue ditinggal sendirian. Pak Duhri pergi nerima telepon tidak untuk kembali. 

Karena gue satu-satunya perwakilan SD, dan Pak Duhri yang tadinya ditunjuk masuk panitia nggak keliatan batang hidungnya, akhirnya gue yang batang hidungnya keliatan ditunjuk untuk jadi sekretaris. Gue cuma tertegun atas penunjukkan sepihak ini. Beberapa saat kemudian gue sadar ini konspirasi. 

Telepon yang masuk, lalu berjalan keluar kelas dan tidak pernah kembali lagi. Ini benar-benar rencana sempurna untuk memuluskan langkah gue jadi panitia perkemahan. Gue yakin ini bener-bener terencana dengan baik. Dan jadilah gue sekretaris yang harus mengurus kegiatan perkemahan dengan pengalaman minim yang ditambah kenyataan bahwa file surat-surat tahun sebelumnya raib entah kemana.

Balik lagi ke suasana kelas, gue juga harus tabah menghadapi kisah-kisah mereka yang penuh drama.  Bahkan konflik yang mereka ciptakan cukup luar biasa bagi anak seusia mereka. 

Kapan-kapan gue ceritain gimana konfliknya. Sekarang ini gue lagi kurang mood nulis lebih panjang lagi.

Setiap hari di kelas, gue harus bersikap keibuan ketika ada yang nangis karena diusilin temennya, juga ketika ada yang nangis karena jagoannya kalah pilpres, meskipun itu udah bertahun-tahun yang lalu. Walaupun gue tidak pandai menyusui layaknya ibu-ibu sesungguhnya,  minimal gue harus bisa bersikap penuh kelembutan. Gue harus bisa menenangkan mereka dan meyakinkan mereka bahwa hidup memang nggak semudah omongannya Mario Teguh. Toh, nyatanya hidup Mario Teguh aja akhir-akhir ini nggak semulus omongannya sendiri.

Pernah juga waktu itu gue baru pulang dari sekolah,  sejenak merasakan nikmatnya selonjoran sambil kipas anginan. Mendadak gue dapet telfon dari salah satu orang tua siswa.  

"Assalamualaikum Pak..."

"Walaikumsalam.. Iya ada apa Pak? "

"Ini Pak Edotz,  mohon maaf saya nggak bisa jemput Ivan. Minta tolong kalau bisa Pak Edotz nemenin Ivan dulu barangkali sendirian di sekolah.. Omnya bentar lagi baru mau jemput."

"Oh iya Pak,  siap...  nanti saya coba cari Ivan di sekolah." Kurang sigap apalagi coba gue jadi guru?

setelah prosesi ucapan terimakasih, gue bengong.  Ini sama aja artinya gue harus balik lagi ke sekolah nyari Ivan dan nemenin sampai jemputan datang.  

Sore itu, gue balik lagi ke sekolah untuk mendeteksi dimana keberadaan Ivan dan mengevakuasinya agar senantiasa berada dekat sama gue. Menjelang maghrib, jemputan Ivan baru datang. Gue bersykur cobaan ini nggak harus berlanjut sampai ba’da Isya’.

***

Gue emang termasuk orang yang enggak mudah beradaptasi. Gue nggak gampang buat basa-basi nyari obrolan ringan sama orang yang baru gue kenal. Itu sebabnya kenapa masa-masa pertama gue di sekolah baru rasanya tuh kayak kalah di pemilihan kepala desa cuma selisih satu suara. Yang bodohnya adalah guenya sendiri ternyata belum ikutan nyoblos.

Kalau dipikir-pikir, adaptasi gue di sekolah negeri yang dulu juga berat banget. Bahkan sampai berbulan-bulan lamanya gue belum bisa bener-bener nyetel sama guru di sekolah itu. Bayangin aja, rekan kerja gue kebanyakan guru yang udah berpengalaman puluhan tahun, yang udah pada punya anak seusia gue. Gue kan jadi mati gaya. Bahkan dulu gue sering lebih milih istirahat di ruang kelas karena malu mesti nimbrung di ruang kantor. Segitunya banget gue jaman dulu.

Sampai akhirnya perlahan gue pun mulai bisa mengurangi rasa risih dan malu sama guru-guru disitu yang sebenernya berbudi pekerti luhur. Mereka membantu gue adaptasi dengan mengesankan. Gue jadi betah, semakin betah, sangat betah sampai akhirnya sekolah gue dibubarkan karena jumlah siswa yang memprihatinkan.

Jujur aja, pertama kali masuk sekolah baru, gue masih dibayangi kenyamanan hidup di sekolah yang dulu. Gue bener-bener harus keluar dari zona nyaman, dan itu benar-benar menyiksa. Menghadapi siswa yang senantias ROSO, tanggungjawab ke orangtua siswa yang lebih besar, adaptasi dengan guru-guru baru yang jumlahnya berkali-kali lipat dari sekolah gue sebelumnya. Semuanya bikin gue males banget tiap bangun tidur.

Namun kenyataannya, setelah berhari-hari gue coba menjalani. Gue mulai bisa nerima keadaan ini. Gue mulai bisa mengendalikan anak-anak agar tetap berada di jalur yang tepat. Gue mulai bisa membaur dengan guru-guru disini. Dan keputusan gue jadi sekretaris pramuka, ternyata itu bukan sesuatu yang buruk. Gue jadi punya banyak kenalan dari guru sekolah lain yang sama-sama jadi panitia. Gue jadi punya pengalaman baru. Dan ternyata tanpa sadar gue menikmati itu semua.

Sekarang gue jadi ngerti, kadang kita hanya perlu menjalani sesuatu yang terlihat sangat berat di depan kita, agar kita tahu bahwa sebenarnya sesuatu itu tidak seberat seperti yang kita pikirkan pertama kali.

Sekarang di sekolah yang baru, setiap pagi gue enggak lagi ngerasa males berangkat, gue enggak lagi cemas ngurusin anak-anak, gue enggak lagi ngerasa canggung sama guru-guru lain di sekolah. Semua itu bisa gue rasakan hanya dengan modal, “Yaudah... jalanin aja dulu deh”.

6 Alasan Jangan Beli Lenovo A7000 Plus

Sebagai guru SD yang hidup jauh dari keriuhan hal duniawi. Nggak biasanya banget gue mendadak ngomongin gadget. Iya, level paling gaul gue selama ngeblog palingan ngomongin tamagochi yang bisa dibawa kemana-mana. Nah ini.. gadget, sejenis smartphone yang 'pernah' bikin gue kesengsem kebangetan.
Khalayak ramai biasa menyebut dengan istilah Lenovo A7000 Special Edition atau biasa disebut juga Lenovo A7000 plus. Kalo anak-anak gaul di luar sana, nyebutnya Leny. 

Lenovo tipe ini emang istimewa, ada plus-plusnya gitu. Wajar sih kalo denger sesuatu yang plus-plus bawaannya enak mulu. Sama kayak waktu pertama gue denger smartphone Lenovo ini. Apalagi setelah gue liat speknya. Ajib... 

Smartphone ini impian gue banget! Batre udah 3.000 Mah,  layar udah full HD (gue ngebayangin nih hape pasti tajam banget gambarnya). Udah gitu, kamera nih HP resolusinya nyampe  13 MP, dan kamera depan 5 MP (walopun gue fakir selfie, tapi ini nilai ‘plus’). Maka nikmat mana lagi yang mesti didustakan dari produk Lenovo seri ini?

Lenovo A7000 Plus ini emang udah jadi smartphone impian gue. Harganya waktu itu masih sekitar 2,4 jutaan. Buat gue yang cuma guru SD belum punya NIP. Harga segitu jelas bikin mikir-mikir buat dibeli. Kalo terpaksa ngebet banget, ya gue mesti jual hape gue dulu asus zenfone 5, terus ditambahin dari nabung hasil kerja sampingan gue selain guru SD.

Sampai akhirnya, waktu yang dinanti pun tiba. Mendadak gue dapet rejeki, walopun masih belum cukup buat naik haji, tapi cukuplah buat nambahin beli smartphone impian. Selain itu gue emang udah bosen banget sama Zenfone 5 karena baterainya yang terlalu menyedihkan, hidup gue jadi tersita banyak cuma buat sekedar nyari colokan nganggur. Akhirnya, semesta pun mengijinkan gue untuk meminang Lenovo A7000 plus ini.

Kesan pertama gue make smartphone Lenovo A7000 Plus ini. Gue cuma bisa bilang, "Ajib!!!"

Tadinya gue mau bilang, Hmmm.. sadeees...”., tapi gue sadar gue ini mau ngomentarin smartphone bukan mau bikin indomie goreng sambil make headset di leher.

Lenovo A7000 Plus beneran deh.. layarnya tajam banget! Bikin gue betah buat berlama-lama mainan ini smartphone, walopun ya... palingan cuma buat browsing aja sih karena gue nggak suka nge-game. 

Hingga beberapa hari berlalu, keluhan pertama akan smartphone ini pun datang juga. Gue mulai ngerasa touchscreen-nya sering kurang responsif. Suka macet kalo dipakai agak lama. Ini mulai ngeselin... karena butuh penjelasan akan persoalan yang gue hadapi, gue pun nyari grup Lenovo A7000 Plus di Facebook. Dan.. setelah gue baca-baca, ternyata itu emang udah jadi hal biasa buat smartphone Ini. Setelah cukup lama jadi anggota grup, makin kesini gue jadi makin paham penyakit 'umum' yang sering diderita Lenovo A7000 plus ini. Simak deh...

Sinyal lemah

Lenovo A7000 Plus ternyata sering kesulitan buat nangkap sinyal. Walopun HH (hand held) yang gue pegang ini sinyalnya normal. Tapi ada beberapa pengguna yang ngeluh sinyalnya lemah. Bahkan nggak tanggung-tanggung, sinyalnya ilang secara misterius.



Solusi paling umum palingan bawa ke service center, setelah melewati fase putus asa terlebih dahulu tentunya. Masalahnya lagi... iya kalo service center-nya deket, kalo jauh? Yaudah, palingan lapor aja ke acara Patroli di Indosiar. Di akhir acara biasanya kan ada tuh segmen berita orang hilang. Nah sapa tau sinyal hilang juga bisa ditemuin lewat acara Patroli ini.

Baterai nggak sesuai ekspektasi

Melihat Baterai dengan kapasitas 3.000 Mah, bagi sebagian orang pasti mikirnya ini udah cukup gede. Udah paslah buat penggunaan sehari-hari. Gue juga awalnya mikirnya gitu. Sayangnya, baterai 3.000 Mah ini harus menunjang layar yang udah full HD. Yaudah deh.. Baterai jadi cepet abis.




Gue yang pemakaian sekedar browsing-browsing unyu aja sekitar pukul tiga sore baterai seringnya udah di bawah 30 persen. Bayangin yang make ini smartphone buat nge-game? Gue yakin palingan tiga jam kemudian udah pada panik nyari colokan.

Ngecas lama

Baterai 3.000 Mah menurut gue masih kurang, nggak dipakai main game aja nyampe maghrib nggak kuat. apalagi kalo nggak sahur? Halah.

Salah satu faktor minus lain ini smartphone yaitu ngecasnya juga lama, butuh waktu sekitar 3-4 jam baru penuh. Itu pun kalo didiemin. Kalo ngecasnya sambil digrepe-grepe apalagi dipake nge-game, niscaya sampai Haji Lulung jadi gubernur DKI ini smartphone baru penuh pengisian baterainya.

Jadi dilemanya gini, tengah hari atau sore hari abis baterainya kudu dices. Kalo sambil dipake nggak penuh-penuh. Sayangnya karena belum support fast charging, ngecasnya jadi lama, abisnya nggak lama-lama banget.

Touchsceeen kurang responsif

Gue juga ngalamin permasalahan ini, setelah dipakai buat browsing-browsing.. begitu pas ngetik, mendadak touchscreen-nya jadi kurang responsif. Ngetiknya apa, malah gak keluar apa-apa. Khan kampret. Ya, masih mending ngetiknya apa, keluarnya apa gitu lah daripada ini nggak keluar apa-apa. Akhirnya emosi, hapenya gue banting, tapi baru wacana... akhirnya nggak jadi gue realisasikan, soalnya sayang. 



RAM rakus

Lenovo A7000 Plus ini punya RAM yang cukup gede, 2 GB. Hmm.. sadeees~

Sayangnya, belum sempet install macem-macem, udah makan Ram 1 GB lebih buat User Interface-nya Lenovo sendiri. Khan Khampret~ 

Terus ada solusi lain di-root aja. Yakale, semua orang berani nge-root. Yakale, baru beli langsung di-root. Yakale, nggak nge-root nggak smart user.

LCD Biru

Ini adalah problem utama dan paling fatal dari Lenovo A7000 Plus menurut gue. Untuk sebagian mereka yang apes, smartphone mereka bakalan kena surprise pinggiran layarnya ada biru-birunya. Yang belum kena layar biru ini, pada komen smartphone mereka lanjay, normal jaya, dan jaya-jaya lainnya. Begitu akhirnya kena, nangis.

Setelah gue kepoin di grup. Teori penyebab munculnya layar biru ini pun bermunculan. 

Pertama, karena overheat atau pemakaian berlebihan. Jadi mantengin hapeeeee mulu kerjaannya. Akhirnya hape lelah, jadi biru-biru. 

Kedua, keseringan dimasukin saku. LCD jadi ketekan, nggak sanggup nyium aroma selangkangan pemiliknya, akhirnya jadi harakiri. Berhubung A7000 Plus ini hape yang cukup mahal untuk ukuran gue, maka darah yang keluar warnanya biru. Untuk teori ini, gue menganggap smartphone ini beneran lemah. Gimana enggak? Harga dua jutaan dikantongin saku aja langsung penyakitan.

Ketiga, tergantung pemakaian. Banyak yang bilang, smartphone for smart user. Lalu user smart macam apa yang udah dibilangin hape baru dua hari LCD jadi biru, terus sok-sokan bilang 'tergantung pemakaian aja sih'. Ditambah testimoni diri sendiri, 'punya ane udah sekian bulan, dipake ngegame, ngegame sambil ngeces, ngegame sambil nyari nafkah lanjay aja.'

Ya itu punya elu!

Nyatanya banyak yang baru beli udah kena layar biru, masih aja dibilang tergantung pemakaian. Gue jadi kepikiran, dia yang smartphone udah berbulan-bulan, ngegame lancar, browsing lancar hapenya masih lancar. Terus masa iya, ini baru beberapa hari udah kena LCD biru dibilang tergantung pemakaian. Lalu, pemakaian biadab macam apa selama dua hari yang bikin LCD mendadak biru? 

Sejak saat itu gue percaya, orang yang penuh gaya bilang 'smartphone for smart user', sebenernya orangnya belum tentu smart.




--------------------


--------------------

-----------------
--------------------

--------------------
--------------------
--------------------
--------------------

Begitulah hasil penjelajahan gue akan permasalahan yang sering menghampiri smartphone Lenovo A7000 Plus. Ya emang nggak semua user kena penyakit di atas sih. Di luar sana, gue yakin kok banyak pengguna yang puas dengan performa ini hape. Banyak yang nyaman, banyak yang sayang bahkan banyak yang pengen jual. Eh...

Tapi menurut gue persoalan banyaknya penyakit yang nggak tau kapan datengnya dan cukup banyak yang kena penyakit di Lenovo A7000 Plus ini jelas jadi pertimbangan serius buat yang mau beli ini hape. Masih banyak smartphone yang lebih tangguh dan meyakinkan dengan harga yang nggak beda jauh sama smartphone ini.

Gue sendiri setelah mempelajari dengan sungguh-sungguh, mempelajari untung ruginya. Gue mantep buat ngejual ini smartphone, padahal baru sebulan lebih. Sebelum smartphone gue keburu kena penyakit, sebelum harganya makin anjlok.

Sebenernya banyak keluhan yang muncul di grup Facebook masalah ini smartphone, screenshoot di atas gue ambil sebagai contoh aja, kalau pengen lihat lebih banyak lagi keluhannya masuk aja grupnya dan kepoin. 

Oh iya, jangan pernah menghina Lenovo A7000 plus ini di grup Facebook ya, soalnya para penghuninya fanboy produk ini semua. Mereka bisa murka, enggak terima, bahkan sampai goblok-goblokin orang dengan renyahnya. Yap.. mereka suka nggak terima kalo hapenya dikiritik. Padahal setiap orang berhak ngeluh menyampaikan kesan pemakaiannya, fakta juga udah banyak berbicara, tapi mereka tetep aja tutup mata. Gue aja kadang ngakak sendiri ngebacanya. Cuma masalah hape, mereka jadi mudah dipecah belah persatuannya. Halah.

Blogger Energy dan Angka Empat

Hari ini, komunitas blogger kesayangan gue ulang tahun yang keempat. Wuah... rasanya bahagia banget ngeliat komunitas blogger yang satu ini masih bisa bertahan menghadapi kerasnya dunia perbloggeran sampai usia yang keempat ini.

Gambarnya +tofik dwi pandu 

Boleh dibilang udah banyak banget hal yang gue lalui bersama Blogger Energy. Sejak gue alay, sampai gue ngerasa malu pernah jadi anak alay, Blogger Energy udah setia jadi tempat gue naruh link tulisan blog gue. Dari tulisan yang sangat gaje sekali, sampai tulisan yang sok-sokan serius Blogger Energy udah pernah nyicipin semua rasa dari link yang gue titipin.

Gue nggak kebayang aja sih, dari grup sesederhana Blogger Energy, gue bisa dapet banyak banget temen yang punya hobi di bidang yang sama. Nggak cuma sekedar saling mengunjungi dan komen di blog, tapi sampai saling follow Twitter, berteman di Facebook, tukeran pin BBM, sampai di whats app juga. Ya, semuanya karena adanya Blogger Energy di negara yang penuh konspirasi ini.

Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Karena itu, gue udah ngalamin banyak hal di Blogger Energy mulai dari yang bikin gue geleng-geleng sampai manggut-manggut. Gue hampir ngeliat semua tipe blogger personal di dalam Blogger Energy.

Blogger yang maunya buang link tapi males blogwalking, ada.
Blogger yang punya idealisme tinggi sehingga nggak cocok sama aturan BE terus milih keluar, ada.
Blogger yang cuma semangat ngeramein grup pas awalnya doang, ada.
Blogger yang setelah gabung nggak pernah ngeramein grup sama sekali, ada.
Blogger yang nongol di BE cuma pas mau promo postingan doang, ada.
Blogger yang udah jadi member BE tapi nggak pasang banner BE, ada.
Blogger yang udah bertahun-tahun tetep konsisten update postingan, ada.
Blogger yang akhirnya nggak pernah ngeblog lagi, banyak.
Blogger yang.... (tambahin sendiri, ya...)

Ngeliat usianya yang semakinmatang, Blogger Energy juga udah melahirkan beberapa blogger yang sukses dengan karyanya. Gue yakin sih, banyak blogger senior yang makin matang ngeblognya juga karena mereka pernah ada di Blogger Energy. Yang dulu nulisnya berantakan, sekarang tambah rapi. Yang dulu tampilannya  alay, sekarang makin kalem. Semua karena sama-sama belajar dan tanpa sadar saling mengamati di Blogger Energy.

Sayangnya... makin kesini, makin banyak hal yang udah berubah dari Blogger Energy. Mulai dari membernya sampai rangernya. Kalo dulu member Blogger Energy suka banyak ngomong, sekarang member Blogger Energy suka banyak nyimak. Kalo dulu ranger Blogger Energy ada empat, sekarang gue pengennya rangernya kayak dulu.

Sebenernya makin kesini Blogger Energy makin kewalahan, dulu sempat ada beberapa Tebe yang ikut memberi energi buat BE. Untuk menyambut mereka bahkan sampai ada postingan khusus untuk mengenalkan mereka. Sayangnya, beberapa diantaranya pada akhirnya mulai kehilangan energi, dan udah nggak pernah keliatan lagi. Ya, nggak apa-apa... gue juga belakangan ini udah mulai loyo, kerjaan di dunia nyata membuat prioritas ngeblog bukan lagi jadi yang pertama. Beruntung, beberapa Tebe masih terus aktif menambah nafas Blogger Energy semakin panjang sebagai grup para personal blogger. Asli, gue salut sama Tebe yang masih terus bertahan!

Hal yang paling ironis dari semakin matangnya usia Blogger Energy adalah ketika gue dan Tebe, yang lebih sering dibantu Heru, akhirnya kesulitan buat mencari blogger yang aktif tiap bulannya. Bayangin aja, dari ratusan member, nyari dua blogger yang aktif tiap bulannya aja kami udah kewalahan. Nggak ada bayangan sama sekali. Akhirnya, award bulanan yang jadi ciri khas Blogger Energy terpaksa harus diistirahatkan, harapannya biar ada yang kangen dan pas dimunculin bakalan menghentak lagi.

Sayangnya, award Blogger Energy masih tetap sulit diberikan pada orang yang tepat. Bahkan, meski formatnya udah diganti ‘hanya’ tiga bulan sekali, kami tetap kewalahan. Dan daripada memaksakan memberikan award pada orang yang seadanya. Lebih baik award Blogger Energy disimpan lagi dulu aja, nggak tahu kapan lagi bakalan dimunculkan.

Ulang tahun keempat ini, harapan gue adalah Blogger Energy bisa tetap menjadi rumah yang nyaman buat para personal blogger. Bukan rumah yang ada maunya aja baru didatengin, pas mau nitip link aja misalnya.

Gue juga berharap semoga Tebe yang tersisa masih bisa terus memberikan kontribusinya buat Blogger Energy. Sumpah deh, tanpa mereka, Blogger Energy mungkin udah bernasib sama kayak kebanyakan grup blogger lainnya, sepi dan nggak ada interaksi.

Lalu, semoga di bulan-bulan selanjutnya award Blogger Energy bisa hadir lagi dan bisa diperebutkan secara sengit. Anak-anak banyak yang aktif demi mendapatkan award, dan setelah dapet award bukan berarti semangatnya selesai sampai disitu aja.

Terakhir, semoga semakin banyak anak Blogger Energy bisa menghasilkan karya yang dapat dibanggakan. Jadi penulis buku, penulis skrip, banyak orderan vector, jadi komikus, jadi master pokemon dan jadi, jadi  keren lainnya lah. Yang jelas kalo udah populer, gue berharap kalian nggak pernah lupa sama Blogger Energy ya.

Sesuatu yang Lebih Ngenes dari Laskar Pelangi


Diantara kalian ada yang pernah nonton film Laskar Pelangi? Masih inget nggak di film itu ada adegan SD Muhammadiyah mau ditutup kalau murid yang daftar nggak nyampe sepuluh orang. Sampai pada akhirnya, di detik-detik terakhir hadir seorang siswa bernama Harun yang akhirnya menggenapi jumlah siswa menjadi sepuluh dan SD Muhammadiyah akhirnya bisa dilanjutkan.

Lah... terus kenapa? Emang ada hubungannya sama postingan kali ini?

Ada. Ada hubungannya.

Sekolah gue, SD N 04 Penggarit nasibnya hampir sama seperti SD Muhammadiyah di film Laskar Pelangi. Bedanya, kalau SD Muhammadiyah bisa dapet sepuluh siswa, sekolah gue tahun pelajaran kemarin cuma dapet lima siswa. Kebayang nggak gimana jadi guru mesti ngajar cuma lima anak? Untung aja kemarin kelas satu gurunya bukan gue.

Melihat kenyataan yang ada di sekolah gue, kalian nggak usah jauh-jauh ke Belitong buat ngeliat ngenesnya keadaan pendidikan di Indonesia, karena ternyata sekolah gue malah lebih ngenes dibanding film Laskar Pelangi.

Setelah hanya mendapat lima siswa yang semuanya laki-laki. Akhirnya, Unit Pengelola Pendidikan Kecamatan memutuskan bahwa sekolah tempat gue ngajar akhirnya harus di-merger atau digabung jadi satu dengan sekolahan yang paling dekat. Yap, digabung dengan sekolah yang ada di depannya, SD N 01 Penggarit. Itu artinya, sekolah gue bakalan ditutup, guru-guru harus berkemas, dan para siswa bakal dipindah ke SD N 01 Penggarit semua.

Sejak mendengar informasi ini, gue dan guru lain memang keliatannya nggak masalah. Istilahnya, kita nurut apa kata dinas. Tapi gue yakin, mereka juga pasti ngerasa berat kalau sekolah tempat ngajar yang udah lama ditempati akhirnya harus di-merger. Gue dan guru lain hanya pura-pura tegar aja. Apalagi kalo ingat guru-guru yang udah bertahun-tahun bareng, udah kenal banget satu sama lain, udah kayak keluarga sendiri walaupun kadang suka ngomongin di belakang. Ini sama aja kayak lagi jalan sama gebetan, terus kaki kesandung kenangan masa lalu. Rasanya sakit, tapi pura-pura kuat.

Jujur aja... sekolah gue adalah surga bagi PNS. Berangkat agak siang, pukul dua belas kadang udah pada pulang, kalau ngajar kadang bisa sambil ditinggal-tinggal, tapi tiga bulan sekali sertifikasi tetep cair. Kurang surga apalagi coba? Ya tapi nggak semuanya gitu sih, masih ada juga guru yang totalitas ngajarnya, pulang paling terakhir dan administrasi lengkap dikerjakan semua.

Bagi para PNS, mereka jelas nggak perlu khawatir kalau sekolah ini akhirnya di-merger, mereka tetap dapet tempat di sekolah baru. Beda sama gue yang cuma guru wiyata, yang untung aja bisa dapet kelas ngajar di SD N 04 Penggarit.

Gue bener-bener nggak yakin, nantinya gue bisa dapet kelas atau akhirnya cuma jadi operator sekolah di sekolah baru. Memang ada kemungkinan gue bakal ikut di sekolah induk, barangkali nanti kelasnya bisa dibuat paralel. Tapi gue mikir lagi, di sekolah itu aja guru yang belum dapet kelas banyak, masa gue tau-tau dikasih kelas.

Selain gue, masih ada yang lebih galau. Dua penjaga perpus di sekolah gue juga resah apakah nantinya mereka juga dikasih tempat sama dinas atau nggak. Mereka jauh lebih resah, apa mau lanjut di perpus sekolah sambil berharap suatu saat yang entah kapan bisa diangkat jadi PNS atau mau keluar dan nyari kerja yang lebih menghasilkan.

Jadi guru wiyata bhakti di sekolah dan berharap jadi PNS menurut gue itu konyol. Karena bagaimanapun juga, kalau emang mau jadi PNS ya tetep harus ikut tes CPNS, Bukan cuma ngumpulin berkas aja. Makanya guru yang masih wiyata bhakti harus pinter manfaatin waktu sepulang sekolah buat nyari tambahan duit. Jadi kalo ada yang punya pikiran sabar aja ngajar di sekolah negeri, biar suatu saat jadi PNS. Bisa jadi selama hidupnya, mereka kekurangan theatring.

Sebenernya kalau ditanya apakah gue betah ngajar di SD N 04 Penggarit, dengan mantap gue bakal bilang kalau gue betah banget! Ini adalah zona ternyaman gue selama kerja. Gue bekerja tanpa tekanan di tempat ini. Mau ijin sekolah tinggal sms, mau pulang gasik tinggal pamitan, mau nggak ngajar tinggal nyuruh siswa ngerjain soal. Walopun gajinya nggak seberapa, toh gue masih dapet duit di luar kerjaan sebagai guru SD. Jadi buat gue nggak masalah banget gue ngajar di SD ini walaupun jaraknya lumayan jauh dari rumah gue.

Gue ngajar di sekolah ini, semuanya mengalir begitu aja. Awalnya gue cuma kerja jadi penyiar radio di salah satu radio kota gue. Lalu, suatu hari kakak gue ngasih tau kalau temen gurunya yang jadi kepala sekolah, butuh guru lulusan PGSD, dan kalau bisa laki-laki.

Kepala sekolah itu mintanya kalau bisa gurunya kayak kakak gue yang sifatnya sesuai dasa dharma banget. Dengan imej keren gitu, kakak gue nawarin gue ke kepala sekolah buat ngajar disitu. Kepala sekolah pun setuju, karena mikirnya sifat adiknya gak bakal beda jauh sama kakaknya. padahal itu salah besar. Gue nggak ada dasa dharma-dasa dharmanya sama sekali, yang ada sifat gue lebih mirip dasar gaje.

Hari pertama gue ngajar, gue nggak tau mesti ngomong apa. Gimana enggak, guru disini kebanyakan udah bapak-bapak dan ibu-ibu. Sementara gue, cuma mukanya aja yang keliatan udah bapak-bapak, tapi usia masih tergolong remaja musala. Gue jadi bingung mesti ngobrolin apa sama mereka.

Gue dapet tugas ngajar kelas III, itu adalah pengalaman pertama gue sebagai wali kelas. Dan pertama kali gue masuk ke kelas, gue shock karena kelasnya cukup mengenaskan. Lantainya ada yang rusak, papan tulis nulisnya masih pakai kapur, temboknya ada yang jebol, atapnya juga ada yang jebol. Asli, kelas ini terlalu menyedihkan buat gue yang baru memulai karir sebagai guru SD.

Saat itu gue resah, ini beneran gue bakal jadi guru SD disini? Ini beneran gue bakal betah disini?

Pelan-pelan gue coba jalanin ngajar di SD ini, beruntung ada beberapa guru muda senasib yang bisa membantu gue adaptasi, guru-guru senior juga semuanya baik-baik. Gue mulai ngerasa betah.

Setahun kemudian, temen gue nawarin lowongan pekerjaan di salah satu kantor provider. Gue mendadak tertarik, dan gue coba ikutan daftar.

Beberapa hari kemudian gue tes wawancara, dilanjutkan besoknya tes tertulis. Tapi mendadak gue jadi ragu, nggak tau kenapa gue justru kepikiran dengan sekolah gue. Seandainya nanti diterima, gue malah berat mesti ninggalin sekolah gue. Kayaknya gue udah bener-bener ngerasa betah. Besoknya, gue sengaja nggak berangkat tes tertulis, gue mundur. gue lebih milih buat bertahan di sekolah gue.

***

Disaat gue lagi nggak tau mau ngapain kalau sekolah nantinya beneran di-merger. (lagi-lagi) Kakak gue ngabarin kalau ada lowongan guru di salah satu sekolah favorit di kota gue. Konon katanya, gaji di sekolah ini termasuk paling manusiawi dibanding sekolah lain.

Karena gue juga bingung, akhirnya gue iseng-iseng ikutan daftar. Setelah melalui tes yang cukup bikin deg-degan kenceng. Dan sempat berpikir nggak diterima karena nggak ada undangan wawancara sesuai hari yang dijanjikan, beberapa hari kemudian gue malah dapet telfon untuk wawancara dengan alasan kemarin udah di sms tapi smsnya nggak terkirim. Yah... beberapa hari kemudian, gue dihubungi pihak sekolah diterima di sekolah baru itu.

Bukannya bahagia, gue malah galau.

Gue galau, itu artinya gue harus bener-bener ninggalin sekolah gue dan memulai adaptasi lagi dengan lingkungan baru. Yang setelah dipikir-pikir, mau nggak mau, toh gue juga harus ninggalin sekolah tempat gue ngajar karena kalaupun gue nggak keterima, sekolah gue juga akhirnya ditutup.

Sekolah baru gue ini ibarat sebuah tempat di langit. Sementara sekolah gue sebelumnya ibarat sebuah tempat di bumi. Bedanya jauh banget. Di sekolah gue yang dulu, gue bekerja tanpa tekanan sama sekali, sementara di sekolah yang baru, gue tau gue akan bekerja penuh tekanan.

Gue lepas dari zona nyaman tanpa persiapan apa-apa. Mungkin di awal-awal nanti gue bakalan ngos-ngosan buat ngimbangin semua kebiasaan yang ada disini. tapi ya.. semua emang harus dijalanin, gue harus ngeliat ke depan, dan gue harus menghadapi tantangan baru ini. Sekarang gue bakal ngajar kelas empat, semoga gue bisa kuat dan selamat.