Oleh-oleh dari UM Purwokerto

Beberapa waktu lalu gue berkunjung ke UMP ( Universitas Muhammadiyah Purwokerto ) untuk ngikutin acara Seminar Nasional dan Mimbar Intelektual yang merupakan agenda dari IMAKIPSI Jateng dan DIY. Acara yang berlangsung selama dua hari ini cukup seru juga walopun hanya dihadiri oleh tiga Universitas aja yaitu : IKIP PGRI Semarang, Universitas Negeri Semarang, dan UMP Sendiri sebagai tuan rumah.

Gue emang dateng dengan almamater IKIP PGRI Semarang tapi gue gak mau sepenuhnya disebut delegasi dari BEM FIP IKIP PGRI Semarang. Bukan karena gue durhaka atau kacang lupa kulitnya. Dari pihak BEM FIP IPS (ikip pgri semarang) sukses mengirimkan lima wakilnya ke UMP bukan termasuk gue. Mereka dateng dengan sokongan dana dari kampus sehingga gak perlu pusing-pusing mikirin dana buat berangkat ke UMP.

Gue yang udah bukan pengurus BEM FIP lagi ternyata tidak berhak menerima dana tersebut. Begitu kata Ketua BEM FIP nya. Padahal, gue sebagai pengurus IMAKIPSI apalagi Koordinator Daerah Jateng & DIY. mau gak mau harus berangkat ke acara tersebut. Terus gue dapet dana dari mana ? Sempet kecewa juga, dan gue akhirnya berangkat secara swadaya (gak pake duit kampus) bareng sama dua anak UNNES yang juga pengurus IMAKIPSI. Mereka pun ternyata berangkat secara swadaya.  Dana bukan alasan bagi kami untuk batal  mengikuti agenda tersebut. Dan gue bener-bener salut sama mereka berdua. Luar Biasa!!



Sebelum ngikutin Seminar
Banyak hal yang gue dapet dari kegiatan tersebut, diantaranya tentang pendidikan karakter yang seharusnya tidak perlu kita gembor-gemborkan karena sebenernya mereka semua sudah tau bagaimana karakter sesungguhnya yang perlu mereka miliki. Hanya saja implementasinya yang masih sangat minim. Semua itu, hanya sampai di mulut saja.

Gue sempet tercengang waktu sore hari ada diskusi dengan tema "mengkritisi rezim SBY-Boediono di bidang Pendidikan pro neo-liberalisme". Disini, gue bener-bener takjub setelah mendengarkan dan memahami fakta-fakta mencengangkan. Industrialisasi pendidikan yang sepertinya sudah tidak terbendung lagi. Juga tentang manusia yang sudah dipisahkan kebutuhannya oleh "Jarak". Seperti contoh manusia butuh ilmu, mereke harus sekolah dan mereka harus membayar biaya yang tidak sedikit. Itulah jarak yang membuat manusia tidak bisa leluasa mencari ilmu sebanyak-banyaknya. 

Pada malamnya, diskusi dimulai kembali dilanjutkan dengan konsolidasi BEM FKIP SE-JATENG DIY. Banyak sekali permasalahan di dunia pendidikan yang memang pelu dibenahi, dan pada malam itu sebagai mahasiswa yang tergabung dalam IMAKIPSI, kami dituntut untuk memberi sebuah bentuk tindakan nyata. 



Seminar Nasional

Makan malam sebelum Konsolidasi

Konsolidasi BEM FKIP SE JATENG DIY

Sempat terpikir untuk melakukan aksi (demo) bersama  IMAKIPSI namun beberapa pihak tidak setuju termasuk gue. Demo atau aksi sudah tidak lagi populer, karena kesan di masyarakat demo hanya biang kerusuhan. Akhirnya, kami sepakati untuk melakukan AUDIENSI ke DPRD Jateng. IPS sebagai tuan rumah, okelah. Audiensi menurut gue jauh lebih bijak daripada mesti nglakuin aksi yang belum tentu manfaatnya jauh lebih baik. Ada beberapa isu yang kami kritisi untuk nanti disampaikan pada audiensi dan nanti akan gue posting di blog IMAKIPSI JATENG & DIY.

Jargon IMAKIPSI , "TOTALITAS UNTUK PENDIDIKAN!" seharusnya tidak hanya sekedar teriakan di mulut saja. Contoh kecil ketika ada permasalahan kesulitan mencari dana, itu bukan menjadi suatu alasan untuk memaksa gagal berangkat. Sudah saatnya kembali merenungi kata TOTALITAS UNTUK PENDIDIKAN sebelum meneriakkan dengan lantang.

2 Upil

waaah , sebelah mananya tuuwh broo ... ngapak tho brarti :D

Reply

Post a Comment