Mau Ambil Duit di ATM BSI, Malah Jadi Infaq Sejutaan


Beberapa hari yang lalu, rasanya hidup mendadak terlihat konyol sekali. Sore hari sekitar jam tigaan, dengan kondisi mulut kering bawaannya pengen rebahan sampai waktunya buka puasa. Karena suatu hal saya harus ke ATM Bank BSI buat ambil duit, biasanya sih.. saya lebih suka ambil duit lewat ATM BCA yang entah kenapa rasanya lebih praktis dan jam terbang saya ambil uang di ATM BCA udah nggak perlu diragukan lagi. Ambil duit lagi BCA Mobile aja ngetik nomer HP dan kodenya bisa cepet banget tanpa ngelihat layar.

Tapi ya.. berhubung lagi puasa, rasanya males kalau harus naik motor, nyebrang jalan raya yang kalau sore pasti rame, masuk gerbang bank BCA, mendaki tangga yang jumlahnya nggak seberapa lalu masuk ke ruang mesin ATM, yang sebenarnya kalau dihitung dengan satuan waktu, nggak ada 5 menit juga udah beres. Dan karena ke BSI jaraknya lebih worth it, cukup jalan kaki nggak ada 1 menit karena memang letak bank-nya ada di sebelah rumah, yang bahkan karyawan Bank BSI aja kalau parkir mobil ada di seberang rumah saya. Maka sore itu, saya mengambil pilihan tidak lazim, ambil duit lewat bank BSI.

Setelah jalan kaki nggak seberapa lamanya, ternyata di dalam ruang ATM bank BSI masih ada orang lagi ngambil duit. Sementara itu, saya berusaha mempertahankan layar HP-nya istri agar tetap menyala. Ya, karena sore saya ambil duit pakai Byond (aplikasi bank BSI) punya istri. Daripada ribet masukkin password awal masuk, saya sengaja bertahan biar layar tetap menyala.

Semenit lima menit, yang ditungguin di dalem mesin ATM masih belum keluar juga. Perjalanan yang nggak seberapa lamanya itu ternyata malah lebih lama nungguin orang di dalem ATM. Sementara itu di depan bilik ATM sambil nungguin, saya jadi mikir.. ini kalau saya sekali ambil nominalnya sejuta. Berarti perlu lima kali ambil. Tapi kalau nominalnya ditambah jadi 1,250,000 saya bisa ambil cuma empat kali. Hemat waktu sekali tarikan. Soalnya di belakang saya, antrian udah mulai panjang karena mesin ATM-nya cuma satu. 

Saya pun merevisi nominal yang tadinya sejuta, lalu ngetik jadi 1,250,000. lalu klik lanjut lalu saya lemes. Masih belum percaya melihat apa yang ada di layar HP sore itu.




Saya membacanya sekali lagi, "Terimakasih Anda Telah Membayar Infaq sebesar 1,250,000"

Gilaaa... niatnya mau ambil duit malah kepencet infaq 1,250,000.

Saya langsung melihat ke samping menatap ruang bank BSI yang pintunya hampir nutup semua. Saya masuk ketemu sama satpam yang udah pakai jaket siap-siap mau pulang karena waktu udah menunjukkan sekitar pukul empat sore.

Dengan sedikit tergagap saya mengatakan, kalau saya salah transfer dan malah jadinya infaq. Bisa nggak kembali nggak ya ini duitnya? 

Jawaban dari satpam yang maha santai itu, membuat saya yang lagi lemes karena puasa jadi tambah lemes lagi. Katanya, uang yang udah ketransfer masuk ke infaq ya nggak bisa balik lagi. Saya nggak langsung percaya gitu aja, sedikit meragukan kapasitas satpam ini untuk bisa memberikan pencerahan terkait masalah yang sedang dihadapi 'nasabah'.

Saya pun langsung menuju ke teller yang di balik meja masih ada dua ombak-mbak yang mungkin juga lagi siap-siap mau pulang. Saya jelasin lagi, sambil gugup dan gagap kalau saya salah transfer.

Mbak tellernya memberi jawaban yang sedikit membuat saya ada harapan kalau uang yang nggak sengaja ketransfer itu bisa balik lagi. Saya perlu menuju customer service dan membuat form pengaduan, namun karena waktu udah sore dan jam operasionalnya udah tutup, saya disuruh ke CS besok pagi.

Dengan perasaan gelisah saya pun pulang dan nggak sabar nunggu besok. Tentu saja sambil diketawain istri melihat kekonyolan suaminya ini.

Besoknya sebelum jam delapan saya udah di Bank BSI, penuh percaya diri saya melangkah dari rumah mau mengambil antrian nomor satu karena rumah yang sangat dekat ini. Namun begitu masuk ke dalam, ternyata udah dipenuhi dengan banyaknya manusia dengan seragam hitam putih yang sedang mengantre, entah dari instansi mana, seperti pada mau aktivasi buku rekening BSI. 

Saya dapat antrian nomer 4, beruntung beda aliran dengan orang-orang baju putih hitam ini. Istri nyusul sambil bawa bocil dan gendong bayi, ya.. istri ikut karena ATM-nya atas nama istri, jadi harus pihak terkaitnya yang datang langsung meskipun saya yang melakukan hal konyol. Meskipun dapat urutan nomer 4, ternyata butuh waktu hampir sejam nungguinnya. 

Begitu tiba giliran, saya nggak perlu jelasin kronologi detailnya karena mbak CS ini kemarin ada di ruang teller juga, jadi udah tahu permasalahannya. Saya hanya diminta ngisi formulir pengaduan dan jelasin pengaduan di formulirnya. Setelah itu, hanya diminta nunggu perkembangannya lewat email. Dan prosesnya biasanya butuh waktu antara 3-7 hari pada hari kerja. 

Setelah itu kami pulang dengan sedikit lega meskipun belum lega-lega banget karena duitnya belum masuk rekening. Siangnya ada notifikasi masuk di e-mail bahwa form aduan saya sedang ditindaklanjuti, tulisannya mengatakan ini semua membutuhkan 10 hari kerja. Saya percaya-percaya aja, nunggu update email selanjutnya kalau masalah udah beres. Hari demi hari berlalu, e-mail terbaru belum kunjung datang. Setelah hampir seminggu berlalu, saya iseng ngecek saldo di aplikasi BYOND punya istri, dan ternyata saldo itu sudah masuk H+1 sejak hari pengaduan. 



Lagi-lagi saya merasa konyol terhadap diri sendiri. Tapi ya, alhamdulillah... salah transfer nominal infaq ternyata bisa diberesin juga.



Posting Komentar

0 Komentar