Uang Saku Dua Ribu Rupiah

uang saku anak sd

Selain suka nanya-nanya keseharian anak-anak kelas enam, saya juga suka kepo sama uang sakunya anak-anak setiap hari. Penasaran aja, kira-kira di jaman sekarang rata-rata uang saku tuh standarnya berapa.

Jawaban dari mereka memang macem-macem. Ada yang lima ribu, tujuh ribu bahkan sampai sepuluh ribu rupiah. Tapi rata-rata kebanyakan dari mereka uang sakunya sekitar lima ribu rupiah. 

Dari sekian uang saku yang beragam, ternyata ada satu anak yang uang sakunya dua ribu rupiah. Saking nggak percayanya, saya sampai mengulang pertanyaan ke anak tersebut, “Hah… berapa?”

“Dua ribu, Pak.” Zigas menjawab santai.

“Serius? Tiap hari uang sakunya dua ribu?”

“Iya, Pak.. serius.”

Pertama tahu fakta ini, jujur saya sempat penasaran sama orangtuanya, bisa-bisanya anaknya yang udah kelas enam uang sakunya cuma dua ribu rupiah. Nggak kebayang gimana anak ini mesti memanajemen uang sakunya buat jajan di istirahat pertama dan kedua.

Secara matematika, susah nemu jalan keluarnya buat menyeimbangkan pengeluaran pada dua kali istirahat dengan uang saku dua ribu rupiah. Jika istirahat pertama Zigas membeli es marimas seharga seribu rupiah, maka uang sakunya tinggal seribu yang bisa dipakai di istirahat kedua. Jika Zigas membeli es marimas dan gorengan dua buah yang harga per gorengannya 500 rupiah, maka uang Zigas habis. Istirahat keduanya, Zigas nggak jajan sama sekali.

Hari-hari berikutnya, saat jam istirahat sesekali saya mengamati apa yang Zigas lakukan dengan uang saku dua ribu rupiahnya. Satu yang pasti, Zigas pasti membeli es marimas, teh sisri atau apapun itu, yang penting es seharga seribu.

Sisanya, cukup bervariasi… kadang gorengan, kadang jajan manis, cireng atau apa pun itu yang kemungkinan besar nilainya seribu rupiah. Fix.. Zigas menghabiskan uang sakunya di istirahat pertama.

Saya penasaran bagaimana Zigas melewati istirahat kedua tanpa uang saku. Dan ternyata, Zigas bertahan hidup dengan cara mintain jajan temennya. Yang alhamdulillahnya, kadang temennya sering membagi sebagian jajannya sama Zigas. Walaupun kadang ada juga temennya yang menolak mentah-mentah. Tapi Zigas biasa saja, sepertinya Zigas memang sudah bersahabat dengan penolakan di hidupnya.

Diluar penolakan yang terjadi ketika Zigas mintain jajan temennya, kadang ada yang aneh ketika beberapa kali saya melihat Zigas menenteng es marimas atau entah apapun itu di istirahat kedua. Darimana Zigas mendapatkan es seharga seribu rupiah itu? Saya sempat positive thinking kalau uang jajan Zigas kadang lebih dari dua ribu. 

Melihat Zigas yang sering mintain jajan temennya, saya jadi berinisiatif buat ngasih ‘kerjaan’ ke Zigas. Jadi, setiap istirahat pertama, saya selalu meminta Zigas buat ngecek di luar sekolah ada penjual jajanan apa aja. 

Dengan semangat, Zigas langsung melesat keluar kelas dan memandang dari kejauhan untuk mengenali penjual-penjual yang sedang ‘ngetem’ di lapangan. Lalu Zigas kembali lagi ke kelas dan melapor ke saya.

“Itu Pak, tadi ada martabak telor, siomay, bakso kuah, sama cilung” Kata Zigas dengan wajah berbinar.

“Yaudah, Pak Edot beliin siomay aja lima ribu. Yang pedes ya” Saya menyerahkan uang lima ribuan ke Zigas. Setelah menerima uang, bukannya segera melesat, Zigas masih diam berdiri di depan saya.

“Oh, iya.. hampir lupa, nih buat kamu dua ribu” secepat kilat tangan Zigas meraih uang dua ribuan di tangan saya dan langsung melesat pergi. Uang yang saya kasih itu, tentu saja langsung Zigas habiskan saat itu juga.

Biar nggak ngasih uang cuma-cuma ke Zigas, saya memang sengaja ngasih ‘kerjaan’ dulu, biar Zigas ada usahanya dulu sebelum mendapatkan sesuatu. Walaupun nggak setiap hari, tapi seringnya memang Zigas yang saya kasih tugas buat beliin jajan. Ya... selain mager buat jajan sendiri, saya juga masih punya malu kalau harus berbaur sama anak-anak. 

Nggak mungkin juga kan, saya ikutan nimbrung berebut di penjual siomay bareng sama anak-anak lainnya, teriak-teriak minta dibuatin dulu. 

Btw, saya nggak ngasih ‘kerjaan’ setiap hari juga biar Zigas jadi nggak merasa ketergantungan sama saya. Biar nggak selalu mengandalkan saya untuk urusan tambahan uang sakunya. 

Berhubung saya juga hobi jajan dan anak lainnya di kelas juga kadang protes ngerasa nggak pernah dikasih ‘kerjaan’ sama saya. Sesekali saya juga minta anak-anak lainnya buat beliin jajan dan ngasih tambahan seribu dua ribu. Walaupun ya, sebenarnya anak-anak lain di kelas kalau saya mintain tolong beliin jajan mereka nggak nuntut buat minta upah.  

Suatu hari, guru kelas lima ngadu ke saya. Ada salah satu siswanya yang katanya sering dimintain uang sama anak kelas enam. Seminggu bisa sampai empat kali, seribu-seribu. 

Mendengar ada anak kelas enam yang suka mintain duit ke adik kelasnya, saya langsung penasaran dan mulai berpikir untuk memberikan refleksi (biar kayak film Budi Pekerti) yang tepat ke tersangka nantinya.

“Zigas, Pak.. kemarin pas istirahat anaknya udah tak ceramahin”

Saya kaget, karena ternyata selain mintain jajan ke temennya dan dapat ‘honor’ dari kurir jajan. Cara bertahan hidup di sekolah dengan uang saku dua ribu rupiah harus dikotori dengan mintain uang ke adik kelasnya.

Siangnya, saya meminta Zigas untuk pulang terakhir lalu mulai ngajak ngobrol. 

“Kenapa kok mintain uang anak kelas lima?” Saya langsung to the point.

Zigas cuma diem.

“Kamu nggak kasian sama anak kelas limanya kalau ternyata dia uang sakunya sedikit?” 

Saya melanjutkan, “Seandainya nanti orangtuanya tahu terus dateng ke sekolah dan nggak terima anaknya dimintain uang, Pak Edot nggak bisa belain kamu, Gas. Yang udah kamu lakuin itu nggak bener”

Zigas masih aja diem, Entah merasa bersalah atau takut sedang saya ajak ngomong. 

“Yaudah, Pak Edot nggak tahu kamu udah berapa kali mintain uang ke anak kelas lima. Tapi mulai besok, setiap dua hari sekali kamu ngasih uang kamu seribu ke anak kelas lima yang kamu mintain selama seminggu.” 

Zigas cuma mengangguk pasrah.

Di ruang kantor, saya coba cari tau tentang orangtua Zigas ke guru kelas tiga yang rumahnya masih satu desa sama Zigas. Dan ternyata keadaan ekonomi orangtuanya memang sedang tidak baik-baik saja. Ayahnya sakit udah beberapa bulan dan belum bisa kerja lagi. Ibunya di rumah aja ngurus rumah. Dengan kondisi seperti ini, pasti rasanya pusing banget mikirin hidup tiap harinya. 

Sebagai anak, Zigas mungkin cuma pengen ngerasain uang sakunya bisa seperti temen-temen lainnya. Bisa jajan sesuka hati, nggak perlu mintain jajan temennya yang kadang dikasih, kadang ditolak mentah-mentah.

Saya jadi inget, pernah nanya ke Zigas, “Kamu kalau dikasih uang saku dua ribu protes nggak sama ibu?”

“Enggak, Pak”

“Nggak pernah minta lebih?”

“Enggak, Pak” 

Diam-diam saya takjub sama Zigas yang ngerti banget sama kondisi ekonomi orangtuanya.

Posting Komentar

17 Komentar

  1. AAA Kenapa blogpost ini mengandung bawang 😭. Zigas semoga hidupnya bisa lebih baik ke depannya 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin Lia, semoga ekonomi orangtua Zigas bisa segera jadi lebih baik

      Hapus
  2. Sebelum fokus ke zigas, saya mau bilang kalo tampilan blog yg terbaru ini sangat kece!! Zigas udah survive dengan caranya yg nggak bisa juga disalahin. Beruntung ada bg Edotz, semoga selain terpantau, zigas bisa bener2 bisa dapet pencerahan dan perubahan, bisa survive dengan cara yg bener. #berharappart2 hahhaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiih mas 😁
      Untuk kesekian kalinya, ganti template blog lagi 😁

      Amiiin, semoga Zigas bisa tetep survive dengan elegan ya 😁💪

      Hapus
  3. Cara survive zigas ini memang tidak benar tapi melihat kondisi orang tua nya juga tidak enak nyalahin. Semoga setelah diberi pencerahan oleh pak guru, zigas tobat.

    Sebenarnya hal ini bisa dikurangi kalo pemerintah memberikan makanan gratis bergizi tiap istirahat sekolah ya pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha mantapp, jadi kaya programnya paslon nomer 2 ya 😁

      Kalo di SDIT udah ada program makanan bergizi dan snack di sekolah. Tapi ya itu, belum gratis 😁

      Hapus
  4. Salut sama guru yang peduli dan mau mengamati muridnya seperti ini sampai ke uang jajannya.
    saya jadi ke inget dulu waktu masih SD dulu saya masih Rp. 500 tahun kapan itu juga uda lupa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu saya juga 500 mas uang sakunya, mungkin itu pas pertengahan tahun 90-an kali yaa, masih ada uang 50 rupiah juga

      Hapus
  5. Trenyuh kalau di pikir",anak yang berkecukupan di kota kadang bisa makan enak dengan uang jajan berlebih,sedang yang kekurangan, uang segitu di cukup"in,walau ujung "nya malak ke temennya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, emang kasian kalo liat anak yang uang sakunya sedikit. Pasti dia pengen jajan kayak temen-temen lainnya tapi ya apalah daya

      Hapus
  6. Aaghhhhh, aku sedih baca iniii 😔. Tapi seneng ngebayangin zigas punya guru kayak mas edotz 👍👍. Pengertian, dan mau melihat langsung masalahnya.

    Semoga rezekimu juga makin ngalir mas, udh bantuin murid kayak zigas.

    Dan semoga zigas juga sadar kalo caranya salah.

    Sejak anakku sekolah di SDN, dari mereka aku tau, banyak siswa yg ortunya ga terlalu mapan. Bahkan uang kas yg 10 RB per bulan aja msh terasa berat buat bbrp ortu murid. Sedih sih memang.

    Cuma yg bisa aku lakuin, berusaha KSH lebih di saat kelas anak2 mau ngadain acara. Itung2 juga utk subsidi ortu murid yg ga mampu.

    Ga kebayang jajan 2rb sehari. Soalnya di sekolah anakku yg negeri aja, udh minimal 5 RB mas 😔

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiin, makasiih mbak Fanny

      Bener banget loh mbak, apalagi kalo di SD pinggiran, kondisi ekonomi orangtua siswanya pada memprihatinkan.

      Waah.. keren banget mbak Fanny, orangtua siswa seperti mbak Fanny bener2 dibutuhkan biar kalau ada program kelas bisa berjalan dengan baik 👍

      Saya aja awalnya nggak percaya mbak uang sakunya 2 ribu, gimana nanti pas SMP 😌

      Hapus
  7. Masnya baik banget..semoga Zigas bnyk rezekinya dan bisa tercukupi makan selama di sekolah amin

    BalasHapus
  8. Zigas...semoga Bapak kamu segera sembuh dan bisa bekerja lagi dan rezekinya banyak, jadi kamu uang sakunya bisa naik dan nggak malakin adik kelas lagi ya. Semangat untuk Zigas dan keluarga!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiin, semoga Zigas makin bahagia juga 😁

      Hapus
  9. Wow, I can totally relate to the struggle of managing pocket money! Two thousand rupiah might not seem like much, but it's surprising how far you can stretch it with a little creativity. Whether it's treating yourself to a cheap snack or saving up for something special, every coin counts. By the way, have you seen those incredible liposuction before and after transformations? It's amazing what modern technology can achieve!

    BalasHapus