Ketika Tes Kesehatan

Saya orangnya memang gampang grusa-grusu, suka nggak tenang setiap menghadapi sesuatu. Contohnya pagi tadi ketika saya ada jadwal tes kesehatan buat syarat persiapan penegrian. Tes kesehatannya pagi dan saya bisa saja ijin ke kepala sekolah buat langsung otw ke rumah sakit. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya kok agak mencemaskan kalau anak-anak di sekolah saya tinggalkan begitu saja tanpa diberi wejangan terlebih dahulu.

Saya nggak enak kalau ninggalin mereka gitu aja. Khawatir anak-anak bertindak anarkis di kelas, khawatir jadi ngerepotin guru kelas lain, juga karena saya sadar--beban mereka sendiri udah terlalu banyak. 

Dari sekian banyak kekhawatiran yang mungkin terjadi, saya paling khawatir kalau kelas saya akhirnya malah dipegang sama kepala sekolah. Khawatir setelah ngajar, keluar dari kelas kepala sekolah mendapat banyak temuan yang mengejutkan. Buku yang berantakan di meja, taplak yang posisinya tidak simetris, gelas bekas pop mie yang masih ada sisa kuahnya, sampai nemu ODGJ di pojokan kelas lagi tiduran.

Jadilah pagi tadi saya menyempatkan berangkat lebih pagi, lalu masuk ke kelas mengumpulkan anak-anak untuk saya sugesti agar tidak melakukan tindakan yang mengundang guru kelas lain kepo masuk kelas (baca:berisik). Saya membagikan fatwa-fatwa yang menyatakan bahwa berisik di kelas akan mendapat adzab pedih dari saya di kemudian hari dengan bonus pulang selalu terakhir sampai akhir hayat.

Setelah itu, saya keluar kelas, mampir ke toilet sebentar lalu melaju pergi menuju Indomaret yang letaknya persis di depan rumah sakit. Niatnya sih, mau beli minuman biar nggak ‘kering’ banget pas nungguin antrian, sekalian ambil uang buat pembayaran tes kesehatan sebesar lima ratus ribu kurang dikit.

Begitu sampai Indomaret, saya bergegas masuk menuju mesin ATM BCA karena di grup WA teman-teman lainnya udah pada naik ke lantai dua tempat tes kesehatan dilaksanakan. Disitu saya udah curiga ngeliat mesin ATM yang tumben-tumbennya sepi nggak ada antrian, pas saya deketin... ah ngeselin~ ternyata mesin ATM-nya lagi eror nggak bisa dipakai. Ini agak diluar dugaan karena saya pikir ATM di Indomaret mesinnya masih baru, kemungkinan eror seperti ATM-ATM pada umumnya kecil banget. Dan kemungkinan kecil itu justru terjadi disaat saya butuh mau ambil uang.

Akhirnya saya pun segera bergegas pergi sambil ngedumel dalam hati, saya harus ambil uang di ATM yang agak jauh dari rumah sakit dan harus ngelewatin lampu lalu lintas yang terkenal lama giliran hijaunya.

Pas lagi jalan, saya nengok ke seberang kanan, di pom bensin ada tulisan ATM Mandiri. Setelah sekian detik berpikir, saya memutuskan putar balik menuju pom bensin tersebut buat transaksi di mesin ATM Mandiri. Caranya saya transfer antar bank dari BCA ke Mandiri (karena tentu saja ATM Mandiri saya saldonya menyedihkan), walaupun rasanya hati agak berat karena mesti kena biaya admin 6.500 rupiah. Tapi ya... daripada mesti jalan jauh, buang waktu dan belum tentu pas sampai di tempat ATM-nya juga bener. Saya memilih mengorbankan biaya admin 6.500 rupiah.

Mengingat waktu yang udah makin siang, saya langsung berdiri depan ATM lalu buka M-BCA, pas mau transfer ternyata nomor rekening bank Mandiri saya belum saya masukkan di daftar. Saya pun menepi dulu dari ruang ATM karena harus cari nomor rekening dulu buat di-input. Pas udah selesai, saya balik lagi antri di depan ruang ATM nunggu giliran, sampai kemudian datang seorang ibu-ibu nanya, “Maaf, Pak? Bapak mau masuk ke ATM?”

Saya jawab singkat, “Iya, Bu.”

Yang kemudian dibalas sama ibu-ibu tadi, “ATM-nya nggak ada orangnya, Pak”

Saya nengok ke dalem dan ternyata memang kosong, duuh.. gara-gara gugup saya jadi nggak fokus. Mau ngerasa malu tapi lagi nggak ada waktu, akhirnya saya nyengir sebagai tanda pengakuan ‘bodoh’ sambil masuk ke mesin ATM.

Beres ambil uang, saya segera menuju rumah sakit. Masuk ke area parkiran buat cari parkiran yang strategis. Begitu udah jalan kaki mau masuk, saya baru sadar, saya nggak pakai masker!

Paraaaah.... akhirnya saya balik lagi naik motor pergi ke Indomaret di depan rumah sakit. Gara-gara gugup jadinya malah bolak balik gini. 

Setelah semua dirasa tidak ada lagi yang tertinggal, saya pun mantap masuk ke rumah sakit naik ke lantai dua. Setelah menyerahkan biaya cek kesehatan, saya disuruh ambil toples bening kecil seukuran balsem buat tempat pipis.

Nah, masalahnya... sebelum ke rumah sakit saya udah pipis di sekolah, saat itu saya ngerasa bener-bener nggak pengin pipis. Jadi gugup lagi deh mesti gimana? Sempet kepikiran mau minta pipisnya teman, tapi nggak mungkin juga, kan. Berdiri di depan toilet, pas teman keluar bilang, “Eh, Pak.. bagi pipisnya dong”

Saya pun mencoba minum banyak-banyak minuman yang barusan saya beli di Indomaret. Setelah nunggu lima menitan dengan tidak tenang, saya melangkah ragu ke toilet dan mencoba pipis. Meskipun hasilnya tidak banyak seperti teman yang lain, setidaknya ada dikit lah pipis yang bisa saya keluarin. Haha... 😄

Antrian demi antrian berlalu, saya nunggu giliran cek kesehatan sambil berghibah dengan teman-teman sekelompok waktu latsar. Berkeluh kesah tentang persoalan di sekolah masing-masing sambil diselingi candaan sebagai upaya menghibur diri dari kenyataan hidup.

Pukul sepuluh semua pemeriksaan kesehatan yang saya dan teman-teman lakukan selesai. Kami melanjutkan keluh kesah di sebuah tempat makan yang tempatnya cukup mendukung buat berkamuflase. Khawatir kalau milih tempat makan di pinggir jalan, dengan seragam mencolok hitam putih khas seragam dinas para PNS bakalan mudah dikenali sama petugas satpol PP yang lagi keliling. Walaupun sebenernya alasan habis tes kesehatan cukup masuk akal, tapi ya barangkali tetap jadi masalah, mending kami cari tempat yang nggak terlalu mencolok.

Obrolan siang itu berlangsung cukup panjang dengan tema keresahan di sekolah masing-masing. Siang itu, saya kepikiran.. kalau selama ini saya ngeliat teman-teman lain kayaknya hidupnya fine-fine aja di sekolah masing-masing, tapi ternyata memang yang namanya hidup nggak seindah status WA.

Ah.. ternyata saya nggak sendirian ngejalanin kerjaan yang akrab dengan masalah~

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Reading your story was both amusing and relatable. Navigating through a hectic day with all those hasty mishaps had me chuckling. It's reassuring to know that we all face our share of challenges and chaos, making us human. Thanks for sharing this delightful and honest account!

    BalasHapus

  2. Getting my health test results was nerve-wracking! The nurse went through the report, explaining each section. It felt like a random mix of good and concerning news. However, my cholesterol levels were surprisingly low—a relief.

    BalasHapus
  3. This morning, I had a medical test and as a teacher I am worried about leaving school without consulting my students first. Balancing personal health needs with professional responsibilities is difficult, but both are important. I will tell my students about Coursework Writer USA. so that they can make good grades

    BalasHapus
  4. Oh, I can totally relate to this! Getting health tests done can be a mix of nerves and anticipation, especially when it comes to something as crucial as checking for Vitamin D deficiency Dubai. Living in Dubai, where sunlight isn't always guaranteed, it's even more vital to keep tabs on our Vitamin D levels. Regular tests help me stay proactive about my health, ensuring I can soak up the sun responsibly or supplement where needed. Thanks for shedding light on this important topic!

    BalasHapus