Tetangga kos gue suka makan gorengan, kucing peliharaan tetangga kos gue suka makan gorengan, mahasiswa tingkat akhir yang lagi galau skripsi juga suka makan gorengan. Hampir semua lapisan masyarakat suka gorengan. Bahkan penjual gorengan di deket kos gue pun juga suka gorengan.

 


Gue ini tipe cowok sederhana yang gak bisa makan nasi rames tanpa gorengan. Kadang sepulang kuliah, kalo gue beli nasi rames dan ternyata gorengannya habis gue lebih memilih buat meng-cancel nasi rames pesenan gue dan nyari warung lain. Semua itu gue lakukan demi kenikmatan makan rames ditemani gorengan.

Semasa gue kuliah, gue bahkan sampai pilih-pilih warung makan hanya karena pertimbangan seberapa berkualitas gorengan yang disajikan di warungnya. Pilihan gue untuk setia pada salah satu warung biasanya kalo kriteria gorengannya memenuhi standar ketuntasan minimal yang gue tetapkan. Gue suka gorengan yang renyah, gorengan yang kriuk, dan... gorengan yang ukurannya gede. Yang terakhir gue sebutin itu yang paling penting.

Gue sendiri yakin, di dunia yang fana ini banyak sekali makhluk penikmat gorengan. Entah itu penikmat gorengan bakwan, gorengan tempe atau gorengan sisa kemarin, biasanya yang beginian sih kerjaan anak kos. Mereka semua menyukainya, biasanya ada yang suka dimakan panas-panas, dimakan pake cabe, dimakan sambil dicocol sambel sampai yang suka dimakan bulat-bulat, padahal gorengannya bentuknya kotak.

Pada kesempatan kali ini, gue sebagai lelaki penikmat gorengan akan membagi tips kepada kalian agar kalian bisa lebih memaksimalkan potensi kenikmatan maksimal saat makan gorengan. Perhatikan, untuk bisa menikmati gorengan lebih syahdu lagi. Kalian harus memperhatikan kualitas gorengan yang kalian miliki, yang kalian pilih, yang kalian genggam dan yang kalian yakini. 

Oke, mungkin kedengarannya gue terlalu membahas sesuatu yang gak penting. 

Bagi kalian, gorengan mungkin hanya terlihat sederhana sekali. Tapi jika kalian jeli, kalian akan menemukan sejuta kelezatan dalam setiap gorengan yang kalian genggam. Tolong, percaya sama gue.. walaupun kapasitas gue masih meragukan karena gue termasuk lelaki yang belum teruji secara klinis di ITB dan IPB. Tapi sekali lagi, gue adalah lelaki penikmat gorengan.

Sekarang, silakan simak baik-baik apa yang akan gue sampaikan untuk memilih gorengan yang berkualitas.

1. Pilih yang kadar minyaknya enggak terlalu tinggi

Dalam situasi tertentu, biasanya kalian melihat tumpukan gorengan yang begitu tinggi. Hal ini bisa terjadi jika kalian membeli gorengan pada orang yang memang benar-benar khusus menjual gorengan. Dalam keadaan seperti ini jangan sampai kalian dibuat limbung. Jangan patah semangat untuk berjuang mendapatkan gorengan yang berkualitas.

Dari sekian banyak gorengan, cobalah kalian amati baik-baik satu per sattu gorengannya. Pilih yang bentuknya agak pucat, karena itu artinya gorengan tersebut tidak mengandung minyak yang tinggi. Gue rasa semua tahu kalo kadar minyak yang tinggi itu gak baik buat kesehatan. Muka lo aja udah berminyak broh, masih mau ditambahin makan gorengan yang berminyak? Dasar dekil! Najis ih..

Maka dari itu, saran gue sih usahakan jangan pilih gorengan yang minyaknya kelihatan menantang. Intinya inget muka lah.


2. Pilih yang ukurannya paling gede
Hal ini enggak perlu gue jelasin panjang lebar. Karena hanya dengan naluri, tangan kita akan bergerak dengan sendirinya mencari gorengan yang ukurannya paling gede. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena tidak semua gorengan memiliki ukuran yang sama, padahal kita semua tahu harga gorengannya sama. Ini memang diskriminasi, tapi sangat jarang gue liat ada orang protes masalah ukuran gorengan pada penjualnya. Harga diri..

Jadi solusinya sederhana, gunakan kelincahan dan ketajaman mata kalian untuk mencari gorengan dengan ukuran meyakinkan di tengah hiruk pikuk gorengan lainnya. Bagi orang yang polos, mungkin masih ada sedikit pertanyaan yang mengganjal di hati kecilnya. Kenapa sih kita harus memilih gorengan yang ukurannya gede? Karena semakin gede biasanya kita semakin puas. Gak cowok, gak cewek. Sama aja...


3. Timbang gorengannya
Hal ini perlu kita lakukan di saat-saat kita mengalami keraguan dalam memilih gorengan. Ya, jangan salah.. memilih gorengan kadang bisa saja dihinggapi rasa ragu. Hal ini biasanya terjadi pada anak sekolah dan anak kuliah saat di kantin.

Waktu istirahat, biasanya hasrat untuk menikmati gorengan begitu menggelora. Ditambah saat melihat tumpukan gorengan yang sudah melambai-lambai pengen dibelai.

Kalian memilih dengan mengandalkan ketajaman mata, kalian mengambil gorengan yang kalian anggap paling gede ukurannya. Tapi ketika hendak membayar, kalian melihat ada gorengan yang sepertinya ukurannya lebih gede lagi dari yang dimiliki kalian. Kalian mulai rague dengan pilihan kalian.

Sebelum resmi membayar, akhirnya kalian mengambil dan mengamatinya dengan seksama, membandingkan gorengan yang kalian pegang dengan gorengan yang kalian lihat lebih gede.

Pada saat-saat seperti inilah, cara menimbang gorengan diperlukan. Lah terus gimana caranya? Mau pake apa nimbangnya? Gampang... itu sangat-sangat simpel. Coba gunakanlah kedua tangan kalian sendiri.

Letakkan gorengan yang kalian pilih di tangan kanan, kemudian letakkan gorengan yang kalian anggap lebih gede di tangan kiri. Posisi tangan kanan dan tangan kiri harus sejajar. Kemudian, pejamkan mata kalian, kosongkan pikiran dan cobalah untuk merasakan feel dari kedua gorengan tersebut.

Kalo yang ada di hati kalian murni tentang gorengan, maka perlahan tapi pasti salah satu tangan kalian akan berat sebelah. Bukalah mata, tangan yang posisinya lebih rendah dari yang satunya itu berarti ukuran gorengannya lebih gede.

4. Pilih yang enggak gosong
Sebesar apapun gorengan yang ada di tanganmu, seindah apapun bentuk gorengan yang menarik perhatianmu. Semua gak akan ada artinya kalau gorengan itu gosong.

Gorengan gosong, selain penampilannya yang enggak banget, juga tentunya akan mempengaruhi cita rasa dalam setiap gigitan yang kalian kehendaki hingga terlalu sulit untuk kalian resapi kenikmatannya (ini bahasa gue maksudnya apaan sih).

Walaupun sebenernya tergantung selera, tapi alangkah baiknya hindari gorengan gosong. Mungkin, kalo kalian menganalogikan gorengan sama seperti orang-orang berkulit gosong yang justru disukai bule karena terlihat eksotis. Maka, kalian telah tersesat terlalu jauh. Segeralah berwudhu dan bertobat. Lagipula gorengan enggak punya yang namanya tetek, beda sama orang berkulit gosong. Tolong pahami baik-baik.

Gorengan gosong, berbeda dengan kulit gosong. Kalian tidak akan bisa menjemur gorengan di pantai untuk menggosongkan gorengan. Jadi, lupakan pemikiran-pemikiran kalian yang terlalu bermain dengan logika dan berharap gorengan yang gosong menambah penampilan menjadi lebih eksotis. Yang gue tau, gorengan gosong rasanya enggak enak, serius. Jadi, jauhi... 



5. Pilih sesuai hati nurani
Poin terakhir ini adalah poin yang dapat membuat poin-poin di atas bisa kapan saja dieliminasi dan digugurkan dengan sendirinya.

Mungkin ini bisa dikatakan yang namanya kesucian cinta. Tak pernah terpengaruh oleh keadaan dan penampilan. Yah, meskipun bentuk kecintaan itu diungkapkan kepada sepotong gorengan.

Seperti lagu yang liriknya begini:

Separuh nafasku... kuhembuskan untuk gorengan, biar rinduku sampai kepada gorengan itu.. u~ u~ u~

Kamu segalanya tak terpisah oleh waktu // biarkan bumi menolak ku tetap cinta gorengan // biar mamahku tak suka, papahku juga melarang // walau dunia menolak ku tak takut // tetap kukatakan ku cinta gorengan~


judika


Judika : Mama Papa Larang Gorengan


Tolong maklumin kalo liriknya agak maksa.

Setidaknya begitulah hikmah yang bisa diambil dari lirik lagu tersebut, kalian yang memang sudah sangat mencintai gorengan dalam keadaan apapun, seperti apapun, harus selalu mempertahankan prinsip walaupun mama papa melarang makan gorengan.

Dan juga kalian mesti sadar satu hal, bahwa di dunia ini enggak ada gorengan yang sempurna. Yang terpenting bagi kalian adalah, bagaimana cara kalian menikmati gorengan tersebut dengan cara yang sempurna. Caranya sederhana.. *nunjuk hati* *uhuk*

Yap, kalo kalian suka gorengan ya suka aja. Gak usah pilih-pilih, toh akhirnya bakalan habis juga kalo dimakan. Toh, akhirnya bakalan enggak berasa juga kalo udah diminumin air putih, apalagi marimas jeruk nipis. 

Jadi walaupun gorengannya berminyak, enggak gede-gede amat, gosong. Ya udah... kalo bukan kita yang bisa menerima keadaan gorengan seperti itu dengan hati nurani, siapa lagi yang mau?

Renungkan...

Demikian hal-hal yang bisa gue sampaikan tentang gorengan. Apa yang gue tulis sifatnya hanya untuk membantu. Gue enggak minta bayaran buat nulis ini, gue hanya pengen para penikmat gorengan tahu ada hal istimewa yang tersimpan dalam setiap lapisan gorengan.

Oh iya, hal-hal yang gue sebutin di atas gak akan ada artinya kalo ternyata pas beli gorengan malah diambilin sama penjualnya, kalian enggak punya kesempatan untuk memilih. Yah... terima nasib aja.