Ngomelin Lambe Akrobat - Agus Mulyadi

12/08/2018 09:53:00 am


Setelah sekian lama tidak ada progressnya. Saya mencoba mengisi kembali rubrik #Ngomel a.k.a Ngomongin Novel di blog ini. Nah, untuk edisi kali ini saya mau ngomongin novelnya Agus Mulyadi. Seorang blogger asal Magelang yang sebelumnya sudah menerbitkan tiga buku (kalau nggak salah).

Sebenarnya sudah lama saya absen beli novel dengan genre komedi. Alasannya karena pertama, harga novel yang semakin hari semakin mahal. Kedua, buku komedi sekarang sudah semakin susah dicari. Ketiga, kalaupun ada novel genre komedi, saya nggak tahu bukunya beneran lucu apa enggak.

Ya.. buku komedi di era hoax seperti sekarang ini memang terlihat memprihatinkan. Hidup segan, mati pun enggan. Sejak era keemasan selebtweet berakhir, buku komedi jadi ibarat seperti HP Nokia. Dulunya sangat digemari, sekarang benar-benar ditinggalkan.

Dulu, waktu masih jadi mahasiswa. Hampir setiap ada novel komedi terbaru saya selalu menyempatkan diri untuk beli setelah beberapa hari rela mengakrabkan diri dengan mie instan. Sekarang, disaat novel komedi begitu jarang muncul. Sekalinya ada, saya sering ragu buat beli. Khawatir bukunya garing, padahal harganya mahal.

Beberapa waktu yang lalu, disaat saya refreshing ke kota Tegal dan menyempatkan mampir ke Gramedia Rita Mall. Mendadak saya jadi kangen sama novel genre komedi. Beberapa rak buku coba saya puterin, tapi belum ada satu pun novel komedi yang membuat saya tergoda.

Sampai akhirnya, setelah saya jongkok dan mengais-ngais rak buku kedua dari bawah. Saya menemukan buku Agus Mulyadi yang berjudul Lambe Akrobat. Sebelumnya, saya sempat lihat beberapa kali buku ini lewat di linimasa Twitter saya.

Agus Mulyadi bukan seorang yang asing buat saya karena saya juga sudah membaca dua buku Agus Mulyadi sebelumnya yang berjudul Jomblo Tapi Hafal Pancasila dan Bergumul dengan Gusmul. Dua bukunya itu adalah hasil dari tulisan yang pernah ditulis di blognya lalu ditambah dengan beberapa tulisan baru.

Sebenarnya saya bukan pembaca setia blognya Agus. Bahkan jarang sekali saya berkunjung ke blognya Agus. Karena itu, bagi saya walaupun tulisan di buku Agus ini merupakan kumpulan dari tulisan blognya, bagi saya itu nggak masalah.

Setelah meyakinkan diri untuk beberapa saat akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku Lambe Akrobat dan satu lagi bukunya Fico Fachriza yang berjudul Puncak Nasi Tumpeng.

Alhamdulillah... akhirnya memang saya tidak menyesal membeli buku Lambe Akrobat ini. Baru beberapa lembar baca aja, buku ini sudah berhasil untuk membuat saya cengar-cengir. Memang, salah satu ciri khas Agus yang saya suka adalah Agus punya banyak sekali kosakata dalam menulis, diksinya bikin geli. Hal itu dipadukan dengan campuran bahasa jawa Magelang yang membuat saya jadi semakin betah membaca.

Di buku Lambe Akrobat ini ada dua bab utama, yang pertama Keluarga Hansip dan yang kedua Marcopolo dan Geng Koplo.

Bab pertama terbagi lagi ke dalam tujuh belas cerita yang menceritakan suka duka sebagai keluarga hansip. Yang juga lebih berfokus menceritakan betapa superiornya bapak Agus yang bernama Trimo Mulgiyanto.

Dua halaman di bab pertama yang berjudul Seni Menjawab dengan Taktis sukses membuat saya cengar-cengir. Jadi, ceritanya Agus ini merasa punya firasat kalau bapaknya sebenarnya punya bakat untuk menjadi seorang tokoh besar. Seperti tokoh-tokoh besar lainnya yang kalau mendapat pertanyaan mendadak selalu bisa menjawab dengan santai dan penuh makna. Begitu juga dengan bapaknya Agus.

Ketika itu Agus bertanya, “Pak, apakah bapak bisa bertahan hidup selama seminggu dengan uang lima ratus rupiah?”

Sang Bapak menjawab dengan mantap, “bisa.”, lalu Bapak melanjutkan, “Lima ratus tak belikan aqua gelas. Airnya tak minum, terus gelasnya buat ngemis.”

Saya mendadak cengar-cengir dan ikutan yakin Bapaknya Agus ini memang punya bakat untuk jadi orang besar.

Cerita tentang bapaknya Agus ini memang unik dan haha banget. Mulai dari bapaknya Agus yang pernah dihukum sama tentara karena suatu hal, tentang bapaknya Agus yang hampir pernah ikutan yang namanya pesugihan terlarang sampai Agus kecil yang pernah sengaja ditinggalin bapaknya di sebuah kebun dan akhirnya Agus jadi sakit-sakitan karena katanya ‘kesambet’.

Saya yakin, tidak semua orang bisa menceritakan kisah bapaknya sendiri dengan gaya penulisan yang nyentrik ini. Saya yakin juga, tidak semua orang punya bapak yang kisahnya banyak ajaib seperti bapaknya Agus ini.

Bab utama yang kedua, Agus banyak menceritakan tentang Marcopolo dan Geng Koplo. Salah satunya ada cerita berjudul Tawakal Kaum Gentho yang menceritakan tentang salah satu pertandingan panas klub sepakbola kebanggaan kota Magelang yaitu PPSM melawan Persis Solo.


Seperti yang sudah bisa ditebak ending khas liga sepakbola Indonesia. Kedua pertandingan ini pun berakhir ricuh. Teman Agus yang bernama Marcopolo tentu saja tidak mau ketinggalan untuk ikut berpartisipasi di acara tawuran massal ini.

Paijo, teman Marcopolo yang khawatir akan hal-hal buruk di momen tawuran ini. Mengingatkan Marcopolo dengan berkata, Ojo kemajon, Su, kowe ki ra nganggo helm, keno watu bocor ndasmu,”

Namun seakan tidak takut menghadapi kemungkinan terburuk dari insiden tawuran ini. Marcopolo mengeluarkan sabdanya yang penuh bobot, “Mati-urip ki nang tangane Gusti Alloh, ora nang tangane Pasoepati, Su!”

Luar biasa, sekali.

Secara kesuluruhan buku yang diterbitkan oleh Mojok ini ada cukup banyak bab yaitu 33 bab. Maklum aja sih, soalnya setiap bab rata-rata ceritanya tidak terlalu panjang. Walaupun begitu, semuanya selalu enak dibaca.

Di akhir buku ini juga ada semacam kamus kecil-kecilan buat yang nggak paham sama bahasa jawa yang dipakai dalam buku ini. Mungkin, buat orang yang nggak ngerti bahasa jawa, jadi kurang bisa menikmati isi buku ini karena kendala bahasa. Tapi buat orang yang paham bahasa jawa. Buku ini nggak ada salahnya buat dijadikan salah satu buku yang layak buat dibaca.

You Might Also Like

0 Upil