Kekuatan Iklan Thailand


Tahun ini, gue kebagian ngajar anak kelas tiga SD. Udah pasti, cara ngajar gue juga harus menyesuaikan dengan usia mereka. Nggak boleh terlalu galak, nggak boleh terlalu ngondek, juga nggak boleh terlalu sering ngajak berantem kalau anak pada nggak mau diem. Soalnya ini anak kelas tiga SD, bukan anak kelas tiga STM.

Kalau ada anak yang salah jawab pertanyaan nggak usah sampai digigit, kalau ada anak yang nangis gara-gara salah jawab pertanyaan, nggak usah sampai dibaiat masuk ISIS. 

Sebagai guru kelas yang kekinian, gue suka muterin video di kelas untuk menunjang pembelajaran. Walaupun, ya... alasan sebenarnya biar gue nggak terlalu ribet ngejelasin materi dan anak nggak pendarahan otak berusaha memahami apa yang sedang gue sampaikan. 

Pernah waktu itu, gue menjelaskan materi tentang Sumber Daya Alam yang tidak dapat diperbarui tentang minyak bumi. Gue cerita ke anak-anak... 

“Anak-anak, perlu kalian ketahui ya, di dalam tanah itu tersimpan minyak bumi yang bisa diambil manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Minyak bumi itu letaknya jauuuuh sekali di bawah tanah. Tapi....”

“Pak, jauhnya seberapa? Cara ngambilnya gimana, Pak?”

“Pak kalau misal Pak Petani lagi mencangkul terus tahu-tahu keluar minyak bumi bagaimana Pak, sawahnya penuh sama minyak dong, Pak?”

Belum selesai ngejelasin, anak-anak sudah bertanya yang sepertinya mengganggu pikiran mereka. Gue hanya menatap mereka satu per satu dengan senyum yang tulus. Tapi mereka sudah mengkerut menyembunyikan wajahnya dalam semak-semak.

Tadinya gue mau jelasin, “Bisa nggak, kalian nggak usah kepo cuma sama urusan yang namanya minyak bumi? Masih banyak hal penting yang harus kalian lakukan selain ngurusin minyak bumi. Lebih baik kalian ngurusin akhlak kalian, sholat kalian, perbanyak sedekah biar bisa selamat dunia akhirat!”

Gue segera istighfar dan mengurungkan niat dengan apa yang mau gue sampaikan barusan.

Nikmatnya jadi guru kelas tiga itu memang harus sabar menghadapi pertanyaan-pertanyaan unik dari mereka. Baru saja gue mau jelasin, “Tapi.. nggak semua tempat di bwah tanah ada minyak buminya.”

Anak-anak sudah pada motong penjelasan duluan.

Akhirnya, biar enggak bingung. Gue memutuskan untuk memperlihatkan video tentang apa itu minyak bumi, bagaimana cara mengambilnya, hasil pengolahannya dan pemanfaatannya.

Sebenernya cara ngajar gue di kelas nggak cuma ngasih liat video tentang minyak bumi abis itu udah, enggak... 

Biasanya setelah materi yang gue sampaikan beres dan gue sudah melaksanakan ulangan harian. Gue mencoba mengajak anak untuk santai dengan muterin video-video yang nggak berhubungan sama pembelajaran.

Dimulai dari muterin video lagu wajib nasional dan nyanyi bareng lalu ngajak anak-anak buat senam dulu di dalam kelas. Dengan ukuran kelas yang tidak terlalu besar, senam yang gue tampilkan palingan Senam Ponsel, Baby Shark dan Senam Jantung. Senam khawatir kalau kepala sekolah melihat anak-anak lagi pada lompat-lompat di kelas dan menganggap gue sedang berbuat dzalim pada anak-anak. 

Selesai senam, gue lanjut nunjukkin video iklan-iklan dari Thailand yang sedih-sedih gitu. Gue penasaran bagaimana reaksi mereka setelah nonton video itu. Kenapa gue iseng muterin video iklan Thailand? Ya, karena iklan Thailand ini kebanyakan bikin baper sekaligus menyimpan pesan yang bagus juga buat anak-anak.

Yang pertama gue puterin adalah video tentang ayah yang sering bohong sama anaknya kalau ayahnya ini orang yang sukses dan hebat. Ayah ini jadi kebanggaan anaknya, tapi ternyata Ayah ini sebenernya berbohong, dia berusaha bekerja mati-matian untuk kebahagiaan anaknya. 


Video selanjutnya, gue puterin video tentang Ayah yang tunawicara. Bagaimana seorang anak yang terus dibully di sekolah karena kekurangan Ayahnya ini. Akibatnya, dia jadi stres dan membenci ayahnya sampai berniat bunuh diri. Tapi, pada akhirnya dia sadar kalau Ayah yang seorang tunawicara ini adalah orang yang paling menyayangi dirinya lebih dari siapapun.


Selanjutnya, video tentang seorang pengemis yang suka tidur di depan toko dan membuat pemilik toko merasa kesal dan terus mengusirnya. Sampai akhirnya, pemilik toko merasa kehilangan karena pengemis ini jadi tidak pernah kelihatan lagi di depan tokonya. Penasaran, akhirnya pemilik toko mengecek CCTV yang ada di depan tokonya dan akhirnya sadar dengan kebaikan si pengemis ini. Sayangnya, itu semua sudah terlambat.


Sebenarnya banyak video iklan Thailand yang gue puterin buat anak-anak, tapi tiga tadi aja yang gue tulis di sini. Selesai muterin satu video, gue tanya videonya bercerita tentang apa? Lalu mengaitkan video itu di kehidupan sebenarnya. Bagaimana kita harus bersikap kepada orang tua, bagaimana menghargai orang lain tanpa melihat dari penampilan dan lain-lain.

Namun sebelum gue selesai jelasin itu semua, gue butuh waktu beberapa saat untuk menormalkan suasana karena ternyata anak-anak di kelas pada nangis. Iya, nangis!!!

Ada yang matanya basah, ada yang ngumpetin mukanya di meja, ada juga yang sampai sesenggukan nangisnya sambil dipuk-pukin teman sebangkunya. Padahal, yang puk-pukin juga ikut nangis. 

Luar biasa sekali kekuatan iklan Thailand ini.

Oleh beberapa anak yang tegar dan nggak nangis sama sekali, gue justru disalah-salahin sama mereka sudah bikin temennya pada nangis. Mereka nggak tahu aja, gue juga udah pengin nangis.

Intinya pesan yang ingin gue sampaikan pada mereka adalah bahwa kita mesti bersyukur masih punya orangtua yang sayang dan sudah baik sama kita. Gue minta ke anak-anak, “Nanti begitu pulang sekolah dan sampai rumah, peluk orang tua kalian dan bisikkan “Aku sayang sama Ayah”, “Aku sayang sama ibu”.

Mereka masih pada diam, mecerna setiap kalimat demi kalimat yang gue sampaikan. Masih sambil menyeka air mata yang belum tuntas.

Lalu...

Beberapa diantara mereka protes.

Karena di rumah, mereka manggilnya bukan Ayah atau Ibu. Ada yang Papah Mamah, ada yang Abi Umi, juga ada yang Ayah Bunda. Ya... terserah kalian saja deh ya ~

7 Upil

kekuatan sinematografi, sama pengarahan ceritanya yang bikin tayangan sesederahana iklan thailand ini bikin baper. Kejadian anak anak SD ini, sama kayak ane dulu. Tapi, cuma bertahan beberapa hari doang. Besoknya, kembali badung. Hadeuh

Reply

Weleh blog personal juga ternyata :v salam kenal dari www.novanpevari.com

Reply

Haha berarti sama juga, sadar sesaat besoknya kumat :D

Reply

Wah anak-anaknya langsung diamlah iya pas lihat video iklan thailand nya.

Iya sih aku juga suka lihat Iklan-iklan dari Thailand, Iklannya bukan hanya memasarkan produk aja, tapi ada makna sosial didalam iklannya. Kalau di Indonesia emak-emak di suruh masuk reskuker.haha

Reply

Salam kenal pak guru muda ...
Ngga cuma anak-anak nih yang suka diputerin video iklan tentang Thailand, aku juga suka loh 😁

Reply

Post a Comment