Review The House Of Light - Rumah Cahaya

novel the house of lights

Saya menemukan buku ini saat sedang ada obral buku Gramedia di lantai atas Rita Mall Tegal. Awalnya saya hanya melihat-lihat tumpukan buku dari satu tumpukan buku ke tumpukan yang lain. Lalu saya melihat buku ini, mengambilnya, membalik buku ini lalu membaca blurb-nya. Seharusnya saya biasa saja dengan buku semacam ini, namun dari blurb-nya sepertinya menarik. Harganya juga cuma 20 ribu karena sedang obral, seandainya buku ini berakhir dengan tidak saya baca, saya nggak nyesek-nyesek amat ngeluarin uang 20 ribu buat buku ini.

Berhubung mood membaca saya sedang bagus saat itu, saya meyakinkan diri untuk menyobek segel plastik buku ini dan menjadikanya sebagai buku pertama di tahun 2024 yang saya baca.


BLURB:

Hanya Bonnie dan Granda, yang hidup di negeri, menjaga diri mereka sendiri, dan keluar dari masalah. Hingga suatu hari, Bonnie pergi mengais-ngais di pantai dan menemukan sebuah perahu dayung tua, dan seorang bocah lelaki bertelanjang kaki. Dia kedinginan, kelaparan, dan membutuhkan tempat berlindung. Bonnie tahu itu kejahatan, apabila dirinya membantu bocah asing itu, tetapi dia tidak bisa meninggalkannya hingga ditemukan oleh Penjaga Perbatasan. Semakin lama Bonnie merawat anak lelaki ini, yang telah melakukan perjalanan melintasi lautan untuk awal yang baru, semakin sering pula Bonnie merindukan kebebasannya sendiri. Mungkin inilah saatnya untuk melarikan diri dari kehidupan yang selalu dikenalnya, untuk keluar dari kegelapan dan berlayar menuju rumah cahaya.

Judul : The House of Light - Rumah Cahaya
Penulis : Julia Green
Rating : Remaja
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tanggal Terbit: 21 September 2020
Tebal: 228 halaman
ISBN: 9786230400391
Berat: 160 gram
Dimensi: 20 cm x 13.5 cm

review novel the house of light

Buku ini bercerita tentang seorang anak perempuan berusia 12 tahun bernama Bonnie yang hidup hanya dengan Granda, kakeknya. Ibunya telah pergi meninggalkannya dengan perahu, menyebrang laut untuk mengejar tujuan hidupnya saat Bonnie masih berusia 2 tahun.


Bonnie tidak ingin sekolah karena tidak memiliki teman, maka Bonnie mengatakan kepada Granda kalau dia tidak akan lagi berangkat sekolah, dan dengan tenangnya Granda menyetujui keputusan itu. 


Seperti biasa, Bonnie pergi ke pantai di sebuah musim dingin yang cukup ekstrem. Mencari bahan makanan seperti rumput laut atau barang bekas yang terdampar di pantai yang bisa dibawa pulang.


Pagi itu, Bonnie menemukan sebuah perahu dayung tua, perahu yang selama ini menjadi dambaannya. Bonnie selalu berkhayal jika suatu saat Bonnie bisa menyeberangi lautan menuju negeri yang penuh kebebasan seperti ibunya. Mengingat kondisi yang tidak mungkin untuk membawa perahu ke gudang rumahnya saat itu juga. Bonnie memantapkan hati untuk kembali ke laut besok pagi buta untuk menarik perahu ke gudangnya.


Keesokan paginya, Bonnie sudah tiba di pantai berniat untuk mengambil perahu dengan tali yang dibawanya, namun muncul sebuah bayangan hitam dari dalam perahu yang ternyata itu adalah seorang bocah dengan kondisi menyedihkan dengan kaos compang camping, bertelanjang kaki bernama Ish. 


Melihat kondisinya yang menyedihkan Bonnie berusaha menolong anak ini dengan membawanya ke gudang di dekat rumahnya. Karena Ish tidak ingin meninggalkan perahunya di pinggir pantai. Maka Bonnie dan Ish membawa perahu ini dengan menariknya di atas tumpukan salju dan menyembunyikannya di gudang.


Sejak saat itu, Bonnie terus berusaha merawat Ish yang kedinginan dan terluka. Dengan telaten Bonnie membawakan teh, makanan, kue hingga mantel miliknya yang sudah kekecilan karena Bonnie sudah mendapatkan gantinya dari mantel ibunya yang tersimpan di loteng atas.


Alasan mengapa Bonnie menyembunyikan Ish di gudang dan tidak membawanya masuk ke dalam rumah, karena di negeri yang Bonnie tinggali berlaku aturan yang sangat ketat, yaitu tidak boleh mengajak orang asing, tidak boleh pergi jauh dari negeri dan harus selalu sekolah. Desa tempat tinggalnya benar-benar tempat yang penuh intimidasi, banyak aturan yang membuat para warganya merasa tidak bebas.


Selama Ish bersembunyi di gudang bersama perahunya, dengan sangat hati-hati Bonnie rutin berkunjung membawakan segala kebutuhan Ish, bahkan ketika Bonnie melihat kaki Ish yang terluka parah. Bonnie mencoba meracik obat dari bahan alami berbekal pengetahuan yang dia dapat dari buku yang dia temukan di dalam rumahnya.


Selain merawat Ish yang terluka, Bonnie juga merawat Granda yang kesehatannya semakin memburuk dengan batuknya yang semakin sering. 


Bonnie masih menyembunyikan Ish dari Granda, kakeknya, karena bingung bagaimana cara menjelaskan ada orang asing yang dia sembunyikan sementara Penjaga Perbatasan desa sering berpatroli. 


Hingga suatu hari, Penjaga Perbatasan mendengar kabar ada orang asing yang terlihat di desanya. Penjaga Perbatasan pun jadi semakin rajin berpatroli hingga menggeledah setiap rumah dan gudang para warga.


Bonnie yang mengetahui hal ini panik dan bergegas mengajak Ish pergi dari gudang dengan menarik perahunya di atas salju ke sebuah rumah kosong di tengah hutan dalam cuaca yang sangat dingin.


Pada akhirnya, Ish memutuskan untuk pergi dari desa ini dan mengajak Bonnie untuk pergi menjelajah laut bersamanya. Hati Bonnie menjadi bimbang, di satu sisi pergi ke lautan lepas dengan perahu adalah impiannya, dan ini adalah satu-satunya kesempatan yang Bonnie miliki. Namun, Bonnie ragu karena itu artinya dia harus meninggalkan Granda, yang akhir-akhir ini kondisinya semakin rapuh, di desa ini, Granda hanya punya Bonnie, satu-satunya cucu yang paling dia sayangi.


Setelah berpikir matang, Bonnine mengambil keputusan untuk mengajak Granda pergi bersamanya dan meminta Ish menunggu di pantai. Dengan terburu-buru Bonnie lari ke rumah menjemput Granda untuk ikut bersamanya. Meskipun harus berjalan dengan tertatih-tatih karena kondisi Granda yang sudah tua, akhirnya mereka sampai di tepi pantai dan naik ke perahu Ish.


Mereka melalui perjalanan yang tidak mudah hingga akhirnya sampai di sebuah pulau kecil yang ada mercusuarnya. Meskipun tidak ada penghuninya, anehnya mercusuar itu begitu terawat dan perabotannya sangat lengkap, bahkan ada bahan makanan juga.


Ish, Bonnie dan Granda bisa menggunakan mercusuar ini untuk istirahat sejenak selama beberapa hari sambil merencanakan perjalanan selanjutnya menuju negeri impian yang bebas tanpa kekangan. 


Selanjutnya, apakah Ish, Bonnie dan Granda memilih untuk menetap di tempat ini atau memutuskan lanjut menuju negeri impiannya. Kalian bisa baca sendiri bukunya kalau tertarik dengan ceritanya.


Review


Saya tidak menyangka buku ini ceritanya akan sebagus itu. Tentang hubungan Bonnie dan Granda kakeknya yang hangat dan penuh kasih sayang. Bagaimana kakenya memahami keputusan Bonnie yang lebih memilih untuk tidak sekolah, Granda justru memahami jika di rumah Bonnie pun akan mendapat banyak pelajaran berharga. Juga bagaimana ketika Granda mengatakan Bonnie adalah cucu yang paling disayangnya dalam hidup ini. 


Ketika kondisi Granda semakin hari semakin memburuk dengan batuknya, Bonnie dengan tulus merawat Granda, begitu juga dengan Granda ketika Penjaga Perbatasan mengunjungi rumahnya untuk menanyakan alasan mengapa Bonnie lama tidak sekolah, Granda dengan tegas melindungi cucunya dengan mencari alasan yang logis.


Lalu, ketika Ish mengajak Bonnie untuk melaut bersama dengan perahu seperti cita-citanya dari dulu, sekuat tenaga Bonnie berlari kembali ke rumahnya dan mengajak Granda meskipun kondisinya yang semakin parah. Dengan langkah yang sulit, Bonnie mencoba memapah Granda hingga ke laut, terus memperhatikan Granda, bahkan ketika sampai di pulau ber-mercusuar. Seperti tak kenal lelah, Bonnie mengurus ini dan itu untuk Granda dan Ish.


Semakin mendekati halaman akhir, mulai muncul kesedihan-kesedihan yang sukses dialirkan ke pembacanya, bagaimana Bonnie harus menghadapi kenyataan, tantangan dan impian yang ada di hadapannya.


Sayangnya, buku ini berakhir dengan ending yang menggantung. Saya udah curiga, dengan halaman yang semakin tipis, tapi alur ceritanya masih berputar pada persiapan Bonnie dan Ish untuk perjalanan selanjutnya. Sepertinya buku ini tidak bisa memberi ending yang melegakan. Dan itu benar terjadi.


Meskipun penulis memberikan sebuah penutup dengan gambaran ending yang hangat. Namun, satu kalimat pembuka ‘Bayangkan ini’, membuat pembaca jadi bertanya-tanya. Apakah ini bener endingnya? Atau ini tidak benar-benar terjadi pada Bonnie dan Ish?


Terlepas dari hal itu, saya sangat menyukai buku ini. Buku yang membuat saya bisa merasakan gigihnya seorang Bonnie dan hangatnya hubungan Bonnie dengan Granda.


Posting Komentar

13 Komentar

  1. Sumpeh hanyut banget baca tentang novel ini. Gak sadar sampe nahan napas. Dag dig dug khawatir Ish ditemukan lalu disakiti.
    Jadi penasaran apakah mereka bakalan menetap atau enggak

    Bonie baik sekali ya mau nolong Ish

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, ini bagus banget.. sempet ikutan khawatir juga Ish bakalan ketahuan

      Bonnie emang bener2 super girl πŸ‘

      Hapus
  2. Agak gimana gitu ya baca ulasan nya..sedih gitu mas, melihat keadaan kakek dan Ish teman barunya, Bonnie punya hati yg lembut, masih mau merawat ke duanya walau dengan keadaan sembunyi"berhasilkah mereka?jadi penasaran ,sayangnya endingnya nggantung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, Bonnie emang bener2 anak cewek yang tegar dan luar biasa πŸ‘

      Hapus
  3. Ish, kenapa endingnya gantung sih ya pak, cuma sampai mercusuar saja.

    Ish, kenapa bukunya kurang tebal sih, kalo tebal mungkin langsung tamat ya pak. Ish, kenapa namanya ish sih.πŸ˜…

    Gramedia Rita Mall memang suka mengadakan obral buku ya pak. Dulu aku malah dapat buku cuma 10 ribu saja. Tapi sayangnya bukunya kurang menarik jalan ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo di Indo, Ish ada artinya yaa πŸ˜€

      Ngga papa mas agus, kalo cuma 10 ribu ceritanya nggak terlalu menarik nggak rugi2 banget πŸ˜„

      Hapus
    2. Iya pak, hitung-hitung jajan bakso saja. Ngga rugi juga sih beli buku 10 ribu. Biasanya komik malah 5 ribu, cuma ya ngga ada yang bagus kayak Conan atau dragon ball.😁

      Hapus
    3. Kalau komik obral tuh emang jangan banyak berharap sih, tapi biasanya kalau lagi beruntung bisa dapet komik yang volumenya emang susah dicari banyak orang dan kalau dijual lagi harganya mahal😁

      Hapus
  4. Ini buku terjemahan ya Pak, kok bagus kayaknya. #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, ini terjemahan dan emang bagus bukunya

      Hapus
  5. Wah bagus ya. Masih ada gak ya di toko buku setempat. Terima kasih reviewnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya sih udah nggak ada mbak, harus online, soalnya udah terbit tiga tahunan yang lalu

      Hapus
  6. bagus ih, jadi penasaran pengen baca juga

    BalasHapus