Banyak hal yang gue rasakan selama berperan sebagai guru dan mengajar anak-anak. Kadang gue bahagia saat ngelihat anak-anak yang asik dan bersahabat, anak-anak yang suka sama gue. Kadang gue juga stres saat menghadapi anak-anak unyu yang sifatnya membuat bulu kuduk gue meremang dahsyat. Sampai akhirnya gue bener-bener dibikin keder sama kelakukan mereka yang aneh bin ajaib. Suka ngelemparin temennya pake ketombe sampai nangis misalnya.

Selama gue ngajar, gue telah melihat berbagai macam karakter anak saat menerima pelajaran di kelas. Karakter yang mereka perlihatkan memang kebanyakan aneh-aneh, gue bahkan sampai geleng-geleng kepala menghadapi mereka. Apalagi kalo ada anak yang bertanya, kenapa muka gue enggak enak dipandang. Gue bisa geleng-geleng lebih dahsyat lagi.

Berikut ini ada beberapa tipe anak yang pernah gue temui di kelas selama gue mengajar. Tipe-tipe yang bikin bulu ketek meremang, simak deh:

Tipe Aktif

Anak-anak tipe aktif ini bagaikan dua sisi mata uang. Kadang bikin gue semangat ngajar karena interaksi antara guru dan siswa berjalan dengan gemilang. Gue seneng karena siswa mau aktif bertanya sama gue terkait pelajaran hari itu. Tapi kadang, gue juga kesel sama anak-anak yang punya tipe aktif ini. Karena seringnya pertanyaan mereka aneh-aneh dan gak ketebak.

Seperti misal, saat gue menceritakan tentang legenda candi prambanan yang konon katanya cuma dibangun semalem dan dibantu oleh pasukan Jin. Tiba-tiba ada pertanyaan dari salah satu anak yang bikin gue gelisah, “Pak, Jinnya yang ngebantuin itu namanya siapa aja Pak? Terus bentuknya kayak gimana sih Pak?” Lah dasar bocah, kan bukan urusan gue mesti ngapalin nama-nama jin yang ngebantuin bikin candi prambanan?

Tipe aktif ini memang bisa bikin suasana kelas jadi enggak ngebosenin. Biasanya sih, anak-anak yang suka banget bertanya ini punya kepercayaan diri yang tinggi dalam pergaulannya. Mereka bukan tipe anak yang minder, bahkan bagi mereka makna peribahasa malu bertanya sesat di kelas. Mereka tanamkan dalam-dalam di hati, maka dari itu mereka sering banget cerewet di kelas.

Sisi-sisi ngeselin dari anak bertipe aktif ini juga perlu diperhitungkan. Soalnya kadang emang ngeselinnya bisa sampai tingkat kahyangan. Guru lagi ngejelasin materi, udah dipotong dulu sama pertanyaan dari anak ini. Guru ngejawab, dipotong lagi. Bikin ribet banget, walaupun kadang guru udah menjelaskan kalo nanti ada sesi pertanyaan sendiri. Tetap aja anak ini masa bodoh.

Kadang malah sering, gurunya lagi ngejelasin materi siswanya protes. Ngerasa enggak sreg dengan apa yang guru sampaikan dan langsung ngungkapin uneg-unegnya gitu aja. Kayak misal, waktu gue ngejelasin tentang lawang sewu di kota Semarang, eh ada yang enggak terima. “Loh Pak emang lawang sewu itu pintunya ada seribu? Gak ada Pak! Harusnya kan namanya bukan lawang sewu Pak! Lebay tau Pak!”

Lah... kenapa elu jadi protesnya sama gue nak? Protes aja sana lu sama dinas pariwisata atau dinas perhubungan biar ada hubungannya antara nama sama jumlah pintu di lawang sewu.

Tapi bagaimanapun juga, sebagai guru yang baik gue harus tetap memberikan pengetahuan yang enggak menyesatkan, maka gue pun mencoba memberi pencerahan dengan menjawab, “Pintunya memang enggak seribu, tapi kalau pintu jendelanya juga dihitung itu nanti jumlahnya jadi seribu.”

“Emang Pak Edotz udah pernah ngitung? Belum kan Pak? Ah.. Pak Edotz ngarang deh.”

Mungkin gue perlu bawa anak ini langsung menuju lawang sewu terus gue ajakin main kelereng. Biar dia lupa sama pertanyaan gak pentingnya.

Anak-anak yang punya tipe aktif memang merepotkan, tapi kalo guru bisa mensiasati cara menghadapi anak dengan tipe seperti ini sebenarnya gak bakalan jadi masalah.

Tipe Pasif

Ada anak bertipe aktif pasti ada juga anak bertipe pasif. Anak tipe ini bukan tipe anak yang suka cari masalah seperti tipe aktif yang suka mengkritisi setiap penjelasan dari guru. Anak tipe pasif ini sebenarnya anak yang rajin dan bersahaja.

Setiap guru menjelaskan materi. Tipe pasif ini pasti akan mendengarkan dengan khusyu’ tapi gak pernah mau melakukan komunikasi dengan guru. Seolah-olah hidupnya hanya untuk pasang telinga dengan baik aja.

Intinya,  kalo anak ini enggak paham dengan penjelasan guru. Anak ini lebih memilih diam dan menyimpan ketidakpahamannya dalam hatinya. Mungkin anak ini berpikir, bahwa diam itu bisa beneran jadi emas.

Kadang kalo gurunya memberi kesempatan untuk bertanya dan guru bosen dengan siswa-siswa itu aja yang bertanya. Guru akan menunjuk siswanya, dan ketika kebetulan guru menunjuk siswa tipe pasif ini. Biasanya anak tipe ini tetap memilih diam. Tetap malas membuka suara. Bahkan kadang pura-pura bodoh saat ditunjuk dengan menganggap yang ditunjuk bukan dia tapi teman lainnya.

Tipe pasif ini bukan tipe anak pemalas meskipun jarang ngomong. Biasanya ketika guru menjelaskan materi atau mencatat materi di papan tulis. Tipe anak ini dengan rajin akan mencatat semua materi yang ada tanpa terkecuali. Yah.. walaupun enggak sampai coretan-coretan gak penting yang guru tuliskan di papan tulis demi menyampaikan materi sesederhana mungkin.

Anak tipe ini sering diam biasanya karena minder, gak punya mental buat mengajukan pertanyaan pada guru ataupun menjawab pertanyaan dari guru. Bukan malu karena kentutnya cempreng atau pantatnya bercabang, yang jelas anak dengan tipe seperti ini memang kebanyakan kurang pede.

Tipe Cuek

Tipe cuek pasti ada di dalam setiap kelas. Entah itu kelasnya anak madrasah atau anaknya kelas STM. Bagi gue, populasi anak cuek  tidak terlalu memppengaruhi kelancaran gue dalam mengajar. Karena materi yang gue sampaikan pun mungkin enggak pernah  diperhatikan sama anak tipe cuek.

Mungkin ada pendapat yang menyatakan bahwa untuk mengatasi problem siswa cuek, guru harus mendesain strategi pembelajaran yang menarik. Ya, itu bener... tapi menurut gue diantara sekian banyak siswa yang terlihat tertarik dengan pembelajaran. Pasti akan ada siswa yang kelihatannya enggak bergairah dengan pembelajaran.

Siswa cuek biasanya terjadi karena enggak tertarik dengan pelajaran yang disampaikan. Akhirnya siswa jadi bosan dan menjadi acuh dengan penjelasan guru. Tingkat kecuekan siswa biasanya meningkat drastis saat pelajaran matematika. Ini beneran, gue pernah ngajar matematika saat praktek, dan interaksi tanya jawab sangat terbatas sekali. siswa lebih banyak diem, lebih banyak yang enggak peduli. Bagi mereka, daripada memperhatikan pelajaran kayaknya lebih penting kalo memperhatikan jam dinding.

Ciri-ciri siswa cuek bisa diamati dari berbagai hal. Dari tatapan matanya, biasanya dia keliatan sayu. Enggak bergairah... terus cara duduknya membungkuk, tangan kiri di atas meja telapak tangannya menyangga pipinya sambil cemberut. Kalo udah sampe hal mainstream, anak-anak pada gelesotan di bawah meja, tidur sambil pegang tasbih.

Sebagai guru yang mempunyai tanggung jawab untuk mencerdaskan siswa. Mau gak mau kita harus memberi perlakuan khusus kepada anak yang kelihatannya cuek. Jadi kalo gue pribadi, solusi mengatasinya yaitu dengan menunjuk anak tersebut untuk maju mengerjakan soal atau menyuruhnya cuci muka ke toilet. Iya, semua guru juga kebanyakan gitu. Jadi kesimpulannya, gue emang gak kreatif. Oke, fine..

Tipe Cengeng

Tipe anak ini, termasuk peristiwa yang jarang muncul, tapi bukan berarti emang enggak ada. Tipe siswa cengeng ini sering bikin guru geleng-geleng pasrah dan mengelus dada. Kadang gue berpikiran pengen sekali-kali mendampingi temen cewek gue yang ngajar dan ketemu masalah sama tipe siswa cengeng yang bikin gelisah. Iya, karena gue siap kalo sewaktu-waktu dibutuhkan mengelus dada temen gue saking keselnya.

Hal-hal yang bikin siswa nangis di kelas macem-macem. Ada anak yang nangis gara-gara waktu pembagian lembar jawab saat ulangan anaknya enggak kebagian, takut ketinggalan sama temen-temen lainnya pas ngerjain soal, dia nangis. Yang paling sering sih, gara-gara dibully temennya di kelas, jadinya nangis sesenggukan. Padahal, ngebully-nya juga enggak parah-parah banget, enggak sampe bilang kalo si anak ini dibilang punya bapak yang wajahnya mirip Andika mantan vokalisnya kangen band.

Kadang juga ada kasus, anak yang disuruh maju mengerjakan di papan tulis. Enggak bisa jawab, lalu nangis. Beberapa kasus lainnya malah ada anak yang padahal enggak diapa-apain tiba-tiba nangis. Hal ini menjadi pertanyaan, kadang emang beneran enggak diapa-apain saking cengengnya yang entah kangen pengen nete’ sama ibunya di rumah atau enggak diapa-apain hanya secara kasat mata aja.

Iya, karena kadang setelah ditelusuri baru sadar kalo ternyata si anak boker di celana dan enggak punya nyali untuk minta ijin ke toilet. Untuk kasus seperti ini, dampak psikologis yang terjadi biasanya sangat dahsyat dan berkepanjangan karena biasanya anak yang pernah membuat rekor boker di kelas. seumur hidupnya akan dikenang oleh teman-temannya. Dan sepertinya sulit untuk memperbaiki citra ini.


Segitu aja sih menurut gue tipe siswa yang bisa gue sebutin saat menerima pelajaran di kelas. Sebenernya sih masih ada poin selanjutnya, cuma gue takutnya terlalu panjang nanti malah jadi pada males baca. Kan gue jadi gak enak udah bikin males anak orang.

Gue sih yakin pembaca blog gue pasti pernah ngerasain yang namanya jadi siswa, nah... kalo kalian sendiri, ada tipe lain yang sering kalian temuin di kelas waktu sekolah dulu nggak? Kasih komentar aja di bawah ya~