Sebelum mulai tulisan gue yang gaje, gue mau tanya dulu nih sama kalian. Benda apa yang ketika awal bulan enggak dianggap kehadirannya, tapi ketika akhir bulan justru sangat diharapkan kehadirannya oleh mahasiswa? 

Hah? Pembalut? Bukan. Akhir  bulan ngapain juga cowok pakai  pembalut. Misal cewek PMS pun, juga enggak selalu akhir bulan kan.
Apaan? Kancut? Bukan juga. Kancut kapan saja memang selalu dibutuhkan kehadirannya oleh mahasiswa.

Jadi apaan donk? Jawabannya cukup  sederhana, RECEHAN.


 Di bekas celengan ini, recehan gue berlabuh...

Biar gue jelaskan alasannya...

Kalau ada yang belum tahu apa itu recehan? Kemungkinannya cuma ada satu. Orang itu hidup di daerah pedalaman yang enggak dilewati garis khatulistiwa dan belum mengenal baca tulis serta perbedaan jenis kelamin. Sistem perdagangannya juga masih mengunakan sistem barter.

Enggak tahu apa itu sistem barter? Berantem aja yuk?

Recehan, sebuah benda berbentuk (biasanya) lingkaran dan (biasanya) terbuat dari logam sederhana. Iyasih, kalau logam istimewa itu namanya emas. Nah, sebenarnya tanpa kita sadari, recehan ternyata punya kekuatan yang tak terduga untuk menyelamatkan kelangsungan hidup mahasiswa di akhir bulan. Recehan juga ternyata sanggup menghindarkan mahasiswa dari beberapa kali serangan sakit maag. Walaupun sering disia-siain, recehan ternyata baik banget.

Bayangin deh, disaat nominal Rp 100.000, Rp 50.000, Rp 20.000 bahkan Rp 10.000 udah gak ada di dompet. Recehan dengan sendirinya akan mengambil peran untuk menjadi nilai tukar rupiah yang utama, jika diawal bulan para mahasiswa enggak pernah mengucilkan keberadaan recehan. 

Yap, awal bulan setiap habis beli sesuatu dan dapet uang kembalian berbentuk recehan, jangan pernah dibuang begitu aja. Coba deh dikumpulin di suatu tempat dulu. Di celengan bekas yang udah gak kepakai misalnya, gue jamin deh, akhir bulan nanti recehan akan menjadi harta yang paling berharga kedua bagi kalian. Karena harta yang paling berharga pertama kata keluarga cemara adalah keluarga.

Berkat recehan semuanya menjadi mudah. Mau beli marimas sachetan, ada recehan. Mau beli shampo sachetan, ada recehan. Bahkan mau beli gorengan buat lauk makan malam pun, ada recehan. Harus diakui, recehan telah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan mahasiswa.
Mungkin, bagi mahasiswa kelas eksekutif. Recehan memang selamanya akan menjadi recehan yang nilainya tetap segitu-gitu aja. Tapi, bagi mahasiswa yang hidupnya penuh airmata dan peluh keringat, menyaksikan cara recehan menyelamatkan hidup di akhir bulan rasanya benar-benar mengharukan.

Selain peran recehan yang begitu vital bagi mahasiswa. Recehan juga mempunyai banyak manfaat lain dalam kehidupan sehari-hari yang enggak kalah menterengnya dari status penyelamat mahasiswa. Coba deh liat buktinya :

 1. Bayar Parkir
Pernah ngebayangin gimana rasanya kalau pergi ke mall atau toko kemudian ada tarif parkirnya? Gak usah dibayangin juga pasti ada kan ya? Ada-ada aja deh gue ini. Iya, intinya gitu deh, jadi cukup jelas kan? Nah, sekarang bayangin seandainya kita ada disuatu momen dimana kita mau keluar mall,  ngelewatin tempat pembayaran parkir, kita enggak punya recehan, apa yang harus kita lakukan? Bayar pakai uang yang nominalnya gede? Endingnya bakalan lama nunggu petugas parkirnya buat ngasih kembalian. Udah gitu, kasian juga sama yang antri dibelakang kita mesti menunggu lama. Iya kalian semua tau kan, menunggu itu enggak enak. Sama loh rasanya seperti nungguin gebetan yang udah ngasih perhatian lebih tapi enggak nembak-nembak. Nah, seandainya kalian enggak mengabaikan recehan, semuanya tak akan seenggak enak ini.

2. Beli Mie Instant
Beli mie instant memang bisa menggunakan uang dengan pecahan nominal berapa saja, tapi kita belum tentu sanggup beli mie instant dengan pecahan nominal berapa saja, diwaktu kapan saja. Seperti saat akhir bulan contohnya, seandainya kalian mau memberikan tempat yang layak untuk para recehan bersemayam bersama kalian, mungkin akhir bulan kalian bisa memanfaatkan para recehan untuk ditukar dengan indomie, tapi jika kalian sering mengabaikan recehan yang ada disekitar, niscaya... akhir bulan recehan tidak akan sanggup membantumu menebus mie instant di saat-saat darurat sementara kalian udah enggak punya uang sama sekali. Nungguin kerupuk sisa dari teman aja kalau gitu.

3. Bayar Pengamen
Hampir sebagian besar rumah, enggak terlepas dari yang namanya kunjungan pengamen. Iya, pasti. Tapi hal ini enggak berlaku di kawasan perumahan elit yang setiap depan rumah masing-masing ada satpamnya. 

Sekarang gue mau bahas rumah biasa-biasa aja, rumah yang enggak ada satpamnya. Pernah gak kalian ngebayangin, saat lagi asiknya guling-guling di lantai dengan khusyu dalam keadaan tenang dan sunyi, tiba-tiba ada suara musik syahdu mengalun mengusik kesunyian. Beberapa saat kemudian kalian menyadari, itu adalah suara pengamen yang berkunjung.

Kalau seandainya kalian selalu sedia recehan di rumah sih, hal itu enggak jadi masalah. Tinggal bangun dari guling-guling terus kasih recehan ke pengamen. Tapi situasinya bakalan beda kalau kalian enggak punya stok recehan. Mau gak mau kalian mesti memilih satu diantara dua opsi yang tersisa.
Pertama : pura-pura tidur dan enggak dengar sampai pengamennya capek sendiri terus akhirnya menyerah dan pergi.
Kedua : bilang ke pengamennya dengan gentle kalau di  rumah enggak ada recehan, sedikit catatan untuk yang satu ini resikonya beragam.  Pertama, dimaklumin sama pengamen, kedua dibentak sama pengamen. Iya, itu bisa saja terjadi..

Soalnya gue sendiri pernah ngalamin gimana sedihnya dibentak sama pengamen. Ceritanya waktu zaman SMA dulu, gue lagi study tour ke Bali, karena ‘gelap mata’, gue habiskan hampir seluruh uang saku buat belanja dan hanya menyisakan selembar 20 ribu perak di dompet. Sampai pada saat perjalanan pulang di dalam kapal, gue emang kebetulan lagi males banget keluar dari bus. Gue cuma tiduran di kursi belakang bersama beberapa penghuni bus lainnya yang jumlahnya enggak sampai sepuluh ekor.

Tiba-tiba ada dua pengamen masuk, menyanyikan beberapa buah lagu dan mulai berkeliling mintain uang. Pas pengamennya udah nyampe di kursi gue. Dengan memasang wajah penuh kenistaan sambil ngerogoh saku celana, gue bilang, “ Maaf mas, gak ada uang recehan..”

“SAYA INI MAU NGAMEN! BUTUH UANG!” Pengamennya ngebentak gue sambil ngasih bonus kuah. Percayalah, tulisan caps lock diatas enggak sanggup mewakili betapa kencengnya suara dari pengamen saat itu.

Gue jiper banget, sempat kepikiran mau nyerahin uang 20.000 gue yang terakhir. Beruntung.. ternyata gue nemu duit lima ribu perak di dalem saku belakang celana, gue selamat...

4. Bayar WC Umum di Pom Bensin
Poin nomer empat ini biasanya sering kejadian kalau kalian bepergian jauh ke luar kota atau lagi ikutan acara study tour, salah satu takdir yang harus dijalani dari kegiatan ini adalah akan ada suatu momen dimana bus harus transit di pom bensin untuk memberi kesempatan penumpangnya bersedekah sisa makanan yang dimakannya pada toilet.

Bagi yang dari awal udah nyiapin recehan buat bayar biaya toilet biasanya akan merasakan kenyamanan saat melakukan ritualnya di dalam toilet dan setelah keluar toilet, tapi bagi mereka yang sama sekali enggak ada persiapan recehan, pasti bakalan kepikiran terus saat di dalam toilet mau bayarnya gimana? Soalnya mereka cuma punya uang nominal gede. Kalau uangnya harus dipecah cuma gara-gara bayar toilet rasanya pasti enggak ikhlas banget. Kalau udah seperti ini, biasanya mereka akan mencari teman bermuka recehan yang bisa dimintai tolong buat bayarin dulu. Dasar! Ngerepotin teman sendiri!

5. Bayarin Ongkos Naik Haji
Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, sesulit apapun itu semua bisa diwujudkan jika kita punya tekad yang kuat, begitu juga dengan keinginan naik haji yang butuh biaya tidak sedikit. Jangan remehkan the power of recehan.

Coba deh bayangin, seandainya setiap recehan yang bergulir setiap hari bisa kalian kumpulkan, gue yakin secara perlahan recehan itu bisa dipakai untuk menambah ongkos naik haji. Lama-kelamaan recehan yang kalian miliki akan semakin banyak sampai memenuhi kardus tipi di rumah. Ini jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.  Lumayanlah, buat nambah-nambah ongkos naik haji.

6. Kerokan
Akhir bulan bagi mahasiswa pasti menjadi masa-masa transisi dari pola makan cukup bergizi menuju ke pola makan tidak bergizi sama sekali. Kadang mahasiswa makan mie instant, kadang makan kerupuk sisa teman, kadang makan angin.

Gara-gara sering makan angin, daya tahan tubuh menjadi berkurang, bisa saja kalian jadi jatuh sakit, kena masuk angin. Untuk level sakit yang tidak terlalu berkelas ini, dibawa berobat ke dokter rasanya terlalu mainstream. Karena itu, biasanya kalian sangat membutuhkan jasa kepingan recehan buat kerokan. Lihatlah, lagi-lagi recehan udah jadi penyelamat tanpa banyak kata-kata. Bisa dibayangin kalau kalian enggak punya recehan sama sekali. Apa iya mau kerokan pake tutup botol coca cola, fanta atau sprite? Yakin?

Akhir bulan bagi mahasiswa pasti menjadi masa-masa transisi dari pola makan cukup bergizi menuju ke pola makan tidak bergizi sama sekali. Kadang mahasiswa makan mie instant, kadang makan kerupuk sisa teman, kadang makan angin.

Gara-gara sering makan angin, daya tahan tubuh menjadi berkurang, bisa saja kalian jadi jatuh sakit, kena masuk angin. Untuk level sakit yang tidak terlalu berkelas ini, dibawa berobat ke dokter rasanya terlalu mainstream. Karena itu, biasanya kalian sangat membutuhkan jasa kepingan recehan buat kerokan. Lihatlah, lagi-lagi recehan udah jadi penyelamat tanpa banyak kata-kata. Bisa dibayangin kalau kalian enggak punya recehan sama sekali. Apa iya mau kerokan pake tutup botol coca cola, fanta atau sprite? Yakin?

                === 

Gimana? Sepakat dengan gue? Atau kalian justru kepikiran mau ngasih recehan ke gue? Gak usah repot-repot, kalau bisa sama cemilannya sekalian.

Intinya sih, mulai sekarang jangan pernah menyia-nyiakan recehan. Karena yang namanya hidup akan ada waktunya kita membutuhkan recehan. Yuk, mulai ngumpulin recehan.