Sabtu, Agustus 21, 2021

Belakangan Ini

Agustus 21, 2021

Belakangan ini, semangat ngeblog dan baca buku saya lagi terjun bebas. Padahal beberapa minggu sebelumnya, saya lagi semangat-semangatnya baca buku. Bahkan saking semangatnya, beberapa judul buku yang hanya teronggok di rak buku belum tersentuh selama beberapa tahun, sukses saya tuntaskan hanya dalam waktu sehari dua hari.


Target baca 30 buku di Goodreads selama tahun 2021 yang tadinya sudah saya abaikan karena udah pertengahan tahun belum ada setengahnya, mendadak udah ter-update sampai di buku keduapuluh hanya dalam waktu kurang dari sebulan. Saya jadi ngerasa target 30 buku tahun ini sepertinya bisa saya tuntaskan.


Sampai beberapa hari kemudian, saya dapat pemberitahuan nama saya termasuk ke dalam salah satu peserta buat mengikuti LATSAR atau Pelatihan Dasar buat CPNS yang ketika baca aturannya, seketika saya jadi menyalurkan hobi lama saya, mengeluh.


Beberapa waktu yang lalu COVID-19 naik lagi, bahkan kerasa chaos banget, rumah sakit penuh sampai nolak pasien, banyak yang sampai kekurangan tabung oksigen, mobil ambulan berseliweran tiap hari di dekat rumah, setiap pagi dengar berita orang meninggal dari musala lewat pengeras masjid. Semua ini bikin saya bener-bener lebih sering mengurung diri di rumah.


Lalu, salah satu syarat mengikuti latsar ini adalah saya harus bikin surat keterangan sehat di puskesmas atau rumah sakit. Saya yang masih was-was ngeliat situasi mencemaskan ini jadi khawatir mau datang ke rumah sakit. Bisa-bisa datangnya dalam keadaan sehat pulangnya malah jadi nggak sehat.


Sampai H-1 batas pengumpulan berkas, akhirnya saya memanfaatkan orang dalam rumah sakit buat mempercepat birokrasi ngurusin surat sehat ini. Ya sebenernya nggak memanfaatkan dalam artian negatif sih, cuma minta buat daftarin dulu biar nggak harus antri lama.


Kebetulan orang dalam ini kerja di rumah sakit dan kebetulan juga orang dalam ini adalah istrinya teman seper-ghibahan saya waktu masih di sebuah SDIT yang kebetulannya lagi si suami ini mau bikin surat keterangan sehat juga buat ikut LATSAR. Alhamdulillah, hanya butuh waktu tiga puluh menitan surat keterangan sehat jadi dan sampai rumah saya langsung mandi sekalian ganti baju saking khawatirnya pakaian saya bawa penyakit dari rumah sakit.


Saya mengikuti latsar dengan damai yang kenyataannya nggak semelelahkan dongeng para senior yang udah pada ikutan latsar di tahun-tahun sebelumnya. Ternyata, hal itu nggak mengubah apapun, semangat ngeblog saya dan baca buku tetap meredup. Saya pun resmi mengucapkan selamat datang pada ‘reading slump’.


Padahal sebelumnya saya sudah sempat order beberapa buku yang lagi diskon, tapi begitu datang saya benar-benar nggak ada selera banget buat baca bukunya.


Kalau dipikir-pikir memang latsar yang saya ikuti nggak terlalu berat, dalam seminggu cuma perlu beberapa kali ikutan zoom meeting, setelah itu ada tugas individu dan kelompok. Lebih bahagianya, karena latsar ini juga untuk sementara waktu saya dibebastugaskan dari segala tugas sekolah.


Seharusnya bisa lebih santai kan? Tapi tugas-tugas latsar nggak seringan tugas anak ngerjain LKS, walaupun nggak seberat tugas Bandung Bondosowo juga, yang mesti bikin seribu candi dalam satu malam.


Btw, saya harus mengikuti latsar ini selama dua bulan, di mana satu bulannya saya mesti bikin aktualisasi kegiatan di sekolah. Waktu lagi mikir ‘hal apa’ yang mau saya buat di sekolah, saya jadi kepikiran kayaknya kalau buat aplikasi di HP keren nih. Walaupun agak nggak tahu diri juga sih karena saya sama sekali nggak paham pemrograman.


Saya pun coba browsing bikin aplikasi sederhana dan ketemu sama beberapa platform yang sayangnya ada batas waktunya, selebihnya harus bayar. Males juga sih kalau cuma buat aplikasi pembelajaran mesti bayar.


Setelah cari-cari lagi, akhirnya ketemu sama salah satu web yang bisa nyediain aplikasi gratisan. Karena saya selama ini saya udah akrab sama blog, tiba-tiba saya jadi kepikiran gimana kalau blognya dibikin jadi aplikasi.


Jadilah belakangan ini saya juga sibuk ngutak-atik blog dengan kemampuan ala kadarnya biar bisa jadi aplikasi pembelajaran. Konsekuensinya blog sendiri jadi nggak keurus, jadi jarang blogwalking juga.


Yaaahh.. semoga kalau nanti latsarnya sudah selesai mood ngeblog dan baca buku saya jadi balik lagi.

Minggu, Juli 18, 2021

Buku Ich Komme Aus Sewon - Hidup Anak Blasteran yang Enggak Ajaib-Ajaib Amat

Juli 18, 2021

Saya langsung tertarik waktu pertama ngeliat akun Twitter @bukumojok nge-RT tweet dari Kathi yang nunjukkin kaver buku ini. Ilustrasinya seorang cewek duduk di becak sambil nangis, sementara di belakangnya abang tukang becaknya tersenyum syahdu.


Judul Ich Komme Aus Sewon memang sempat membuat saya mengerutkan dahi, tapi saya jadi ‘agak’ paham setelah membaca sub judulnya ‘Hidup Anak Blasteran yang Enggak Ajaib-Ajaib Amat.’


Buku ini pun segera masuk wishlist saya yang terbitnya bareng dengan buku saya Diary Teacher Keder. Btw, saya sengaja ikutan pre ordernya di Shopee toko Calia Book. Karena apa? Karena toko ini yang paling pertama kali mention saya di IG dan promoin buku terbaru terbitan Buku Mojok. Iya, sesimpel itu. 😁


Walaupun pada akhirnya saya harus nunggu lumayan lama karena buku baru sampai ke rumah sekitar sepuluh harian, tapi ya gapapa... karena saya memang lagi baca buku lain dan nggak buru-buru baca buku ini.


Waktu baca nama penulisnya yang ada embel-embel Stogmuller-nya saya berpikir kalau Kathi atau biasa juga dipanggil Ketrin ini blasteran Indo Jerman. Ditambah Ich Komme Aus yang juga kayak bahasa Jerman. Tapi setelah baca beberapa halaman buku ini, ternyata Kathi ini bule blasteran Indo Austria. Lah terus kenapa jadi malah kayak bahasa jerman? Karena ternyata Austria sama Jerman ini deket, jadi mungkin bahasanya masih sama.


IDENTITAS BUKU

Berat : 0.25 kg

Dimensi : 13 × 19 cm

Format : Softcover

Jumlah Halaman : xii + 158 halaman

ISBN : 978-623-7284-56-7

Penerbit : Buku Mojok

Penulis : Katharina StΓΆgmΓΌller

Tahun Terbit : 2021


πŸ“•πŸ“•πŸ“•


BLURB

“Bapakmu bule ya? Pasti kaya dan punya properti di Indonesia.”

“Pasti banyak ya cowok-cowok yang deketin, kamu kalau cari pacar gampang.”

“Cowokmu gonta-ganti ya?”

“Kamu kan bule, pasti jago bahasa Inggris.”

“Bule kalau tinggal di Indonesia enak, bisa beli segalanya.”

Sepanjang hidupnya, Katharina Stögmüller sudah kenyang dengan komentar-komentar yang secara “ajaib” dilontarkan orang-orang Indonesia pada umumnya. Terlahir sebagai anak blasteran Jawa-Austria dengan fisik yang lebih dominan ras Kaukasia-nya membuat banyak orang berpikir hidup Katharina “enak-enak” saja di Indonesia. Dengan prasangka “orang barat pasti lebih segala-galanya”, Katharina hidup dengan berbagai label yang membuatnya tidak nyaman. Justru anggapan-anggapan itu banyak yang berbeda 180 derajat dengan kenyataannnya. Hidup Katharina di Indonesia sejak kecil dihadapkan pada banyak kesulitan. Mulai dari rumit dan mahalnya mengurus izin tinggal, dikenakan tarif turis asing yang selangit ketika hendak berwisata, sampai urusan ujian akhir kuliah yang ternyata juga jadi lebih rumit karena latar belakang blasterannya itu.

Meski demikian, Katharina tak kekurangan keceriaan dan stok lelucon yang didapatkannya justru dari pengalaman hidup istimewa sebagai anak blasteran. Dan lewat buku ini, ia menceritakan pengalaman-pengalaman itu dengan jenaka sekaligus kontemplatif di saat bersamaan.


πŸ“•πŸ“•πŸ“• 


Seperti tagline-nya “Hidup Anak Blasteran yang Enggak Ajaib-Ajaib Amat.”, buku ini bercerita tentang pengalaman Kathi sebagai anak blasteran yang hidupnya nggak seperti yang kita, orang Indonesia, selama ini pikirkan. Ya.. biasanya kita kalau ngeliat bule atau anak blasteran pasti pikirannya mereka ini ras unggul, orang kaya, garis nasibnya sudah ditentukan bakalan jadi artis atau model. Tapi, Kathi ini beda. Kathi justru lebih banyak ngeluh tentang statusnya yang semi bule dan ternyata jauh lebih ribet dari orang Indonesia.


Pengalaman dalam buku ini diceritakan dengan gaya yang ringan dan justru banyak bahasa jawa-nya. Ada tiga bab utama dalam buku ini, yang dibreakdown lagi jadi 21 bab. Jujur, saya sebenernya masih belum terlalu ngeh kenapa mesti dibikin tiga bab utama dulu terus tiap bab ada sub bab-nya lagi. hehe


Buku ini diawali dengan bab Melon Love Story, nyeritain tentang bagaimana bapak Kathi yang bule ini bisa ketemu sama Ibuk yang asli jawa. Sebenarnya mereka berdua ketemu dalam keadaan Ibuk sudah punya pacar, bule juga, dari Prancis. Tapi karena Ibuk posisinya masih LDR dan belum ada kejelasan. Bapak mencoba memanfaatkan momen dengan baik-baikin teman Ibuk dengan cara diajakin makan dan ngebeer di Tante Lies, restoran Jawa Timur yang ada di pinggiran Prawirotaman. Dan ternyata jurus ini sepertinya ampuh. Teman-teman mulai menghasut untuk memilih bapak yang tentu saja akhirnya kejadian dan mereka nikah.


Kemudian ada bab Telek Lencung, tentang Kathi kecil yang suka ngoceh sendiri dengan bahasa Jerman karena dulu belum terlalu fasih bahasa Indonesia. Nah, karena nggak paham bahasa Indonesia, Kathi jadi suka ngomong sendiri. Kadang malah main ke kandang ayam, bahkan saking seringnya Kathi sampai pernah ketiduran di kandang ayam. πŸ˜‚


Selain itu, Kathi juga main sama anjing kecil bernama Hundel pemberian Opa Wilhelm tetangganya. Anjing ini dimanfaatkan dengan baik oleh Kathi kalau dia makannya nggak habis, sisanya dikasih ke Hundel tanpa sepengetahuan Ibuk.


Karena prihatin ngeliat Kathi mainnya cuma sama anjing, Bapak sama Ibuk akhirnya nyekolahin Kathi di TK, yang ternyata bikin Kathi merasakan culture shock karena pakainya bahasa Indonesia dan Kathi nggak ngerti sama sekali. Udahgitu Kathi juga minder karena jadi paling putih sendiri di kelas. Gara-gara ini Kathi jadi sering ngambek nggak mau berangkat.


Lalu, ada salah satu anak baru di TK, sebut saja Precil. Walaupun anak baru, Precil ini udah kayak bos banget, teman yang lain pada nurut-nurut saja sama Precil. Sampai pada akhirnya, SI Precil ini menghasut teman-teman lainnya biar menjauhi Kathi karena sepatunya mambu telek lencung (bau kotoran ayam) karena banyak kotoran ayam yang nempel di sepatu Kathi. Pas Kathi ngadu ke ibuknya, eh ibuknya malah...


Selanjutnya ada bab Bocah Ajar Misuh. Ini salah satu bab yang bikin saya ngakak banget. Ceritanya Kathi kecil punya teman blasteran Turki. Namanya Shasha. Orangtuanya sering mengajak Shasha ke rumah Kathi biar anaknya bisa lebih cepat lancar ngomong bahasa Indonesia dan Jawa karena ada teman ngobrolnya.


Kathi ini ngerasa dirinya pada waktu masih kecil dulu masih ‘bersih’. Belum ternoda umpatan-umpatan bahasa Jawa. Tapi anehnya, Shasha jadi mahir menggunakan bahasa pisuhan. Anehnya lagi, bahasa pisuhan ini sering digunakan Shasha di mana saja dan seenaknya sendiri. Kadang malah nggak ada angin nggak ada gludhuk, Shasha suka tiba-tiba bilang As*. bayangin aja, bule kecil nggak ada kejadian apa-apa bilang As*, kan kampret banget hahaha


Bab-bab selanjutnya bercerita tentang rumah Kathi yang pernah kemalingan dan sepertinya malingnya menyesal masuk ke rumah ini karena ternyata, ya.. begitulah. Juga ada bab tentang ribetnya punya bapak bule. Gurunya jadi suka was-was kalau yang ambil raport bapaknya, soalnya guru-gurunya pada nggak bisa ngomong bahasa inggris. 


Terus ribetnya kalau mau pergi ke tempat wisata. Kathi ini sebenernya bukan turis karena sudah menetap lama di Sewon. Tapi kalau pergi sama bapaknya ke tempat wisata, harga yang dipakai jadi harga turis.


Bab Kulit Putih, nyeritain tentang betapa pengennya Kathi punya kulit seperti kebanyakan orang Indonesia. Kathi juga masih nggak habis pikir sama standar kecantikan di Indonesia yang masih menganggap kulit putih berarti cantik. Padahal apapun warna kulitnya, selalu ada kecantikan tersendiri bagi setiap wanita.


Kemudian yang paling membuat saya menggumam, “oh.. ternyata segini ribetnya jadi bule". Itu saat orangtua Kathi harus sering ngurus perijinan tempat tinggal, karena tinggal di Jogja orang asing nggak boleh punya tanah sendiri. Adanya HGB, Hak Guna Bangunan. Juga saat Kathi harus memilih kewarganegaraan, jadi warga Indonesia. Beuh... syaratnya ribet banget, udah gitu prosesnya juga lumayan lama dan yang pasti... biayanya ngeriii.


πŸ“•πŸ“•πŸ“•


Secara keseluruhan novel ini menyenangkan buat dibaca. Berhubung saya orang jawa, celetukan-celetukan Kathi dengan bahasa jawa di buku ini jadi membuat buku ini semakin lucu. Apa yang Kathi tulis di sini sukses membuka pemahaman baru kalau ternyata jadi anak blasteran di Indonesia itu nggak selalu enak bahkan dianggap jadi ras unggul. Buktinya, masa sekolah Kathi malah sering kena bully karena jadi orang yang ‘beda’ dengan yang lain.



Buku ini bisa dibilang penuh dengan keluh kesah Katrin sebagai anak blasteran yang tinggal di Indonesia. Menurut saya selain kisahnya yang memang unik-unik, ya itu tadi... kefasihan Katrin misuh-misuh diselingi bahasa jawa yang bikin buku ini semakin lucu.


Jumlah halaman yang ‘cuma’ 156 tentu saja jadi cepet banget habis buat dibaca karena saya sangat menikmati cerita-cerita di buku ini. Yah semoga nanti Kathi bisa bikin buku lagi yang lebih tebel dari ini. hehe

Minggu, Juli 11, 2021

Iya, Nggak Apa-Apa, Kok

Juli 11, 2021

Salah satu aturan ghaib tidak tertulis bagi guru kelas enam di sekolah saya adalah bantuin daftar siswanya yang kepengen masuk ke SMP. Ya, berhubung sekarang semuanya serba online dan biasanya orangtua siswa di sini rata-rata pada nggak paham sama beginian. Maka, guru kelas enam secara harfiah bisa diartikan juga sebagai tukang daftarin online siswanya masuk SMP.


Beberapa bulan yang lalu, salah satu MTS Negeri di kota saya membuka pendaftaran siswa SMP via jalur prestasi. Syaratnya yang paling hakiki adalah fotocopy raport dari kelas lima sampai enam dibumbui dengan seleksi online yang nantinya para pendaftar akan diberi link untuk mengerjakan.


Antusias siswa kelas enam di sekolah saya alhamdulillah lumayan juga, ada ‘enam’ siswa yang berminat untuk daftar di MTS via jalur prestasi. Jadi awal ceritanya, waktu itu saya lagi asyik menyimak orang berantem di Twitter sambil dudukan di kantor, seketika ada beberapa orangtua siswa yang datang ke sekolah, mengetuk pintu kantor, lalu masuk setelah sebelumnya melepas sandal dulu. Padahal sandalnya dipakai aja kan, gak papa bu.. wong ini sekolah bukan musala.


Para ibu-ibu ini mengutarakan maksud dan tujuannya untuk meminta restu dari saya biar anaknya diberi kemudahan mau daftar di MTS yang alasan politis sebenarnya adalah menambah beban kerja saya karena saya diminta buat bantuin daftar online. Walaupun ya.. lebih tepatnya adalah diminta daftarin, karena kalau bantuin sih orangtua siswa masih ada campur tangannya dikit. Tapi ini semuanya sudah jelas bakalan saya semua yang ngurusin.


Iya, nggak papa kok.


Sambil menyanggupi permintaan sepihak dari para orangtua siswa. Saya juga mengingatkan kalau jalur prestasi ini nggak mudah karena udah jelas saingannya dari seluruh sekolah dasar se-kota Pemalang. Jadi, orangtua siswa juga harus siap dengan kemungkinan terburuknya seandainya anak-anak nanti tidak diterima, mereka harus legowo.


“Ya nggih Pak Edot, namine ikhtiar nggih... kulo sih wong lare kepengene teng MTS. Sebagai orangtua sagede mung ndukung kalih ngusahaake.” Kata salah satu orangtua, sambil diiringi angguk-angguk berjamaah dari orangtua siswa lainnya yang hadir di kantor.


(Ya iya Pak Edot. Namanya ikhtiar ya... saya sih karena anak pengennya di MTS. Sebagai orangtua bisanya cuma mendukung dan mengusahakan.)


Saya juga ikut manggut-manggut, dalam hati berkata, “Betul bu.. mengusahakan hadir ke sekolah sebagai ikhtiar minta do'a restu, atau mungkinlebih tepatnya meminta guru kelasnya yang mengusahakan buat daftar ke MTS. Saya pengen geleng-geleng kepala, tapi saya tahan pakai ibu jari tangan kiri.


Iya, nggak papa kok.


Hari-hari berikutnya, saya jadi bongkar-bongkar raport anak-anak yang mau daftar, misahin rapot kelas lima dan enam buat di-scan satu-satu. Diiringi dengan kartu NISN, Kartu Keluarga, Akte Lahir serta foto. Ngg... btw, ini kok melelahkan juga ya~


Udah gitu, ternyata... masing-masing anak harus didaftarkan dengan e-mail yang berbeda. Maka, dengan hati sangat riang saya membuatkan e-mail anak-anak satu per satu. Saya membuatkan e-mail lagu anak-anak sambil nyanyi Mars Perindo biar lebih bahagia.


Beberapa hari kemudian, tiba waktunya anak-anak buat mengerjakan tes online. Tentu saja, anak-anak tidak mungkin mengerjakan sendiri di rumah. Maka, pagi itu enam anak pemburu MTS jalur prestasi sudah duduk manis jelalatan di ruang kelas satu. Selain untuk numpang wifi yang kecepatannya hanya 3 MbPs. Juga untuk meminta saya ngajarin soal-soal seleksi. Ngg... mungkin bukan ngajarin, tapi lebih tepatnya ngerjain soal-soalnya. Mereka hanya tinggal nyalin jawaban di HP-nya masing-masing.


Sambil nunggu saya datang ke kelas, mereka nggak ada inisiatif-inisiatifnya buat belajar tapi malah mabar game online. Sebuah ikhtiar yang sungguh terpuji.


Berhubung waktu itu di sekolah masih ada rapat. Saya baru nyusul nemuin anak-anak sekitar pukul sepuluh. Tinggal sejam lagi waktu anak-anak untuk selesai mengerjakan. Setelah saya cek, alhamdulillah.... masih banyak banget yang belum pada diisi, atau malah kayaknya belum ada yang diisi. Ya, segampang itu mereka menyerahkan beban hidupnya pada saya.


Pada akhirnya, satu per satu saya coba mengerjakan soal ujian yang ada di HP mereka, nggak jarang saya harus berselancar ke Google karena pertanyannya yang cenderung berbau kesesatan. Meski sempat frustasi karena waktu yang mepet dan soal matematikanya bikin pengen nyundul yang bikin soalnya. Akhirnya keenam anak ini sukses ‘submit’ jawaban mereka.


Selanjutnya, mereka pulang ke rumah sambil kayang, tinggal nunggu pengumuman. Saya sih, udah nggak terlalu mikirin, karena yang namanya rejeki nggak akan kemana.


Sampai pada suatu hari... pengumuman seleksi jalur prestasi ini diumumkan. Dengan penuh kesantaian saya download pengumumannya, saya lihat nama sekolah saya mengajar, halaman demi halaman dan oh... nggak ada. Berarti anak-anak nggak ada yang diterima.


Iya, nggak papa kok.


Saya pun memberi kabar tidak bahagia ini ke masing-masing orangtua lewat WA sambil dibumbui beberapa petuah bijak kalau kegagalan ini bukanlah akhir dari segalanya. Terus, udah... tugas saya (harusnya) selesai.


Kenyataannya, ternyata nggak sedamai itu. Ada beberapa orangtua siswa yang balesin WA bilang, “Loh Pak, kok bisa ya nggak ada yang keterima?”


Waktu baca WA itu, dalam hati saya, “Lah mana saya tahu, bu? Kan saya bukan panitianya.”


Belum sempat bales, masuk lagi pesan WA.


“Padahal SD sebelah ada 5 anak yang diterima loh, Pak. Kok SD kita nggak ada yang diterima sama sekali.”


“Padahal Abdul sama Anjas kan pinter, Pak. Kok bisa nggak keterima sih?”


Sambil menghirup napas panjang, saya jelasin, “Ngapunten saya nggak tahu, bu. Coba ditanyakan saja ke sekolahnya langsung. Saya kan bukan yang buat pengumumannya. Terus ini kan, jalur prestasi bu. Yang diambil bukan hanya dari tes online yang kemarin. Tapi juga ada rata-rata nilai raportnya, makanya kemarin pas pendaftaran disuruh melampirkan raport dari kelas lima sampai kelas enam.”


“Tapi satupun kok nggak ada yang masuk Pak?”


Sudah dijelasin panjang lebar ternyata ibu ini masih belum paham. Belum selesai mengedukasi orangtua siswa yang satu ini. EH, ada WA lain masuk lagi.


“Pak, di pengumuman kok namaku nggak ada, Pak? Berarti aku keterima nggak Pak?”


Salah satu siswa ternyata langsung WA ke saya, padahal kesimpulannya sederhana, kalau nggak ada namanya ya nggak lulus. Akhirnya saya balas dengan penjelasan seperti tadi.


Dan dibalas lagi, “Gimana sih Pak, kok bisa nggak lulus? Kan kemarin udah dibantuin Pak Edot ngerjainnya? Coba dicek lagi barangkali masih ada lainnya, Pak. Masa sih aku nggak lulus, Pak.”


Waah... kok jadi panjang ya urusannya~


Saya tetap coba jelasin kalau itu artinya nggak lulus, dan nggak usah khawatir nanti masih ada pendaftaran di SMP negeri pakai jalur zonasi.


Dibalesin lagi, “Memang Pak Edot mau tanggung jawab kalau aku pasti bakalan diterima di SMP negeri? Siap nggak?”


Hai, Anak muda~~~ yang sedang kamu kirimi chat WA itu gurumu loooh~ nyantai banget ngomongnya pakai disuruh tanggung jawab segala. Tanggung jawab Pak Edot sama keluarga udah berat loh, ditambah tanggung jawab sama Allah, tanggung jawab nyicil Spaylater juga. Ini ditambahin tanggung jawab lainnya.


Duh... karena kalau ditanggepin bakalan nggak kelar-kelar, akhirnya saya diemin aja dulu.


Sampai beberapa saat kemudian, datang lagi WA.. “Pak, besok aku ke sekolah, mau cabut berkas pendaftarannya aja. Soalnya udah nggak diterima.”


Saya mikir lagi, apanya yang mau dicabut.. ini pendaftarannya online, belum ada ngumpulin berkas fisik ke MTS. Mengingat edukasi ini butuh tenaga ekstra, akhirnya saya minta aja mereka buat ke sekolah biar tak jelasin langsung.


Besoknya, pas di sekolah waktu saya cerita ini ke sekolah berharap dapat support, kepala sekolahnya malah bilang, “Atau njenengan kemarin kirim jawaban anak-anak terlambat Pak? Soalnya waktunya mepet banget kemarin, kan?”


Ngapunten bu, itu anak-anak tesnya pakai Google Form. Kalau tulisannya sudah berhasil terkirim berarti sudah terkirim, bu.”


Tapi waktunya mepet sih, terakhiran... jangan-jangan karena kirim jawabannya terakhiran jadi urutannya anak-anak juga terakhiran. Tahun kemarin SD sini tiga orang bisa masuk loh, tahun ini bisa nggak ada. Harusnya kemarin anak-anak difasilitasi laptop Pak. Jangan pakai HP.”

Sepertinya yang perlu diedukasi bukan cuma orangtua siswa dan anaknya. 


Ada banyak sekali hal yang ingin saya jelaskan. Namanya seleksi jalur prestasi, kemampuan anak tiap tahun pasti beda, nilai raportnya juga pasti beda. Namanya Google Form kalau sudah tersubmit ya berarti sukses terkirim, kirim mepet batas waktu ya nggak masalah. Namanya seleksi online, meskipun pakai HP kalau masih bisa connect internet ya nggak papa juga, nggak harus pakai laptop. Oh iya, waktunya mepet juga kan karena kepala sekolah sendiri yang ngajakin rapat.


Tapi pada akhirnya saya lebih milih senyum aja sih, menjelaskan sesuatu sama orang yang sudah banding-bandingan sama masa lalu kayaknya sebener apa bakalan tetap nggak bener. Saya lalu nyeletuk, “Ya... namanya belum rejeki bu, barangkali nanti rejekinya di SMP negeri.”


Hari itu saya sudah memutuskan, kalau tahun depan misal ada permintaan pertolongan seperti ini lagi saya bakal.... bakal, apa ya? Yaaah... bakal saya bantuin juga sih.


Iya, nggak papa kok.

Jumat, Juli 09, 2021

Novel Mayit - Gara-Gara Mantan, jadi Dihantui Mayat Hangus Setiap Hari

Juli 09, 2021

Waktu pertama kali lihat judul buku ini dan baca blurb-nya, saya langsung penasaran sama isi bukunya. Ditambah dengan nama penulisnya, Margaluwih. Kelihatan jawa banget. Sepertinya buku ini bakalan nyeritain horor di tanah jawa dengan nuansa kelam. Seperti buku-bukunya Simpleman yang bercerita tentang kisah mistis di daerah jawa.


Judul buku ini menggunakan bahasa jawa, Mayit. Yang kalau dalam bahasa Indonesia artinya mayat. Margaluwih, Mayit. Bener-bener kelihatan njowo banget. Nggak butuh kunjungan kedua kalinya ke gramedia untuk meminang buku ini, saat itu juga saya langsung membawa buku Mayit ini ke kasir bareng dengan Boneka Sandya karya Eve Shi yang sebelumnya sudah saya review.


IDENTITAS BUKU:

Genre: Misteri, horor
Pengarang: Margaluwih
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Bahasa: Indonesia
Halaman: 196
Tahun terbit: 2019
Dimensi: 130 x 190 mm


BLURB:

Awalnya aku mengambil sekantung plastik barang bukti, diam-diam aku mencurinya dari ruang autopsi. Sejak itulah ada yang berubah dalam hidupku. Ada yang datang padaku, lalu pergi begitu saja.
Apa yang dia mau, aku tak pernah tahu. Begitulah konsekuensi mencuri dari yang mati, aku dan dia adalah satu.

 

πŸ’¬πŸ’¬


Buku ini bercerita tentang Keoni yang bekerja di kantor surat kabar lokal, ayahnya seorang dokter forensik yang kerjaannya setiap hari tentu saja mengurus mayat-mayat. Kalau kerjaannya tiap hari sembahyang mengaji, berarti Keoni ini anaknya Si Doel Anak Betawi. Ibu Keoni udah meninggal, jadi Keoni sekarang hanya tinggal berdua sama ayahnya. Mereka berdua saling menyayangi dan saling support sebagai ayah dan anak.


Keoni punya mantan bernama Sebastian. Kerja di tempat yang sama tapi di divisi yang berbeda. Karena suatu hal, mereka berdua harus mengakhiri hubungannya.


Suatu hari, rumah sakit tempat ayah Keoni kerja digegerkan karena kedatangan tiga mayat dengan kondisi mengenaskan. Sekujur tubuhnya gosong, makanya ayah Keoni harus bekerja ekstra karena diminta pihak kepolisian untuk berusaha mengungkap siapa identitas mayat ini.


Waktu keadaan lagi sibuk dan riweuh seperti ini, Keoni mendapat ajakan ketemuan dari mantannya, Sebastian. Singkatnya, mereka ketemuan di kafe. Sebastian bukan mau ngajak balikan, tapi mau minta tolong. Buat apa? Buat menelusuri lebih jauh tentang kondisi mayat gosong yang baru saja diantarkan ke rumah sakit.


Alasannya, informasi mayat ini harus segera Sebastian dapatkan agar pekerjannya tidak tamat. Keoni yang merasa kasihan akhirnya berjanji untuk membantu Sebastian mencari informasi tentang mayat yang hangus itu. Dengan nekatnya, sambil nunggu ayahnya selesai beres-beres pulang di rumah sakit, Keoni menyusup masuk ke kamar mayat sendirian, malam-malam, hanya untuk mengambil gambar mayat-mayat yang hangus tersebut.


Iya, demi mantan. Keoni bisa seniat itu.


Khawatir bakalan ketahuan sama ayahnya, Keoni akhirnya buru-buru keluar saat ayahnya udah manggil-manggil. Keoni lalu menemui ayahnya seolah tidak terjadi apa-apa.


Sesampainya di rumah, Keoni sempat panik karena pin kantor yang menempel di bajunya hilang. Keoni khawatir pin itu ketinggalan di kamar mayat tadi dan mau nggak mau mau besoknya Keoni harus balik lagi ke kamar mayat. Tapi sebelum itu, Keoni sadar ada bungkusan plastik hitam yang nggak sengaja terbawa. Setelah dibuka, ternyata itu adalah kumpulan barang-barang dari mayat yang gosong tadi.


Teror pertama dimulai ketika Keoni pergi ke dapur untuk ambil minum dan melihat penampakan dari luar jendela seolah terbakar dan penampakan itu lalu berteriak, Keoni jadi terpental dan tahu-tahu dibangunkan sama ayahnya karena tidur di dapur.


Cerita selanjutnya adalah Keoni terus-terusan dihantui sama mayat gosong tadi. Keoni sering tiba-tiba terlempar ke dalam kejadian yang dialami oleh mayat tadi. Kejadian ketika mayat tadi mau dibunuh oleh seseorang, percakapan mayat tadi di saat-saat terakhirnya dengan pembunuh. Ya... tentu saja kejadiannya nggak langsung sampai selesai, tapi sepotong demi sepotong. Biasanya setelah kesadarannya kembali, Keoni akan muntah abu dari tenggorokannya.


Lihat, kan? Gara-gara sok-sokan mau bantuin mantan akhirnya malah susah sendiri.


Sementara itu Keoni dan mantannya, Sebastian, jadi sering berkomunikasi karena keganjilan ini. Keoni jadi tahu kalau mayat ini namanya Sukma, lalu Keoni dan Sebastian sampai pergi ke tempat kejadian perkara seperti yang ada dalam mimpinya.


Gara-gara ketempelan arwah ini hari-hari Keoni jadi nggak karuan, kadang makannya jadi banyak banget, kadang tiba-tiba pusing, kadang inget sama kebaikan mantan. Galauuuu....


Pada akhirnya, siapakah pelaku pembunuhan mayat sadis tadi? Kenapa arwah mayat ini jadi menghantui Keoni terus? Keoni sama Sebastian jadinya gimana, nih? Ya tentu saja kalian bisa baca sendiri di buku Mayit ini.


Jujur aja sih, novel ini jauh dari ekspektasi saya. Dengan judul yang menggunakan bahasa jawa, saya kira ceritanya bakalan njawa banget. Tapi kenyatannya, duuuh... malah jadi nge-pop banget. Bahkan nama karakternya pun jauh banget dari kesan jawa. Keoni dan Sebastian. Kenapa nggak mayat aja judulnya? Soalnya emang nggak ada yang menghubungkan kata ‘mayit’ dengan jalan ceritanya. Kata ‘mayit’ nggak pernah disinggung sama sekali. Kalau ‘mayat’, baru sering.


Dialog di buku ini juga masih terkesan kaku, menurut saya terlalu formal. Walaupun secara penulisan rapi, tapi rasanya kurang natural aja. Proses Keoni sampai bisa mengungkap misteri di balik mayat yang gosong ini juga terlalu bertele-tele dan sayangnya ada nggak masuk logika.


Walaupun begitu, saya suka dengan hubungan antara Keoni dan ayahnya yang selalu saling support. Meski masing-masing sibuk dengan pekerjaannya dan lelah dengan masalah yang sedang dihadapi, tapi mereka berdua nggak pernah berhenti buat saling dukung dan saling perhatian.


Selanjutnya saya akan memberikan spoiler yang nggak masuk logikanya. Buat kalian yang kepikiran suatu saat pengen baca novel ini, berarti nggak usah ngintip paragraf di bawah ini.


Kejanggalan dalam cerita ini adalah...


TULISAN WARNA BIRU HATI-HATI SPOILER YA~


Pertama, Keoni yang lagi rebahan di kamar, tiba-tiba kehilangan kesadaran lagi dan ‘seperti biasa’, masuk ke dalam potongan kisah si mayat di detik-detik pembunuhannya. Lalu, tiba-tiba Keoni sadar lagi dan ternyata ada di dalam rak jenazah milik Sukma (si mayat hangus) di kamar mayat. Ya, ini terlalu maksa sih, masa iya bisa tahu-tahu pindah gitu aja. Kalau misal tidur di masjid belum cuci kaki,besoknya dipindah sama jin di dalam bedug masjid sih baru saya percaya.


Kedua, waktu Baskara, pacarnya Sukma ini udah ketangkep polisii, tiba-tiba Baskara ngeliat wajah Keoni jadi kayak Sukma. Karena ketakutan, tiba-tiba Baskara bisa ngerebut pisaunya polisi terus maju mau nusuk Keoni. Tentu saja, udah ketebak siapa yang bakal nyelametin Keoni. Iya, Sebastian menghalangi Baskara dan merelakan dirinya tertusuk.


Nah, yang nggak masuk logika adalah masa sih tersangka pembunuhan sadis kayak Baskara ini pengamanannya seadanya, tangan nggak diborgol atau diikat. Aneh juga polisi bisa sampai lengah dan pistolnya keambil.



Btw, buku ini masih layak buat dinikmati, sih. Meskipun kalau buat saya, buku ini nggak sesuai sama ekspektasi. Tapi siapa tahu, kalau kalian yang baca buku ini ternyata menyeramkan. Semua hanya soal selera aja. 

About Us

DiaryTeacher Keder

Blog personal Edot Herjunot yang menceritakan keresahannya sebagai guru SD. Mulai dari cerita ajaib, absurd sampai yang biasa-biasa saja. Sesekali juga suka nulis hal yang nggak penting.




Random

randomposts