Ngomongin Buku 'Long Distance Relationsick'

Di postingan kali ini gue mau nge-review buku yang kovernya agak kekuning-kuningan dan bikin gue pengen nyiram.

Yap, setelah menunggu sekitar seminggu. Akhirnya kiriman buku Long Distance Relationsick dari penulisnya dateng juga. Pertama kali gue ngebuka buku ini, gue sempet dibuat heran dengan tanda tangan penulisnya di halaman judul. Gue baru liat ada penulis yang bentuk tanda tangannya cuma nulis namanya sendiri. Sungguh, kurang improvisasi sekali.


Buku Long Distance Relationsick ini bercerita tentang Minggu yang harus menerima kenyataan kalo pacarnya Ciska, yang gak pinter-pinter amat, tapi amat pinter di pelajaran Matematika ini keterima kuliah di salah satu kampus Palembang.

Sementara Minggu, yang awalnya juga mau kuliah di Palembang juga ternyata harus berbelok arah kuliah di Bandung karena kedua orangtuanya juga akan pindah di Bandung.

Setelah melakukan prosesi pindah rumah ke Bandung, Minggu dan keluarga berkenalan dengan tetangga baru yang punya anak cewek bernama Ifra. Dan Ifra, nantinya akan punya peran penting dalam buku ini.

Minggu dan Ciska menggalau bersama saat keduanya sadar, bahwa hubungan mereka akan berjarak sangat jauh. Karena saking sayangnya, Ciska mencetuskan ide gila kepada Minggu, bahwa mau nggak mau Minggu harus nikahin Ciska.

Sumpah, ini cerita anti mainstream banget, jarang banget ada cewek cakep, unyu, sifatnya blak-blakan gini. Minta dinikahin! Jujur aja, gue ngefans sama sosok Ciska di sini. Gue ngebayangin Ciska imutnya subhanallah banget. Jarang ada cewek semacam itu menurut gue.

Balik ke persoalan nikah, Minggu yang jelas belum siap, mencoba meyakinkan Ciska bahwa ini belum saatnya bagi mereka untuk nikah. Selanjutnya... di beberapa kesempatan, Ciska akan senantiasa mengingatkan Minggu untuk menikahi Ciska secepatnya.

Saat memulai membaca buku ini, gue merasa kesulitan untuk mendapatkan gambaran seperti apa sosok yang bernama Minggu ini. Hadi, penulis buku ini, enggak mendeskripsikan penampakan fisik Minggu secara sistematis. Gara-gara ini gue mati-matian membunuh imajinasi gue bahwa sosok Minggu ini penampakannya mirip Hadi. Plis... cerita ini enggak akan ngena kalo pemeran utamanya kayak Hadi.

Gak apa-apa kan.. kalo gue bilang gini, Dek Hadi?

Setelah gue baca secara cermat. Dari sifatnya yang gue tangkep sih, Minggu ini orangnya kepedean dan agak soak. Suka menganggap dirinya ganteng dan gaul, sesekali rentan galau.

Dalam buku ini, kita akan disuguhkan realita pedihnya pacaran jarak jauh yang sulitnya saling percaya sama pacar sendiri. Rintangan-rintangan yang datang bagi para penggiat LDR semacam pulsa yang harus unlimited, ngasih kabar yang harus senantiasa update, dan juga cobaan kesetiaan karena ada sesuatu yang baru, yang kadang terlihat lebih fresh. Akan kita temukan dalam buku ini.

Dalam rangka menjalani kisah kasih LDR, Minggu harus tabah mendengar Ciska yang deket sama pacarnya Ages, yang bernama Karen karena satu kampus bareng. Fyi, Ages ini temennya Minggu dan Ciska. Ciska sama Karen ini sering makan bareng dan gara-gara ini jadi bikin resah Minggu. Ages juga ikut resah karena ini.

Gue pun ikut resah karena ada cowok namanya Karen. Fantasi gue mengira nama lengkap Karen ini Karenina atau Karen Sungkar. Tapi entahlah, suka-suka penulisnya aja sih sebenernya.

Gue melahap buku ini hanya dalam waktu kurang dari satu hari. Walaupun ada komedinya yang masih agak-agak nanggung. Tapi buku ini sukses bikin gue masuk dan terbawa ke dalam cerita ini. Gue dibikin penasaran sama ending dari hubungan Ciska sama Minggu ini bakalan kayak gimana.
Semakin gue membalik halaman demi halaman selanjutnya, gue semakin terbawa sama ceritanya, dan gak pengen buat
menunda menyelesaikannya. Persoalan yang dihadapi Minggu ini real banget, jenuh.. cemburu.. dan hadir seseorang yang lain yang bisa mengisi kekosongan orang yang jauh disana. Membuat jalan LDR mereka benar-benar terjal banget.

Gue jadi ingat salah satu quote keren dari @shitlicious, seperti ini: ‘yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada.’




Nyatanya di buku ini realitanya juga demikian. Sebenarnya, seandainya Hadi mau sabar, konfliknya mungkin bisa dibikin lebih greget lagi. Karena dari awal mereka pisah sampai Ciska mau KKN, gue enggak ngeliat momen ketemuan Minggu sama Ciska untuk sekali pun. Berarti udah berapa kali puasa, berapa kali lebaran terlewatkan tanpa ketemu?

Ini semacam sekedar nabung buat beli tiket pesawat aja Minggu enggak niat, atau mungkin Minggu dan Ciska telah melakukan pertemuan diam-diam tanpa diceritakan di buku ini.

Di hal. 177 juga dijelasin pada akhirnya Ciska mengenal Irfa. Sayang banget, enggak dijelasin kronologinya kayak gimana Ciska akhirnya bisa kenal Irfa. meskipun dibilang Ciska mau mengalah, tapi mengalah kayak gimana juga belum jelas. Soalnya Minggu sama Ciska ternyata belum putus.

Sampai disini kayaknya gue agak spoiler ya.. :P

Intinya sih, secara keseluruhan buku ini akan membuat para penggiat LDR mengangguk sambil baper karena apa yang mereka rasain telah digambarkan dengan begitu jelas oleh Hadi. Buku ini keren menurut gue, walaupun wajah penulisnya kebalikan dari yang gue sebutkan.

Gue juga agak-agak gimana ngebayanginnya, Hadi yang jomblo dan rentan kesepian ini bisa bikin cerita yang cihuy dan dialog yang so sweet. Yap, salah satu poin plus dari buku ini adalah dialognya yang asik dan mengalir. Gue yakin setelah Hadi selesai nulis dan ngebaca tulisannya, Hadi bakalan nyilet-nyilet keteknya karena kenyataan hidupnya beda banget sama di cerita.

Buat kalian temen blogger, nggak ada salahnya beli buku Long Distance Relationsick ini. Siapa tau aja kalian juga bisa belajar kira-kira tulisan yang kayak gimana yang disukai penerbit. Dan yang paling penting, tentu saja belajar menghargai karya sesama blogger. Gitu.

Berbahagialah, Nak...

Misi gue yang pertama sebagai guru SD telah selesai. Gue telah berhasil mentransfer pengetahuan yang gue dapet semasa sekolah kepada anak-anak didik gue, walaupun mungkin banyak berbau kesesatan.

Sebelumnya ini adalah misi pertama gue sebagai guru SD yang jadi wali kelas, di mana awalnya sempat bikin gue minder karena gue enggak tau mesti ngapain. Bahkan pertama kali gue masuk kelas, hal yang ada di pikiran gue justru kekhawatiran. Jangan-jangan mereka, anak kelas tiga, menjerit kaget ngeliat wajah gue.

Nyatanya, justru gue yang kaget pertama kali masuk ke kelas. Bukan karena anak-anak lagi pada main gaple atau ngisep rokok kretek yang nikotinnya di atas 2,0. Tapi karena suasana kelas yang cukup menyedihkan. Papan tulis masih pakai kapur, lantai yang belum dikeramik, sampai dinding kelas yang beberapa udah mulai pada rusak.

Butuh beberapa hari buat gue bener-bener beradaptasi, bahkan awal-awal masuk kelas nafas gue sampai tersengal-sengal. Ini bukan faktor usia, tapi karena emang kelasnya banyak debunya dan kebetulan upil gue pada mengeras.

Pertama kali ngajar, gue sempat bawa kain merah di bahu karena gue khawatir anak-anak waktu diajar suka nyeruduk mendadak. Gue harus siap siaga.

Selama setahun ke belakang, kalau dipikir-pikir gue udah melakukan banyak kesesatan dibandingkan kebermaknaannya. Gue sering menggunakan jabatan gue untuk memperdaya mereka. Seperti misal kalau istirahat sekolah, gue sering ngiler ngeliat jajanan anak-anak semacam batagor, bakso kuah, mie ayam sampe olos yang percaya gak percaya rata-rata harganya cuma 500 sampai 1000 perak.


Gue sendiri walaupun pengen, enggak mungkin niat banget nyamperin penjualnya terus berbaur dengan anak-anak SD lainnya kemudian teriak-teriak berebut minta dilayanin duluan. Gue masih punya kemaluan.

Merasa punya wewenang di kelas, gue sering mengutus anak-anak kelas tiga buat menuntaskan hasrat gue akan jajanan SD yang menggoda. Kemudian, gue akan menunggu di ruang penjaga sekolah menunggu pesanan gue dateng. Dan gue cukup memberi mereka lima ratus rupiah, mereka sudah bahagia sekali, berlari sambil menari-nari.

Gak sekedar sesat. Gue juga pernah sempet shock ngadepin mereka, waktu itu gue lagi ngajar Pkn. Disitu dijelasin keanekaragaman budaya Indonesia, lalu gue jelasin upacara kematian di Bali yang namanya ngaben, merembet ke upacara kematian di Tana Toraja. Entah gimana ceritanya, tau-tau gue jadi cerita horor.

Gue cerita tentang setan penunggu lemari yang pernah gue tonton zaman dulu di sinetron ‘disini ada setan’, gue juga ceritain hantu-hantu di buku horor yang gue baca. Sambil bercerita gue mengamati ekspresi mereka. Ada yang wajahnya pasrah banget, ada yang udah hampir nangis banget. Dan itu anak cowok.

Ternyata level anak kelas tiga, cuma diceritain gitu waktu siang aja udah pada resah. Entah mereka takut sama ceritanya, atau takut sama wajah yang lagi cerita.

Ngeliat wajah mereka yang penuh ketakutan, gue ngerasa berhasil menularkan aroma mistis ke dalam suasana kelas, gue makin semangat cerita. Dan ternyata, anak-anak mulai pada nangis. Satu anak, dua anak, tiga anak.... gue panik!

Ini kalo mereka jadi pada nangis heboh, suaranya bakalan kedengeran sampai ruang guru, bisa-bisa gue malah dikira lagi ngapa-ngapain anak SD. Awalnya mau bikin mereka ketakutan, justru gue yang jadi ketakutan karena sekelas pada mulai nangis.

Sejak saat itu, gue jadi mikir-mikir lagi kalo mau cerita setan ke anak-anak kelas tiga. Gue mikir-mikir jangan bukan ceritanya yang serem tapi wajah gue yang jadi sumber airmata anak-anak.

Gue orang yang paling susah buat serius. Sampai-sampai kalau boker aja, gue ngedennya sambil ketawa. Begitu juga kalau lagi di kelas, bacain soal buat dicatet sama anak-anak. Gue enggak bisa bacain secara biasa. Kadang gue bacain soal dipas-pasin sama lirik lagu sambil nyanyi.

Soal simpel semacam, “sebutkan pentingnya menjaga harga diri di sekolah!” gue bacain pakai nadanya Opik yang ‘alhamdulilah’. Soal-soal lainnya gue bawain dengan lagu lain secara spontan, yang jatuhnya lebih sering enggak pas dan membuat anak-anak pada protes.

Biar enggak pada protes, gue cukup bilang, “kalo masih ngomong terus, pulangnya terakhir,” maka suasana kelas mendadak hening sehening-heningnya. Keliatan gue belagu banget ya? Gak apa-apa, masih mending gue, daripada jaman orde baru, ada yang protes besoknya langsung hilang orangnya.

Karena pernah jadi penyiar radio juga, kadang gue suka sok gaul, bacain soal udah kayak siaran radio. “Udah siap mencatat anak-anak, ayok deh langsung aja ambil bolpoin kalian dan soal nomer satu akan segera dibacakan, buat kamu yang masih asik mainan pensil, yang masih asik benerin ikat pinggang, jangan terlalu keasikan~ nanti bisa-bisa kamu ketinggalan. Yok dimulai, soal nomer satu....”

Gue bicara dengan nada 4/4 ala penyiar radio gaul yang ujung-ujungnya mereka enggak tahu gue ngomong apa karena kecepetan. Gue merasa melakukan hal yang sia-sia di hadapan mereka.

Kesesatan gue terhadap anak-anak kelas tiga, juga sering gue terapkan waktu mau pulang sekolah. Seperti biasa, gue akan memberi pertanyaan, kemudian yang bisa jawab paling cepat boleh pulang duluan.

Hal itu gue lakukan hampir setiap hari. Gitu terus sampai tersisa anak-anak yang sering gagal paham tiap diberi materi, lalu gue akan merubah pertanyaan menjadi lebih gampang. Seperti misal, pertanyaan sederhana, “Berapa usianya Pak Edotz?”

Lalu ada yang mengangkat tangan, dan menjawab, “Saya tahu Pak, 40 tahun!”

“Salah, kamu pulang terakhir!” Gue memvonis anak itu karena menilai usia berdasarkan wajah.

Lalu ada yang menjawab lagi. “Saya tahu Pak, 17 tahun.”

“Iyak benar, Nafasya pulang,” Gue berkehendak.

Pertanyaan selanjutnya pun cuma buat sekedar hiburan aja, “Pak Edotz ganteng enggak?”

“Saya Pak, ganteng.”

“Yak, Bima pulang.. pertanyaan lainnya, kenapa Pak Edotz ganteng?”

“Saya Pak, karena Pak Edotz guru yang keren.”

“Yak, Sinta pulang. Selanjutnya, Pak Edotz mirip siapa?”

“Saya Pak, Aliando.”

“Bagus, Bunga pulang,” dan begitu seterusnya... gue lakukan hal semacam itu buat refreshing aja biar pertanyaannya gak bikin mereka mikir keras. Alasannya sebenarnya karena gue pengen di dunia ini ada orang yang mau mengakui kegantengan gue. Walaupun harus dengan iming-iming pulang duluan.

Gue juga pernah bikin kebijakan enggak populer di kelas. Tiap jam olahraga selesai, anak-anak wajib ganti seragam dan kaos olahraganya enggak boleh dijadiin dobelan. Udah gitu, mereka gue suruh bawa sisir dan handuk buat ngelap keringat sama nyisir rambutnya yang lepek. Terakhir, gue juga suruh anak-anak cewek buat bawa bedak. Iya, bedak bayi... biar dipakai tipis-tipis jadi bisa mengurangi wajah mereka yang dekil karena keringat sehabis olahraga.

Namun sayangnya, naluri anak SD, disuruh pakai bedak tipis-tipis jadinya malah kebablasan. Wajah mereka jadi mengalami keputihan, dan mereka malah fine-fine aja. Bukannya gue suruh bersihin, mereka malah gue kerjain suruh ngambil kapur di ruang guru.


wajah mereka menderita keputihan karena kebanyakan pakai bedak, tapi mereka selo.Ajib.

Setidaknya mereka tidak pelu bermuram durja lebih lama, masa-masa kelas 3 bareng gue udah selesai. Hari-hari mereka enggak akan diusilin sama kelakuan gue lagi. Maka, berbahagialah, Nak....

Setelah pembagian raport selesai, gue harus melepas mereka ke kelas empat. Pada saat itulah gue sadar, bahwa potret buramnya dunia pendidikan Indonesia telah gue lakukan. Tahun ajaran baru mereka akan menikmati bangku kelas empat karena naik kelas. Gue sendiri, tahun ajaran baru tetep aja menikmati bangku kelas tiga lagi. Walaupun mereka rame-rame ngajakin gue buat ngajar lagi di kelas empat, gue enggak bisa, nyatanya gue enggak naik kelas. Ah.. gue guru yang payah.

Ini Tentang Botak yang Ada Nyokap Guenya

Akhir-akhir ini secara sengaja gue udah menelantarkan blog ini. Bukan karena kesibukan kerja atau karena sulitnya menerima kenyataan kalau artis TM yang kena skandal prostitusi kemungkinan besar Tyas Mirasih, idola gue, bukan. Gue nelantarin blog ini karena emang gue males aja. Mendadak niat untuk nulis gue lenyap. Semudah itu, beda kalo disuruh melenyapkan bayangan akan mantan. Ah...

Kali ini gue mau cerita...

Buat kalian yang udah pernah baca buku gue Cancut Marut, kalian pasti tau salah satu bab berjudul ‘Kelak, Gue Akan Botak’. Mungkin sebagian dari kalian berpikir kalo gue terlalu mengada-ada. Tapi kenyataannya, gue emang terlalu heboh mikirin masa depan mahkota yang ada di kepala gue.


Gue udah terlalu panik sejak dulu. Sejak masih jadi mahasiswa, puluhan produk udah pernah gue cobain. Iya, cuma cobain, gak pernah bener-bener diajak buat seriusan karena gue pikir produk-produk yang gue coba udah enggak ngaruh. Mulai dari shampoo bayam, minyak cem-ceman, sampai minyak kemiri yang bikin gue mengerang karena ternyata lengketnya kebangetan.

Hampir ratusan kali gue browsing di google cara mencegah rambut rontok, cara mengobati rambut rontok sampai cara menerima kenyataan rambut rontok yang gak bisa disembuhin. Hasil yang gue dapet, gak ada yang tulus ngasih informasi. Karena ujung-ujungnya pasti disuruh beli produknya.

Gue sering mangap berkali-kali kalo harus ngeliat harganya. Ratusan ribu sampai jutaan. Gila! Duit sebanyak itu cuma buat ngurusin rambut kepala! Mending kalo sama rambut lainnya juga.

Karena gue gak mau menghabiskan masa muda dengan kepala yang lapang. Gue pun memilih-milih produk elit yang bisa nyembuhin rambut rontok gue. soalnya, kalo kepala gue beneran lapang, gue takut pas gue lagi jalan tiba-tiba ada pesawat yang mendarat di kepala gue karena pilotnya mengira kepala gue kayak bandara. Sama-sama lebar.

Setelah menemukan produk yang harapannya bisa nyembuhin kerontokan, gue pun mantap buat beli produk ini meskipun harganya bikin mata gue ambeyen. Walaupun setelah itu, kasta kepala gue jadi lebih elit dan elegan karena shamponya aja harganya bikin menelan ludah. Seharusnya gue jadi percaya diri kalo gue lagi berjejer sama cowok-cowok yang shamponya modal sachetan lima ratus perak. Tapi tetep aja, gue minder karena rambut mereka lebih lebat.


Satu hal yang lebih sadis lagi adalah serum rambutnya. Gue pake produk ini, untuk harganya gue gak mau kasih tau, takutnya dibilang belagu. Padahal buat beli serum ini, gue bela-belain kalo beli es teh, plastiknya separo aja biar murah. Kalo makan di warteg gue pesen ayam goreng, tulangnya gue ambil, dagingnya gue jual lagi ke ibu wartegnya.

Make serum mahal harus bikin gue bener-bener perhitungan. Pemakaiannya yang kayak parfum semprot, harus bikin gue jeli, maksimal enggak boleh lebih dari tiga kali semprot. Boros. Kalo cepet abis, belinya lagi susah.

Serum rambut ini gue letakkan di lemari kamar, gue cuma make sehari sekali. Namanya cowok, emang paling susah disuruh rutin. Kayak gue, udah tau harganya gak murah, kadang tetep suka males makenya. Gue baru sadar kalo gue bercermin di tempat yang terang. Rambut gue makin menipis, udah kayak pembalut aja.

Suatu hari, waktu gue lagi dudukan di lantai toilet, nyokap lewat di depan gue. Aroma semerbak menghampiri hidung gue, sejenak gue tertegun. Gue kayak hapal aromanya, tapi apa ya? Karena gak mau mikir yang berat-berat takut rambut gue makin rapuh. Gue enggak lanjutin mikir kerasnya.

Sampai suatu hari, gue lagi asik di kamar sambil baca buku. Nyokap gue masuk ke kamar, pakaiannya udah rapi banget kayak mau pergi naik delman istimewa, sambil bercermin nyokap ngomongin masalah beras plastik yang katanya nyeremin, sampai sejauh ini nyokap gue gak sadar kalo wajah anaknya jauh lebih nyeremin dari sekedar beras plastik. Lalu gue melihat peristiwa bersejarah yang kelak akan mengubah hidup gue.

Nyokap ngambil serum rambut gue, membuka tutupnya, kemudian menyemprotkan ke badannya dengan penuh ketenangan dan tanpa rasa bersalah sama sekali, terus... terus... dan terus...

Gue yang melihat kejadian ini cuma bisa tertegun.

Gila! Serum rambut dipake buat parfuman!  Horangkayah banget nyokap gue...

Emang sih serum rambut gue baunya kayak bunga melati. Aroma yang disukai ibu-ibu yang jaman dulu doyan nonton film Suzanna. Saat itu juga gue baru sadar, kalo sejak kemarin-kemarin ternyata nyokap pake serum rambut gue buat parfuman mulu.

Mentang-mentang bentuknya kayak botol parfum merk casablanca, nyokap mengira serum rambut gue semacam parfum. Gue gak berani ngingetin, gue tahu diri, gue belum bisa berbuat banyak hal buat bikin nyokap gue bahagia. Untuk kali ini, biarlah gue bikin nyokap woles dengan serum rambut gue yang dibelinya dengan cara tersengal-sengal.

Setelah nyokap keluar, gue segera mengamankan serum rambut gue dari sesuatu yang tak dapat dijangkau oleh mata manusia biasa, terutama mata jeli ibu-ibu. Gue cuma berdo’a, setelah insiden ini semoga sekujur tubuh nyokap gue enggak ditumbuhi bulu-bulu lebat.