Kisah Kampret Dibalik Kopdar Blogger Energy

Buat yang belum tau cerita kopdar Blogger Energy gue di Jakarta kalian bisa baca dan klik ini dulu. Intinya sih, beberapa  waktu yang lalu gue pergi ke Jakarta. Selain karena ada urusan yang emang harus gue selesaikan. Gue juga dapet kesempatan buat ngerasain kopdar bareng anak-anak Blogger Energy Jakarta.

Kisah gue di Jakarta emang kelihatannya seru dan gak ada masalah. Semua berjalan biasa-biasa saja walaupun saat pertama kali gue nyampe di Stasiun Senen pas dini hari, gue enggak tahu harus kemana dan sempet tidur di masjid deket stasiun sambil nunggu subuh.

Gue cuma agak sebel aja, pas nyampe di Jakarta. Pak Prabowo Subianto enggak ngucapin selamat datang buat gue. Padahal kalo gue liat di tipi, Pak Prabowo sering ngucapin macem-macem. Giliran gue, didiemin aja. Ini namanya pilih kasih. Gue cukup tau! Gue emang gak pernah jadi yang pertama di hati Pak Prabowo. Sakit...

Hari itu, karena emang waktu gue enggak banyak, jam sepuluh harus udah nyampe FX Sudirman buat kopdar, maka urusan mencuci tubuh gue yang indah ini , mau gak mau gue harus numpang di masjid deket stadion Gelora Bung Karno.

Ngenes? Buat gue sih, hal itu bukan sesuatu yang memprihatinkan. Kehidupan gue sebagai anak kos selama bertahun-tahun telah mendidik gue untuk menjadi sosok laki-laki yang tegar dan kuat. Dulu, gue memang lelaki cengeng. Laki-laki yang mendadak nangis kalo liat ujan dari jendela kamar. Tapi sekarang, gue beda. Gue hanya nangis kalo keujanan dan gue sadar kalo kancut yang gue pake adalah stok bersih yang terakhir gue punya. 

Seharian gue muter-muter di FX Sudirman untuk mencoba menjadi anak gaul yang budiman. Gue tetep stay cool dengan sedikit ngomong, sedangkan temen gue @gankgo dia terlihat norak saat ngeliat teater JKT48 ada di depan matanya. Beberapa kali dia poto-poto teaternya, katanya sih mau dipamerin ke temen-temen kampungnya. Siang itu, gue mencoba untuk tidak menganggap Ganggo sebagai teman. 

Gue Ikutan Open Mouth Stand Up Comedy


Masa-masa pertempuran gue dan skripsi memasuki babak akhir. Gue masih terus berusaha buat menaklukkannya, sementara waktu gue gak banyak, waktu dosen gue gak banyak dan akhir-akhir ini upil gue pun gak banyak. Gue galau...

Di tengah perjuangan gue buat bisa mengalahkan skripsi, BEM kampus gue ngadain event keren yang gak boleh dilewatin dan kebetulan gue yang diminta buat ngurus semua itu.

'Open Mouth Stand Up Comedy'

Mahasiswa Gagal Gaul~

Yak, gue mesti ngurus event stand up comedy yang bakalan digelar di kampus gue. Rencananya, akan ada 20 comic dari kampus gue yang bakalan perform, dan dua penampilan terbaik bakalan maju ke grandfinal buat 'duel' lawan perwakilan 10 kampus Semarang lainnya.

Acara Open Mouth ini merupakan kerjasama dengan Radio Sindo Trijaya FM dan Teh Mirai Ocha. Pertama kali gue ikut briefing di radio Sindo. Gue cuma sendirian, dan gue grogi ketemu temen-temen dari kampus lain. Satu hal yang gue sadari saat itu adalah gue enggak sendirian jadi orang enggak ganteng di dunia ini. Kalian tau maksud gue, kan?

The Three Mahasiswa's Part 1

Tiga tahun lamanya gue hidup bareng temen-temen di kontrakan yang kami namakan Tugiran Community. Asal usul dari nama tersebut sebenarnya cukup sederhana. Pemiliknya bernama Pak Tugiran. Buat gue, itu adalah nama yang cukup keren, karena terlihat masih begitu kental unsur kedaerahannya. Dengan inisiatif yang seadanya kami pun menambahkan kata community di depannya untuk menyempurnakan kekerenannya. Sempet sih, mau menambahkan kata ‘D’, jadinya nanti D’ Tugiran. Tapi niat itu gue urungkan karena gue enggak mau dianggap mengekor D’ Bagindas.

Gue mau cerita.. mungkin sedikit, mungkin berbelit-belit. Ini cerita tentang gimana akhirnya gue bisa ngedapetin kontrakan Pak Tugiran yang harganya 12 juta per tahunnya. Yak, ini adalah sebuah catatan perjalanan tiga mahasiswa yang mencari kontrakan yang layak untuk dihuni.

Begini ceritanya:

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang mahasiswa berparas biasa-biasa saja. Ganteng enggak, jelek pun enggak. Dengan penuh ketulusan, mahasiswa ini hidup mandiri. Ngupil sendiri, cebok sendiri, pake celana dalem pun sendiri. Semua dilakukannya sendiri tanpa mau merepotkan orang lain, orang-orang memanggilnya dengan nama Edotz.

Edotz hidup dalam sebuah paviliun kecil bersama kedua orang temannya. Yang satu, berkulit hitam dan bisa dikatakan legam dengan perawakan kurus kering kering. Iya, memang seperti bunyi telepon aja kering-kering, dia dipanggil Ganggo. Satunya lagi, laki-laki, bertubuh gempal, bernapas pendek dan mudah berkeringat. Untuk lebih memudahkan imajinasi kalian, lihat saja Pepi yang ada di acara bukan empat mata. Penampakannya enggak beda jauh seperti itu.