Saat Sekolah Butuh Kamera


Setelah beberapa bulan menikmati kerjaan di sekolah baru, ternyata ada banyak perbedaan yang gue rasakan. Selain waktu pulang sekolah yang lebih sore dari sekolah yang dulu, dan juga waktu tidur siang yang kini telah tiada. Di sekolah gue yang baru, gue juga mesti siap banyak tenaga karena sekolah ini sering banget ngadain kegiatan.

Yap, jadi guru di sekolah yang baru ini gue jadi rajin banget beraktivitas. Pokoknya ada-ada aja deh kegiatannya. Beberapa minggu yang lalu, sekolah gue baru ikutan kegiatan perkemahan bagi para siswa penggalang bersama beberapa sekolah dalam daerah binaan yang sama. Selanjutnya, bakalan ada agenda Super Camp, dan yang nggak kalah gede bakalan ada ‘Kemah Wilayah’ di Magelang selama lima hari, sekolah gue bener-bener super kalau masalah kegiatan di luar sekolah.

Nah, setelah sebelumnya gue kebagian jadi sekretaris kegiatan dimana gue harus akrab sama yang namanya surat menyurat. Untuk agenda Super Camp dan ‘Kemah Wilayah’ gue kebagian jadi seksi dokumentasi. Padahal gue udah mengajukan diri buat jadi seksi konsumen yang ngabisin stok seksi konsumsi, tapi ditolak. Gue juga coba mengajukan lagi buat jadi seksi bisu, malah mereka yang mendadak bisu, seolah-olah nggak peduli sama keberadaaan gue.

Entah apesnya gue atau emang gue pembawa sial. Mendadak kamera yang biasa dipakai buat kegiatan sekolah jadi rusak, suka nge-zoom sendiri--padahal nggak diapa-apain, udah gitu suka diem nggak bisa diapa-apain. Mengingat usia  kamera yang udah tua, akhirnya gue mengusulkan buat beli kamera baru aja. Kebetulan sekolah gue termasuk sekolah yang elit, yang kalo butuh sesuatu nggak perlu pusing masalah pendanaan.

Gue dan beberapa guru pun berdiskusi masalah kamera yang mau dibeli. Beberapa mengusulkan kamera DSLR biar hasilnya lebih mantap dan bisa dipakai buat jangka panjang. Setelah gue tanya, kamera DSLR itu kamera yang kayak gimana, jawabannya cuma “Kamera yang jepretannya bagus itu loh...”, sesimpel itu, sekarang gue yakin guru yang jawab tadi nggak tau apa itu kamera DSLR.

Mengingat perkembangan teknologi yang makin kesini makin cihuy, gue mengusulkan ke mereka lebih baik sekolah membeli kamera mirrorless yang lagi booming akhir-akhir ini. Emang apaan sih kamera mirrorless itu? 

Setau gue, intinya sih kamera mirrorless berarti kamera tanpa cermin. Istilah mirrorless lebih tepatnya mengacu pada mirrorless interchangeable lens camera (MILC), yaitu kamera yang lensanya bisa dilepas-pasang atau diganti, tetapi tidak dilengkapi cermin seperti DSLR. Absennya cermin ini secara langsung berdampak pada ukuran kamera mirrorless yang umumnya jauh lebih ringkas ketimbang DSLR.

Alasan lebih praktis dan enggak ribet adalah salah satu hal yang bikin kamera mirrorless akhir-akhir ini lagi booming. Ukuran yang lebih simpel dan bobot yang lebih ringkas pastinya akan lebih praktis kalau dibawa kemana-mana buat seksi dokumentasi  kayak gue. 

Setelah penjelasan yang gue paparkan tadi, sekolah gue setuju untuk lebih memilih kamera mirrorless buat inventaris sekolah. Lalu, gue diberikan mandat buat nyari kaamera mirrorless yang sesuai kebutuhan dan dengan harga terbaik tentunya. Untuk masalah ini gue jelas ngerasa siap banget karena gue udah tau dimana harus nyari kamera mirrorless yang meyakinkan dan banyak pilihan. Yap, gue hanya perlu melihat-lihat koleksi kamera mirrorless terbaik di MatahariMall. Kenapa?

Berbagai macam jenis kamera mirrorless yang diinginkan, lengkap ada di Mataharimall--tinggal kitanya aja pengen yang kayak gimana? Mulai dari rentang harga, merek kamera sampai yang ngasih diskon semuanya ada.

Misal, kita pengen nyari kamera mirrorless yang harganya lima sampai tujuh jutaan. Tinggal isi aja pada kolom ‘HARGA’ yang sudah disediakan Mataharimall, setelah itu klik ‘SUBMIT’, nantinya akan muncul daftar kamera dari harga lima juta sampai tujuh jutaan yang bisa kalian pilih. Praktis.



Kalau pengennya nyari yang lebih spesifik lagi gimana? Nggak usah khawatir, ada juga fitur STORAGE CAPACITY, CAMERA RESOLUTION, OPTICAL ZOOM, SCREEN SIZE sampai pilihan warna yang bisa kalian pilih. 


Jadi buat kalian yang suka naik gunung, bikin foto-foto unik dan ngerasa kamera DSLR udah terlalu ribet. Kalian sepertinya mesti nyoba buat liat-liat koleksi kamera mirrorless terbaik di MatahariMall.

Jangkrik, Boss! Part 1 : Lucunya Full, Nggak Setengah-Setengah

 

Beberapa hari yang lalu, akhirnya rasa penasaran gue akan film Jangkrik Boss! Part 1 tuntas terjawab juga. Jujur aja, gue nggak nyangka kalau gue harus melakukan ritual antri tiket yang cukup panjang demi nonton film ini. Udah gitu, selama masa antri, gue dibikin was-was bakalan kebagian tiketnya apa enggak.

Emang sih, kalau hari ini nggak dapet, masih ada hari esok. Masalahnya, gue nonton di kota tetangga. Dan kebetulan gue lagi libur, cewek gue juga. Kalau sampai nggak kebagian tiket, bakalan susah lagi nyari waktu yang pas. Beruntung, gue masih kebagian nonton yang jam lima sore, meskipun rencananya mau nonton yang jam tiga sore. Yah, walaupun harus kebagian kursi nomor dua dari depan, dan nontonnya agak sedikit mendongak, tapi nggak masalah, daripada gue mesti nonton jam setengah sembilan malem. Pulangnya pasti males banget.

Seperti film komedi belakangan ini yang lagi hobi ‘make’ para stand up comedian buat ikutan main. Film Jangkrik, Boss! Part 1 ini juga ikutan tren yang satu ini. Fico, Bene Dion, Yudha Keling, Ge Pamungkas, Bintang Bete dan beberapa komika lainnya juga ikutan nampang di film ini. Selain itu, Awwe dan Bene Dion yang juga komika, ikutan nulis skenario film ini bareng sutradara.

Film ini nyeritain tentang Dono yang diperankan oleh Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian berperan jadi Kasino dan Tora Sudiro yang berperan jadi Indro. Awal-awal film ini kita akan disuguhkan sisi lain cara berkendara para penduduk kota Jakarta yang nyeleneh. Dilanjut dengan tingkah konyol Dono, Kasino, Indro yang ada-ada aja. Mereka adalah anggota CHIPS yang intinya memberikan pelayanan bagi masyarakat, hampir mirip kayak polisi gitu lah. Nah, sayangnya karena kelakuan mereka yang konyol, mereka bertiga justru sering terlibat banyak masalah bukannya membantu menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat.


Seperti saat mereka bertiga bareng Sophie, cewek anggota CHIPS cabang Perancis yang datang khusus membantu Dono, Kasino, Indro buat menangkap para begal yang sering meresahkan masyarakat. Nah, dari sinilah konflik cerita yang sesungguhnya dimulai, mereka harus mendapatkan sesuatu untuk menggantikan sesuatu yang diakibatkan karena ngejar sesuatu. Ribet nggak bahasa gue? Maklum lah... ini gue sedang berusaha untuk tidak spoiler~

Intinya sih, sepanjang nonton film ini, gue ngakak terus-terusan. Komedi yang ada dalam film ini bener-bener cerdas banget. Entah berapa kali gue ketawa lepas gara-gara adegan-adegan yang sungguh-sungguh kampret.

Salah satu adegan yang paling bikin ngakak adalah waktu mereka bertiga ngejar sesuatu dan sesuatunya nyamar jadi bapak di gambar biskuit kalengan yang namanya diplesetin jadi Kong Cuan. Sumpah, ‘HAHAHA’ banget! Kerennya lagi, ibarat pake teknik call back di stand up comedy, adegan Kong Cuan ini juga muncul lagi di adegan yang lain. Cerdas!

Nggak cuma menghibur dengan komedi sehari-hari, film ini juga ngasih kritikan tentang apa yang terjadi di Indonesia. Seperti emas di Papua yang dikuasai negara asing, bakar lukisan yang dipermasalahkan tapi bakar hutan nggak jadi masalah. Dan ada beberapa lainnya yang tentunya harus kalian tonton sendiri.

Uniknya dari film ini adalah Om Indro muncul sesekali dengan bermacam-macam bentuk yang sumpah aneh-aneh aja dan bikin ngakak mulu, udah gitu yang bisa lihat cuma Indro (Tora Sudiro) aja. Bentuknya jadi apa aja? Ntar tonton sendiri deh ya. Hahaha...


Satu hal lagi yang bikin film ini makin keren adalah adegan atau dialog yang pernah muncul di film Warkop DKI jadul, bisa muncul lagi di film yang baru ini dengan scene yang pas! Bukan dipaksakan ada atau dibuat-buat, tapi emang nyambung banget sama alur ceritanya.

Dan yang paling bikin ngakak lagi adalah waktu Kasino bilang pesawatnya retreat gara-gara pasta giginya Dono ketinggalan. HAHAHA.

Oh iya, buat yang bertanya-tanya kenapa film ini dikasih judul ‘Jangkrik, Boss! Part 1’, nantinya kalian bakalan temuin jawabannya di film ini, sambil ngakak tentunya.

Jujur aja, film ini adalah film yang bikin gue hampir ngakak terus sepanjang gue nonton film ini. Lucunya emang lucu, nggak maksa dan nggak garing. Kalau sebelumnya menurut gue film Single adalah film komedi yang paling lucu di tahun 2016. Setelah nonton Jangkrik, Boss! Part 1 ini gue langsung menobatkan film ini adalah film komedi terlucu yang pernah gue tonton. Jadi, kalo harus menilai dari angka satu sampai sepuluh, film ini gue kasih nilai 9,5.

Nol koma lima yang bikin film ini nggak sempurna adalah karena filmnya bersambung! Kampret kan, nanggung banget jadinya, semoga Part 2-nya nggak kelamaan nongolnya. Tapi sebenernya masih bisa dimaklumin sih, lah dari judulnya aja ada Part 1-nya, berarti kan bakal ada part selanjutnya. Semoga nggak sampai ngimbangin 2 Fast 2 Furious aja deh.

Oh iya, di akhir acara ada beberapa cuplikan adegan di balik layar proses pembuatan film ini, dijamin kalian pasti ngakak ngeliatnya!

Setelah Sebulan Lebih....


Setelah sebulan lebih gue ngajar anak kelas empat di sekolah yang baru,  satu hal yang perlu gue syukuri adalah bahwa ternyata gue sanggup melewati ini semua dengan keadaan lancar tanpa terkendala apapun.  Selanjutnya, gue tinggal berusaha suatu saat nanti, yang entah kapan,  gue juga bisa melewati jembatan Shiratal Mustaqim dengan lancar tanpa terkendala apapun. 

Pertama kali gue menginjakkan kaki di kelas empat yang baru, gue ngerasa kalo gue ini cowok lemah yang kayaknya gak sanggup buat memanggul beban berat yang ada di depan gue karena yang ada di hadapan gue adalah siswa yang orangtuanya luar biasa aktif. Anak-anaknya juga luar biasa enerjik, yang tiap minum air mineral dari gelas langsung pada teriak ROSO!

Perasaan khawatir kalau di tempat ini gue akan mengajar lebih berat ternyata terbukti. Anak-anak disini luar biasa aktif, sedangkan gue bentar lagi masuk masa tenggang. Belum sempet isi pulsa lagi.

Gue udah ngerasa perjalanan gue setahun ke depan bersama mereka tidak akan mudah sejak gue membuat kontrak belajar bersama mereka. Mereka benar-benar berisik, bahkan cewek yang lagi bergerombol satu meja di kafe aja kalah berisik. Mereka beneran susah dikendalikan. Gue merasa perlu memanggil sang pengendali anak buat mengatasi keberisikan ini. 

Udah gitu,  gue masih kesulitan beradaptasi di tempat baru.  Sekolah gue yang dulu,  jam dua belas palingan udah bisa pulang, sementara di sekolah yang baru pukul setengah empat gue baru bisa keluar sekolah, dengan nuansa kucel yang khas di wajah. Gue bener-bener sadar, didikan sekolah negeri sebelumnya membuat gue benar-benar terbuai akan romansa duniawi. Sekalinya pulang sore, kaget. Naik motor  bengong sambil megangin knalpot saking shock-nya.

Kalau di sekolah yang dulu tiap istirahat gue bisa nyuruh anak-anak buat beliin jajan, di sekolah yang baru hal itu rasanya musykil.  Jelas aja, gak ada orang yang jualan di lingkungan sekolah karena anak-anak udah dapet snack khusus dari sekolah. Kebiasaan gue makan bakso kuah tiga ribu rupiah tiap istirahat pertama pun terhenti disini.

Kegelisahan gue bertambah ketika gue ditunjuk jadi sekretaris buat acara kemah penggalang untuk sepuluh SD. Yap, gue jadi sekretaris, padahal di sekolah yang dulu, pegang surat aja gue bersin-bersin. Tapi lagi-lagi di sekolah yang baru, gue dipaksa harus siap. 

Jadi ceritanya gini, kenapa gue bisa sampai jadi sekretaris. Awalnya gue diajak guru kelas enam, sebut saja Pak Duhri, buat ikutan rapat persiapan pramuka di salah satu sekolah. Gue pun mengiyakan tanpa menimbulkan kegaduhan. Begitu sampai di lokasi rapat, ternyata waktu itu sedang pembentukan panitia. Beberapa saat kemudian, Pak Duhri yang duduk di sebelah gue, mendadak nerima telepon sambil berjalan keluar kelas. 

Dan ternyata itu terakhir kalinya gue ngeliat Pak Duhri di ruangan itu, gue ditinggal sendirian. Pak Duhri pergi nerima telepon tidak untuk kembali. 

Karena gue satu-satunya perwakilan SD, dan Pak Duhri yang tadinya ditunjuk masuk panitia nggak keliatan batang hidungnya, akhirnya gue yang batang hidungnya keliatan ditunjuk untuk jadi sekretaris. Gue cuma tertegun atas penunjukkan sepihak ini. Beberapa saat kemudian gue sadar ini konspirasi. 

Telepon yang masuk, lalu berjalan keluar kelas dan tidak pernah kembali lagi. Ini benar-benar rencana sempurna untuk memuluskan langkah gue jadi panitia perkemahan. Gue yakin ini bener-bener terencana dengan baik. Dan jadilah gue sekretaris yang harus mengurus kegiatan perkemahan dengan pengalaman minim yang ditambah kenyataan bahwa file surat-surat tahun sebelumnya raib entah kemana.

Balik lagi ke suasana kelas, gue juga harus tabah menghadapi kisah-kisah mereka yang penuh drama.  Bahkan konflik yang mereka ciptakan cukup luar biasa bagi anak seusia mereka. 

Kapan-kapan gue ceritain gimana konfliknya. Sekarang ini gue lagi kurang mood nulis lebih panjang lagi.

Setiap hari di kelas, gue harus bersikap keibuan ketika ada yang nangis karena diusilin temennya, juga ketika ada yang nangis karena jagoannya kalah pilpres, meskipun itu udah bertahun-tahun yang lalu. Walaupun gue tidak pandai menyusui layaknya ibu-ibu sesungguhnya,  minimal gue harus bisa bersikap penuh kelembutan. Gue harus bisa menenangkan mereka dan meyakinkan mereka bahwa hidup memang nggak semudah omongannya Mario Teguh. Toh, nyatanya hidup Mario Teguh aja akhir-akhir ini nggak semulus omongannya sendiri.

Pernah juga waktu itu gue baru pulang dari sekolah,  sejenak merasakan nikmatnya selonjoran sambil kipas anginan. Mendadak gue dapet telfon dari salah satu orang tua siswa.  

"Assalamualaikum Pak..."

"Walaikumsalam.. Iya ada apa Pak? "

"Ini Pak Edotz,  mohon maaf saya nggak bisa jemput Ivan. Minta tolong kalau bisa Pak Edotz nemenin Ivan dulu barangkali sendirian di sekolah.. Omnya bentar lagi baru mau jemput."

"Oh iya Pak,  siap...  nanti saya coba cari Ivan di sekolah." Kurang sigap apalagi coba gue jadi guru?

setelah prosesi ucapan terimakasih, gue bengong.  Ini sama aja artinya gue harus balik lagi ke sekolah nyari Ivan dan nemenin sampai jemputan datang.  

Sore itu, gue balik lagi ke sekolah untuk mendeteksi dimana keberadaan Ivan dan mengevakuasinya agar senantiasa berada dekat sama gue. Menjelang maghrib, jemputan Ivan baru datang. Gue bersykur cobaan ini nggak harus berlanjut sampai ba’da Isya’.

***

Gue emang termasuk orang yang enggak mudah beradaptasi. Gue nggak gampang buat basa-basi nyari obrolan ringan sama orang yang baru gue kenal. Itu sebabnya kenapa masa-masa pertama gue di sekolah baru rasanya tuh kayak kalah di pemilihan kepala desa cuma selisih satu suara. Yang bodohnya adalah guenya sendiri ternyata belum ikutan nyoblos.

Kalau dipikir-pikir, adaptasi gue di sekolah negeri yang dulu juga berat banget. Bahkan sampai berbulan-bulan lamanya gue belum bisa bener-bener nyetel sama guru di sekolah itu. Bayangin aja, rekan kerja gue kebanyakan guru yang udah berpengalaman puluhan tahun, yang udah pada punya anak seusia gue. Gue kan jadi mati gaya. Bahkan dulu gue sering lebih milih istirahat di ruang kelas karena malu mesti nimbrung di ruang kantor. Segitunya banget gue jaman dulu.

Sampai akhirnya perlahan gue pun mulai bisa mengurangi rasa risih dan malu sama guru-guru disitu yang sebenernya berbudi pekerti luhur. Mereka membantu gue adaptasi dengan mengesankan. Gue jadi betah, semakin betah, sangat betah sampai akhirnya sekolah gue dibubarkan karena jumlah siswa yang memprihatinkan.

Jujur aja, pertama kali masuk sekolah baru, gue masih dibayangi kenyamanan hidup di sekolah yang dulu. Gue bener-bener harus keluar dari zona nyaman, dan itu benar-benar menyiksa. Menghadapi siswa yang senantias ROSO, tanggungjawab ke orangtua siswa yang lebih besar, adaptasi dengan guru-guru baru yang jumlahnya berkali-kali lipat dari sekolah gue sebelumnya. Semuanya bikin gue males banget tiap bangun tidur.

Namun kenyataannya, setelah berhari-hari gue coba menjalani. Gue mulai bisa nerima keadaan ini. Gue mulai bisa mengendalikan anak-anak agar tetap berada di jalur yang tepat. Gue mulai bisa membaur dengan guru-guru disini. Dan keputusan gue jadi sekretaris pramuka, ternyata itu bukan sesuatu yang buruk. Gue jadi punya banyak kenalan dari guru sekolah lain yang sama-sama jadi panitia. Gue jadi punya pengalaman baru. Dan ternyata tanpa sadar gue menikmati itu semua.

Sekarang gue jadi ngerti, kadang kita hanya perlu menjalani sesuatu yang terlihat sangat berat di depan kita, agar kita tahu bahwa sebenarnya sesuatu itu tidak seberat seperti yang kita pikirkan pertama kali.

Sekarang di sekolah yang baru, setiap pagi gue enggak lagi ngerasa males berangkat, gue enggak lagi cemas ngurusin anak-anak, gue enggak lagi ngerasa canggung sama guru-guru lain di sekolah. Semua itu bisa gue rasakan hanya dengan modal, “Yaudah... jalanin aja dulu deh”.