Sesuatu di Rambut Sania

Namanya Sania, memang terkesan seperti minyak goreng kemasan. Tapi Sania ini nama cewek, dan bukan nama yang sebenarnya, cuma diplesetin dikit aja sih, biar nggak sakit. Sania salah satu siswa di sekolah gue, tapi bukan gue yang ngajar. Liat deh, Sania cukup beruntung.

Sania anak kelas dua, cewek, dengan rambut lurus sebahu. wajahnya cukup imut dibandingkan dengan anak seusianya yang daya imutnya minim. Gue cukup heran, di sekolah gue banyak anak kecil yang kadar imut di wajahnya rendah. Gue curiga, waktu masih balita wajahnya jarang di-charge.

Sania suka main petasan. Bahkan nggak segan-segan ngeledakin petasan di ruang guru, terus naik meja sambil ketawa ngakak, terus nungging. Tapi sayangnya gue bohong. Sania nggak semengerikan itu. Sania tumbuh sebagai anak kecil sebagaimana pada umumnya. Jalan dengan kedua kakinya, cebok dengan tangan kirinya, dan ngupil pake pensil 2B.

Awalnya gue ngeliat Sania biasa aja. Sama kayak ngeliat Zaskia Gotik yang ditanyain lambang negara Indonesia jawabnya Bebek Nungging. Mungkin Zaskia Gotik niatnya cuma buat bercanda. Tapi gue yakin, Zaskia Gotik emang taunya gitu. Ya, maklumlah... Zaskia pendidikannya cuma sampe SD.. selebihnya mesti bantuin orang tua keliling kampung cari duit. 

Sania juga gitu, waktu dikasih pertanyaan siapa guru yang paling ganteng, Sania jawabnya 'Pak Edotz!'. Ya, maklumlah... pendidikan Sania baru sampai kelas 2 SD. Dia belum melihat dunia luar lebih luas lagi. Belum bisa membedakan mana yang ganteng mana yang kusam.

Semakin hari gue mengenal Sania, gue semakin tau gimana sifat Sania. Contoh nyatanya adalah sampai kelas dua ini, Sania belum bisa baca. Tapi kalo nulis udah bisa. Udah gitu, Sania ini suka banget ngoleksi angka nol di buku tulisnya. Gue salut, sejak kecil Sania udah konsisten.

Kemudian gue semakin tahu, selain konsisten dapet nilai nol. Sania juga konsisten buat enggak ngerjain PR. Entah gimana kehidupannya di rumah, gue curiga mungkin orang tuanya sibuk mainan Path sama Instagram sampai lupa ngurus anak.

Karena penasaran, gue pun iseng-iseng nanya sama penjaga perpustakaan di sekolah gue yang asli orang desa Penggarit.

"Mas, itu Sania nggak pernah ngerjain PR, nilainya nol terus emang nggak diurusin sama orang tuanya ya?"

"Lah, belum tau Bang? Sania itu kan nggak punya Bapak, ibunya kerja di Jakarta. Dia cuma ikut sodaranya disini."

"Hah? Bapaknya kemana emang?" Gue semakin kepo.

"Nggak tau.. Bapaknya pergi sejak Sania masih kecil."

Lalu obrolan kami berdua pun semakin panjang dan intim. Beruntungnya petugas perpustakaan di sekolah gue bukan Saipul Jamil.

Sekarang gue pun tahu kenapa Sania tumbuh sebagai anak kecil yang konsisten. Iya, konsisten dapet nilai nol, maksudnya.

Sania tumbuh tanpa perhatian orang tua, bahkan... mungkin Sania tumbuh tanpa ngerasain kasih sayang yang nyata dari orang tua, terutama dari sosok seorang Bapak. Gue jadi terenyuh, tapi gue nggak berani jadi bapak angkat Sania. Capek juga kan kalo mesti angkat-angkat terus.

Suatu hari, Sania berdiri di pintu ruang kelas gue sambil garuk-garuk kepala nungguin gilirannya masuk kelas. Karena di sekolah gue, kelas dua emang berangkatnya siang, gantian sama anak kelas satu yang jumlah siswanya cukup fenomenal. Lima anak.

Iseng-iseng gue deketin Sania, bukan mau nyepik, tapi iseng aja sih sambil nungguin anak-anak ngerjain soal. Sania enggak lari ngeliat wajah gue, gue mengucap syukur dalam hati. Sania masih asik garuk-garuk kepala, seolah ingin menunjukkan kepada semesta bahwa garuk-garuk kepala adalah salah satu bentuk kearifan lokal yang harus disyukuri.

Karena penasaran, gue pun mengamati lebih dalam kepala Kania. Dan mendadak gue ngeri. Anjrit! Rambutnya kotor banget! Abis main dimana ini anak? Kayak penuh sarang laba-laba. Karena penasaran gue coba buat bersihin, tapi Kania mengelak sambil cengengesan. 

Gue makin penasaran. "Eh, Sania... itu rambut kamu kotor banget loh! Sini bentar!"

"Nggak mau ah Pak.. biarin."

Sebagai anak kecil yang lemah, tidak sulit buat gue menaklukkan Sania lalu melihat rambutnya lagi. Hingga akhirnya gue beneran shock!

Anjrit! Ini sih borok! Bekas luka yang udah kering pada mengelupas. Gue mendadak mual.
Belakangan gue baru tau, ternyata Sania punya peliharaan yang selalu diajak kemana-mana. Bahkan Sania rela dibokerin peliharaannya tiap saat.

Kania pelihara kutu rambut. 

Saking banyak jumlahnya, kulit kepalanya jadi sering digaruk, sampe akhirnya kulit kepalanya pada luka-luka. 

Sania tidak lagi terlihat imut di mata gue.