Saat Gue Harus Mengasingkan Diri dari Hiruk Pikuk Sekolah

Selama gue jadi guru SD, ada banyak hal tak terduga yang pernah gue alamin. Salah satunya saat baru bangun tidur gue buka UC browser di hape, terus gue liat ada berita Saipul Jamil ditangkap polisi gara-gara kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur. Gue sih nganggepnya ini biasa, tapi jadi bikin nggak biasa karena ternyata anak yang dicabuli itu cowok. Iya, cowok. Entah gimana bentuk pencabulannya kalo sama cowok, gue masih gagal paham.

Nah... yang sempet bikin gue heran adalah saipul Jamil ini udah pernah nikah dua kali. Sama cewek, bukan sama cowok. Terus kenapa ini jadi sama cowok kasusnya? Padahal nih ya... waktu itu gue nggak sengaja pernah nonton Dangdut Academy (karena remote dikuasai orang tua) pas juri lagi nyiksa peserta dengan menahan berdiri selama setengah jam lebih, Saipul Jamil ini tiba-tiba keluar bentar dari studio karena alasan mau shalat. Gue jadi mikir, ini orang komentarnya sengak tapi ternyata taat juga, shalat aja segera dilaksanakan walaupun lagi syuting. Subhanallah.....

Dan ujung-ujungnya mencabuli anak orang dan jenis kelaminnya sama. Asli, malu-maluin banget nih Saipul Jamil. Parah nih ah!

Oke deh skip, ini gue mendadak jadi kebawa suasana ngomongin saipul Jamil mulu. Gue jadi nggak enak sama guru agama di sekolah.

Ngomongin persoalan malu-maluin, gue juga pernah ngalamin sesuatu yang malu-maluin. Malu-maluinnya itu pokoknya malu-maluin banget deh.

Waktu itu, hidup gue masih diliputi kedamaian meskipun helai demi helai rambut terus bergelimpangan dari kulit kepala gue. Sebagai guru SD yang enggak layak dikonsumsi publik, gue menjalani rutinitas seperti biasa. Mengajarkan nilai-nilai pancasila yang ada di sekolah, dan juga mengajarkan nilai-nilai pancasila yang ada di sinetron Anak Jalanan. Salah satunya adalah meyakinkan anak-anak bahwa gue mirip sama Boy.

Pagi itu setelah turun dari motor, gue berasa kayak artis. Baru nyopot helm aja anak-anak berlarian mendekati gue. Bukan mau minta sedekah, tapi antri salaman satu-satu sama gue. Dalam hati gue semakin yakin kalo gue emang mirip sama Boy.

Setelah turun dari motor. Gue melangkah seperti biasa, tegap dan penuh percaya diri. Dengan sepatu pantovel memukau yang abis disemir, celana kain hitam yang abis disetrika tanpa disemprotin rapika, juga kemeja batik motif polkadot warna pink. Gue berjalan sambil senyum ke anak-anak yang lagi sibuk memasukkan ingusnya ke hidung masing-masing.

Jam pertama, gue mengajar sebagaimana mestinya. Gue menjelaskan materi tentang konspirasi warga Tiongkok yang menguasai ruko-ruko di daerah Jalan Jendral Sudirman dengan segala jenis dagangannya yang biasanya mahal-mahal. Sementara orang Pemalang asli kebagian pedestriannya aja. Itu pun kalo malem, buat jualan nasi goreng sama ayam bakar.

Tapi rasanya materi pagi itu terlalu berat, anak-anak belum bisa terlalu memahami kenyataan konspirasi mengerikan yang ada di kotanya. Mereka nggak mau tau akan hal semacam itu, mereka cuma pengen di desanya segera dibangun Alfamart sama Indomaret. Ah... anak-anak yang malang, mereka hidup terlalu menjorok ke dalam dari perkotaan. Alfamart sama indomaret benar-benar jadi sesuatu yang luar biasa di mata mereka.

Di sela-sela memberikan ilmu yang bermanfaat pada mereka. Mendadak gue jadi kebelet pipis, dengan elegan gue pun segera ke toilet karena menunda-nunda sesuatu itu nggak baik. Apalagi semacam pipis, kalo sampe kelamaan nunda takutnya keluar dikit, gue khawatir nantinya bau pesing menyelimuti gue sampai sisa jam mengajar habis pada hari itu.

Setelah selesai menuntaskan hasrat gue buat pipis dengan posisi push up. Gue menunaikan kewajiban selanjutnya yaitu menyiram kloset dengan air banyak-banyak. Sengaja aja, soalnya gue nggak enak kalau-kalau setelah gue keluar ada guru lain yang masuk, dan aroma pipis gue masih ketinggalan. Gue nggak mau diomongin di belakang sama ibu-ibu.

Saat semua kewajiban udah gue tuntaskan, gue pun segera menutup retlseting dengan cermat dan berniat segera kembali ke kelas. Namun kenyataannya, semesta enggak memihak gue hari itu, karena ternyata saat gue nengok ke bawah. Retsleting gue enggak bisa ketutup!

Retlseting celana gue bisa naik turun tapi nggak bisa nutup. Kampret! Gue mendadak panik. Gue ulang-ulang terus naik turunin retlesting dengan harapan retsletingnya bisa segera ketutup, mulai dari cara yang lembah lembut dengan menarik perlahan pakai jari gue yang lentik sampai cara kekerasan kayak narik retlseting pake gigi geraham, tapi hasilnya nihil.

Ini kasusnya bukan gue lupa nutup retsleting tapi gue udah beneran tau dari awal kalo retlseting gue nggak bisa ditutup. Dan ini jauh lebih parah dari kasus retsleting yang lupa ketutup. Kalau retlseting lupa ketutup tinggal tarik ke atas aja, masalah kelar. Walaupun mungkin gue mesti ngerasain malu duluan kalo diingetin orang lain. Kasus gue kali ini jauh lebih pelik lagi, nggak bisa ditutup dan nggak bisa diselamatkan. Kalo ada yang ngingetin, nggak bisa nutup, jelas lebih malu-maluin lagi. Gue jadi dilema. Mau pulang ganti celana, nggak mungkin, rumah gue jauh dari sekolah. Jauh banget malah. Mau tetep bertahan di sekolah, situasinya terlalu sulit.

Gue mendadak makin cemas setelah nengok jam tangan, ternyata baru pukul setengah sembilan. Jalan yang panjang masih harus gue lalui sampai siang. Masih ada istirahat, dimana biasanya guru pada ngumpul di kantor, juga masih harus ngajar anak-anak di kelas sampai siang.

Untuk beberapa saat lamanya gue termenung memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini. Sampai akhirnya gue keluar dari toilet dengan mantap. Bukan karena udah nemu ide, tapi karena gue nggak betah lama-lama di toilet.

Untuk sementara, gue memaksakan diri masuk ke kelas sambil narik baju batik gue lebih ke bawah. Lalu gue pegangin erat-erat. Gue duduk dengan tenang dan nggak beranjak sampai istirahat sekolah. Dan waktu istirahat sekolah, bukannya ke kantor gue malah menepi ke rumah penjaga. Mengungsi untuk sejenak.

Begitu gue cerita sama penjaga sekolahnya, bukannya ngasih ucapan berbela sungkawa, penjaga sekolah yang nggak perlu disebutkan namanya ini justru ngakak kenceng. Dalem banget ketawanya sampai masuk ke hati kecil gue. Kampret! Gue cuma bisa berdiri bingung nggak tau mesti ngapain sambil membiarkan retlseting celana gue yang menganga.

Pas lagi pasrah gitu, tiba-tiba ada anak kelas III dengan santainya masuk ke ruang penjaga sambil nenteng jajanan guntur di tangannya. Dan yang bikin kampret adalah tatapannya langsung nancep di bagian retlseting gue yang nggak bisa menutup dengan sempurna.

Dengan riangnya dia teriak, ‘Pak Edotz retsletingnya masih mbuka tuh Pak, HAHAHA!’

Anak ini kayaknya nyari masalah.

‘Sssttt.... sini kamu Ndre!’

‘Kenapa Pak? Hahaha...’

‘Kalau nggak pengen Pak Edotz kutuk jadi pulang terakhir terus selama seminggu, diem dan nggak usah cengengesan!’ Gue pura-pura galak.

‘Dan nggak usah bilang-bilang temennya!’ Gue menambahkan sambil duduk di kursi.

‘Jangan pulang terakhir Pak! Iya, Pak... iya... nggak bilang-bilang deh Pak.’ Andre jiper mau gue kutuk pulang terakhir selama seminggu. Lalu beberapa pertanyaan interogasi untuk meyakinkan bahwa kalo Andre sampai bocorin masalah ini bakalan berujung kutukan pulang terakhir selama seminggu gue sampaikan dengan tegas.

Bel tanda istirahat selesai udah berbunyi. Gue udah mantap kalo gue akan menghabiskan sisa jam mengajar gue di rumah penjaga. Gue yakin bakalan sulit untuk menyembunyikan retlseting ini dari tatapan anak-anak di kelas.

Maka dengan tegas, gue bilang ke Andre, ‘Ambilin buku paket bahasa Indonesia bawa sini, Ndre! Pak Edotz kasih tugas buat anak kelas tiga.’