Banyak orang bilang, masa-masa setelah wisuda adalah masa yang bikin eneg. Setidaknya hal itu (pernah) berlaku bagi gue dan beberapa temen yang  sehabis wisuda enggak tau mau ngapain. Bahkan mungkin ada beberapa yang lebih ngenes dari gue, sehabis wisuda malah enggak tau jenis kelaminnya apaan.



Dulu gue pikir, wisuda adalah kebahagiaan yang abadi. Manusia jenis mahasiswa, kalo udah ngerasain wisuda itu artinya manusia tersebut sudah diperbolehkan untuk berbangga diri dengan titel yang diperolehnya. Segala beban penderitaan dan kepedihan sebagai anak kos yang harus bertahan di tengah belantara kampus saat akhir bulan dan harus bertahan hidup dengan memakan apa yang ada di sekitarnya, telah berakhir. Kehidupan yang sejahtera sebagai manusia yang sesungguhnya sepertinya telah dimulai.

Tapi, kadang harapan hanya tinggal harapan. Karena ternyata bagi gue wisuda itu enggak beda jauh dengan peribahasa yang berbunyi ‘keluar dari lubang buaya masuk ke mulut raja singa.’ Sama-sama ngenesnya!

Gue dapet kesimpulan itu setelah gue mengalaminya sendiri. Dulu, gue enggak pernah percaya dengan petuah atau nasihat dari manusia-manusia yang udah lebih duluan wisuda daripada gue. Mereka mengatakan, bahwa pedihnya hidup sebagai mahasiswa jauh lebih beruntung dibandingkan pedihnya hidup setelah wisuda. Gue sangat-sangat menentang kata-kata itu. Menurut gue, enggak ada hal yang lebih melegakan selain wisuda, yang menandakan pertempuran dengan skripsi udah berakhir dan itu artinya gue merdeka.
Sampai akhirnya gue wisuda, gue pulang ke kota kelahiran gue dengan menenteng titel S.Pd di belakang nama lengkap gue. Titel sarjana pendidikan dengan elegan berhasil gue dapatkan, sampai belakangan gue sadar dan dengan ikhlas lebih pas menyebutnya sebagai ‘sarjana penuh derita’ atau mungkin ‘sarjana penuh duka.’

Iya, gue mengatakan hal itu jelas beralasan. Dulu gue kira setelah wisuda, gue tinggal cari kerja terus nabung buat naikin haji orang tua bareng Haji Sulam. Tapi kenyataannya, kehidupan setelah wisuda itu tak ubahnya seperti mimpi buruk yang seolah tidak pernah berakhir. setidaknya hal ini berlaku bagi jurusan gue atau mungkin temen-temen fakultas keguruan lainnya yang juga ngerasain hal yang sama kayak gue, bahkan bisa saja lebih pedih. Gue rasa diputusin atau diselingkuhin pacar masih tetep kalah nyesek dibandingin realita yang satu ini.


Padahal konon katanya, jurusan gue, PGSD. Adalah jurusan dengan masa depan yang cerah, banyak abg labil yang sehabis lulus SMA mengincar masuk PGSD. Jaman gue dulu aja, ada sekitar 3000 peminat dan hanya 250 orang yang berhak masuk--salah satunya gue. Dan sampai saat ini, gue juga masih belum tau kenapa gue bisa jadi salah satu anak yang bisa masuk? 

Nah, jurusan yang katanya favorit aja masih banyak mahasiswa yang ngenes, apalagi jurusan lain yang biasa-biasa aja? Gue bukannya mau merendahkan jurusan lain, tapi emang kenyataannya gitu. Sekarang, gak ada yang namanya masa ‘pengabdian’ dihitung di sekolah. Jadi kalo gue dan temen-temen guru lainnya ngajar di sekolah jadi guru honorer, ya udah.. ngajar aja. Enggak ada yang namanya lama mengajar berapa tahun ‘diperhitungkan’. Hasil akhirnya, semua yang punya ijazah calon guru, harus melewati jalur CPNS secara umum, semuanya sama. Gak ada bedanya, entah yang udah sepuluh tahun jadi guru honorer atau baru sebulan jadi guru honorer semua punya kesempatan yang sama untuk memperebutkan kursi di CPNS.

Sekarang biar gue jelasin semuanya tentang realita wisuda & Rock N Roll ini.

Namanya sarjana pendidikan, entah itu guru TK, guru SD, guru mata pelajaran atau guru silat. Hakikatnya mereka kuliah di keguruan, setelah lulus pastinya mereka akan mengajar. Mereka menjadi guru, mereka punya pekerjaan dan mereka bisa nabung buat naikin haji orang tua masing-masing bareng Haji Sulam. Tapi konon katanya, gue denger sih sekarang Haji Sulam udah meninggal. Itu artinya impian mereka yang terakhir gak mungkin direalisasikan. Berarti yang paling mungkin adalah mereka tetap menaikkan haji orang tua tapi enggak bareng Haji Sulam.

Angan-angan yang (masih) indah...

Dan kenyataan yang terjadi setelah wisuda seringnya enggak berjalan seindah itu. Perjuangan setelah wisuda dimulai dari kesadaran pada diri sendiri bahwa ini adalah saatnya ‘menjajakan diri sendiri’ pada sekolah-sekolah atau di tempat lain. 

Bagi mereka yang tidak terlalu terobsesi menjadi guru. Mereka akan memilih pekerjaan lain yang lebih manis dibandingkan menjadi guru. Mereka harus lebih bersemangat menjajakan diri sendiri dengan ijazahnya di beberapa perusahaan atau di mana pun tempat yang mereka anggap layak dengan ijazah yang mereka bawa. Biasanya sih, BANK yang jadi tujuan utama. Gue maklum kenapa mereka lebih memilih buat enggak jadi guru. Alasannya sederhana, guru honorer di Indonesia belum bisa hidup sejahtera.

Di sisi lain, bagi mereka yang bener-bener kepengen jadi guru dan gak peduli dengan gaji yang diterima. Maka mereka akan menjajakan diri ke sekolah-sekolah yang mau menggunakan jasanya... dengan imbalan yang alakadarnya. Iya, jadi guru itu enggak semudah ngupil pake telunjuknya Haji Sulam. Jadi guru honorer itu ngenes, bahkan nilai mereka jauh lebih rendah dibandingkan buruh pabrik atau bahkan karyawan warteg.

Beberapa temen gue yang memilih mengabdikan dirinya untuk menjadi guru karena enggak mau ilmu yang didapat selama kuliah sia-sia, rata-rata per bulannya mereka mendapat gaji 250 ribu sampai 300 ribu. Bayangin aja, ngajar full dari senin sampai sabtu, pagi sampai siang. Dipikir dengan akal gaul pun enggak akan cukup gaji segitu buat hidup. Endingnya emang masih tetep harus ngerepotin orang tua dulu.


Sebenarnya kalo melihat mereka yang memprihatinkan itu, jauh lebih memprihatinkan dibandingkan temen-temen gue yang sampai saat ini masih belum bisa mendapat pekerjaan yang sesuai ijazahnya. Salah satu temen gue, sebut saja Mono. Wisuda bareng gue, IPK sekitar 3,4 dan dia masih saja kesulitan mencari sekolah untuk tempatnya mengajar. Bahkan dia juga pernah mencoba ikutan job fair atau bursa kerja dan belum ada hasilnya.

Dari pengalaman Mono, gue belajar bahwa menjajakan diri itu enggak mudah. 

Jadi kalo sekarang gue denger ada mahasiswa yang berjuang mati-matian buat dapetin IPK sebagus mungkin, gue cuma bisa ketawa. 

Emang mereka enggak salah, tapi mereka juga enggak sepenuhnya benar. Percuma kalo kuliah tujuannya cuma nyari IPK kalo mereka enggak punya skill atau keahlian lain dalam bentuk apapun. Karena saat kita udah bener-bener masuk fase ‘menjajakan diri’ mencari pekerjaan. Enggak cuma gelar, IPK dan kualitas wajah yang diperlukan. Tapi juga skill... percuma punya IPK keren kalo bisanya cuma itu-itu aja. Karena apa? Di luar sana masih ada ratusan atau bahkan ribuan orang dengan IPK keren sekaligus punya keahlian yang keren.

Nih, ada quote dari @shitlicious yang gue suka.
“Dunia kerja kadang nggak butuh orang-orang pandai. Karena di luar sana sudah terlalu banyak orang pandai. Tapi, orang-orang kreatif selalu punya tempat di lapangan kerja manapun. Kreativitas adalah mata uang universal.”

Contoh sederhananya temen gue, Adhy. Dia kuliah enggak pinter-pinter amat. IPK cuma 3,25.. bahasa inggrisnya juga parah banget, nulis ‘death note’ aja jadi ‘date note’, salah abis... kalo dilihat secara akademik, Adhy masih kalah jauh dibandingin lulusan kampus gue yang punya IPK mentereng. Tapi yang menjadi perbedaan antara Adhy dengan yang lain adalah Adhy punya pengalaman organisasi yang lumayan, dan Adhy juga punya skill lain di bidang olahraga, Adhy jago main futsal. Walaupun, yah... enggak jago-jago amat. Setelah wisuda, enggak bisa jadi guru kelas. Adhy sekarang ngajar jadi guru olahraga di salah satu SD swasta kota Semarang. Dan gajinya lumayan, dibandingkan dengan gaji guru honorer di sekolah negeri.

Coba bayangin kalo Adhy cuma punya modal IPK aja tanpa skill lainnya? 

Dari pengalaman temen gue di atas, gue punya pesen buat kalian yang saat ini masih berjuang di tingkat mahasiswa. IPK bukan segalanya bro, elo butuh lebih dari sekedar IPK untuk bisa hidup keren di masyarakat. Elo butuh relasi atau punya banyak kenalan. Dan yang paling penting elo punya pemikiran yang kreatif, punya skill yang keren.

Misal aja nih, enggak jadi guru elo masih bisa buat bisnis kecil-kecilan. Jualan gorengan keliling atau jualan siomay rasa durian. Gak masalah kok, asal elo bisa serius sama hal yang elo kerjakan, yakin aja hasilnya bakal lebih maksimal. Yah.. jangan malu-malu lah intinya, gak usah kebanyakan gengsi. Gue juga udah kepikiran sih mau jual pulsa keliling. Tapi ini lagi nyari modal dulu. 

Oh, iya...
Dan kalo elo belum punya gambaran setelah wisuda mau ngapain? Gue saranin mending jangan lulus dulu, deh... jadi mahasiswa jauh lebih terhormat daripada sarjana pengangguran. Derajat hidup elo di masyarakat bakalan turun jauh, bahkan bisa mendekati level hina. Elo udah siap belum dibilang, ‘LOH! SARJANA MASA’ NGANGGUR!’, kalo secara lahir batin itu bukan masalah yang gede. Ya, gak masalah sih.

Nah... terus gimana dengan gue sendiri? Gue sama kayak temen-temen lain yang lebih memilih untuk enggak jadi guru. Setidaknya untuk sementara waktu. Gue masih belum minat dan masih belum pengen berjuang untuk mencerdaskan generasi negeri ini dengan bayaran yang kalah jauh dibandingkan dengan buruh pabrik dan karyawan warteg.

Untuk saat ini gue pengen kerjaan yang enggak terlalu tegang dan enggak memakan banyak waktu gue. Sebenernya gue sempet ditawarin buat jagain kios cabe kakak gue di pasar, bayarannya enggak beda jauh dengan Adhy yang jadi guru di SD. Tapi gue enggak ngambil kesempatan itu karena gue masih pengen ngeluangin banyak waktu gue buat nulis.

Iya, itu yang jadi alasan buat gue lebih memilih buat jadi penyiar di radio T FM Pemalang. Emang sih, gajinya mungkin masih kalah gede dibandingkan dengan bayaran jaga kios kakak gue di pasar. Tapi di sini gue punya banyak waktu buat nulis, gue juga kerja di bidang yang emang gue suka. Dan gue yakin.. gue bakalan dapet banyak pengalaman selama jadi penyiar.

Lalu apa gue udah ngelupain jadi guru?

Gue bakalan jadi guru, tapi setidaknya bukan sekarang. Gue pengen nyari pengalaman lain dulu yang mungkin suatu saat bisa berguna saat gue udah bener-bener jadi guru. Ya, suatu saat gue juga pengen nikmatin momen deket dengan anak-anak ngajar di sekolah. Dan gue cuma berharap, semoga ‘harga diri’ para guru jauh lebih diperhatikan. Mereka layak mendapat upah yang tinggi. Minimal mereka mendapat gaji setingkat dengan UMR (Upah Minimum Regional) di kota masing-masing.

Untuk saat ini, gue pengen nikmatin kerjaan yang ada dulu sambil terus nulis. Walaupun gue enggak tahu apa aja yang gue tulis.

Jadi setelah ini semoga gue banyak dapet pengalaman absurd sebagai penyiar radio. Dan gue bisa cerita banyak hal di blog ini, enggak galau mulu abis wisuda.