Repot Raport Daring

1/03/2021 08:00:00 pm

Sepanjang karir saya jadi seorang guru SD. Penerimaan raport tahun ini adalah yang paling embuh buat saya. Selama satu semester ini, pembelajaran yang dipakai oleh sekolah saya adalah full daring. Jadi, saya sama sekali nggak pernah ngajar anak-anak ketemu langsung tatap muka.

Awalnya saya dan partner kelas paralel mantap saling bagi tugas untuk bikin video pembelajaran. Jadi, kalau hari ini saya bikin video tema 1 mata pelajaran IPS, besoknya gantian guru kelas sebelah yang bikin mata pelajaran lainnya. Ya, awal-awal tahun ajaran baru memang semangat saya dan guru lain lagi on fire banget. Bahkan di sekolah saya banyak guru yang mantap untuk membeli smartphone baru dengan spesifikasi yang lebih gahar untuk persiapan menyambut pembelajaran daring.

Kenyataannya, performa saya dan rekan lainnya untuk bikin video pembelajaran lalu diupload di Youtube dan ditonton anak-anak cepat sekali surutnya. Permasalahan utamanya jelas, ternyata ngedit satu video pembelajaran saja sampai berjam-jam, dan itu nggak efektif banget karena kami merasa ada anak-anak yang pada akhirnya nggak antusias nonton videonya, lebih milih skip dan langsung ngerjain tugasnya dibantu google.

Beberapa minggu kemudian, kami mulai menggunakan video dari orang lain yang banyak bertebaran di Youtube untuk dishare di grup Whatsapp orangtua siswa, karena kami pikir yang penting materi tersampaikan dan anak-anak disajikan video pembelajaran yang lebih niat dibanding bikinan guru wali kelasnya.

Persoalan selanjutnya adalah bahwa setiap hari kami harus menerima tugas yang disetorkan oleh anak-anak yang jumlahnya sekitar tiga puluh anak. Iya, setiap hari. Dan saya harus ngoreksi tugas mereka satu per satu di layar smartphone yang tentu saja bikin mata cepat lelah dan tidak efektif.

Rentetan tugas yang hampir setiap hari dikirim lagi-lagi membuat energi saya cepat habis. Saya mulai jenuh dengan rutinitas yang gini-gini mulu. Pagi kirim tugas buat anak, lalu anak-anak kirim tugas, saya koreksi nyicil, belum selesai besoknya udah harus ngasih tugas lagi dan nerima tugas lagi. Sumpah, kalau ada yang bilang pembelajaran daring itu keenakan gurunya karena katanya nggak ngajar sama sekali, saya pengen banget ketemu sama orangnya terus kepalanya tak cosplay-in jadi rebana biar bisa dikeplakin.

Pada akhirnya saya hanya mengoreksi untuk beberapa tugas yang nilainya mau diambil. Sisanya, saya hanya ngasih centang buat mereka-mereka yang udah ngirim tugas. Ini terdengar jahat karena anak-anak udah susah-susah ngerjain tugas tapi nggak saya koreksi?

Ya.. monggo sih... kalau mau dibilang jahat juga terserah, yang jelas masa-masa itu memang saya ngerasa jenuh sekali. Lagian nggak mungkin juga saya memasukkan seluruh nilai tugas anak setiap harinya buat dimasukkan ke raport nantinya.

Sebenernya saya sempat ngajak diskusi partner kelas paralel buat menyelesaikan kejenuhan ini. Salah satunya adalah usulan sebaiknya ngasih tugas ke anak-anak jangan setiap hari. Tapi jawaban dari Bu Fay, satu-satunya perempuan di paralel saya membuat saya berdecak pasrah. Bu Fay bilang, “Nanti gimana kalau orangtua siswa pada protes? Anak-anak kalau nggak dikasih tugas sukanya mainan HP terus, nggak mau belajar, nggak mau buka buku, nggak mau cari nafkah, nggak mau sedekah dan puluhan nggak mau-nggak mau lainnya berkumandang sepanjang hari.”

Iya, bener juga.

Standar belajar di sekolah saya memang tinggi mengingat sekolah tempat saya ngajar adalah sekolah mahal yang ‘katanya’ elit, walaupun sebenarnya saya bisa mengoreksi keelitan itu karena saya udah liat dalamnya seperti apa. Iya, dalamnya ada guru seperti saya, jadinya malah nggak keliatan elit-elit banget.

Seperti yang sudah diduga, pembelajaran daring berlangsung dengan sangat monoton. Pagi kirim tugas, anak-anak kirim tugas, saya  ngoreksi, nyicil, besok udah harus ngirim tugas lagi. Akhirnya, nyentangin tugas anak-anak yang udah ngirim memang solusi paling realistis buat saya.

Persoalan dalam pembelajaran daring berikutnya adalah ketika anak-anak melaksanakan Ujian Tengah Semester dan Penilaian Akhir Semester. Kelihatannya memang tidak masalah, anak-anak memang berhak ujian dan itu lazim. Hanya saja, hal ini bisa disebut sebagai suatu persoalan karena untuk soal yang akan diujikan ternyata yang membuat dari dinas, bukan dari gurunya sendiri.

Kebayang, kan? Betapa terbatasnya ngajar daring, susah sekali buat menuntaskan semua materi yang ada di semester itu. Kalaupun bisa berhasil terkejar, saya sangat nggak yakin anak-anak paham sama materi yang ditonton lewat Youtube setiap hari .

Pernah saya berpikir mau mencoba pembelajaran lewat Google Meet atau via Zoom. Tapi lagi-lagi banyak sekali pertimbangan dari saya. Pertama, karena ngajar anak kelas empat masih banyak anak yang belum pegang HP sendiri. Kedua, menentukan jadwal pembelajaran. Orangtua di sekolah saya kebanyakan sibuk-sibuk semua, pagi kerja pulang sore bahkan ada yang malem. Jadi hampir nggak mungkin saya tatap muka online pagi, sementara kalau sore hari jadwal saya udah full. Malam? Kebanyakan anak-anak katanya udah pada tidur. Dan kayaknya nggak efektif juga tatap muka video call malam-malam.

Sistem Penilaian Akhir Semester di sekolah saya dilalui dengan cara orangtua datang ke sekolah ngambil lembar jawab buat semua mata pelajaran. Lalu, soal ujian hari-hari berikutnya akan dikirim dalam bentuk PDF di grup whats app kelas. Tiga hari sekali, orangtua siswa datang ke sekolah buat setor lembar jawab yang udah dikerjakan anak-anak buat dikoreksi gurunya masing-masing.

Kenyataannya, sampai semua mata pelajaran selesai diujikan. Satu lembar jawab pun belum saya koreksi sama sekali. Ya... rasanya dilema sekali mau ngoreksi lembar jawab anak-anak tapi saya tahu kalau mereka mengerjakan bukan hasil usahanya sendiri, justru dibantu orangtua dan tentu saja Google.

Dari mana saya tahu? Ya, tahu lah ... saya udah ngajar mereka hampir satu tahun sebelumnya. Saya udah tahu seberapa jauh kemampuan akademik masing-masing anak. Lalu, selama pembelajaran daring tiba-tiba mereka berubah menjadi cerdas sekali sampai-sampai ada soal yang materinya belum pernah diajarkan mereka bisa menjawabnya dengan lugas, bahkan sama persis dengan penuturan google setelah iseng-iseng saya browsing jawaban soalnya.

Saya sempat ragu-ragu selama beberapa hari. Mau ngoreksi apa nggak?

Yang jelas ini udah jadi tanggung jawab saya sebagai guru tapi masa iya saya mau ngoreksi lembar jawab yang hasil pekerjaannya bukan hasil dari anak-anak sendiri. Ini sama aja saya ngoreksi hasil pekerjaan orangtua siswa yang hampir 90% jawabannya udah pasti bener semua.

Bahkan ada salah satu orangtua siswa yang nggak dateng ke sekolah buat ngasih lembar jawab anaknya. Cuma ngirim hasilnya lewat foto di WA  dan yang lebih bikin takjub soalnya  yangngerjain orangtuanya langsung. Iya, saya langsung paham kalau itu bukan tulisan anaknya tapi tulisan orangtuanya karena terlalu rapi. See? Saya harus ngoreksi lembar jawab yang seperti ini?

Saya nggak sepengangguran itu. Akhirnya khusus untuk anak satu ini nilainya saya buat pas-pasan, nggak sampe pas KKM sih tapi ya dilebihin dikit lah.

Dengan segala keterbatasan interaksi dan segala permasalahan yang muncul dari pembelajaran daring. Akhirnya saya tetap ngoreksi dengan hasil akhir di raport tetap mempertimbangkan kemampuan anak-anak di tahun sebelumnya. DItambah saya juga menghargai usaha anak-anak yang mungkin walaupun udah sangat jenuh tetap rajin kirim tugas setiap hari.

Saya banyak melakukan kompromi dengan nilai, karena tentu saja ada beberapa anak yang hampir tidak pernah mengumpulkan tugas sekolah. Nggak mungkin juga saya tega ngosongin nilainya karena nggak ada tugas masuk. Pengen rasanya mengingatkan orangtua dari siswa tersebut. Tapi ya, kembali ke tanggung jawab masing-masing, kembali ke cara orangtua mendidik anaknya sendiri di rumah. 

Sebenernya, pembelajaran daring ini bukan sesederhana anak-anak ngerjain tugas lalu selesai begitu saja. Tapi lebih kepada bagaimana orangtua mendampingi anak belajar, menggantikan peran guru agar anak-anak di rumah bisa tetap mendapat ilmu dari pembelajaran yang sebatas video dari guru. 

You Might Also Like

0 Upil

FanPage