Aplikasi Berbasis Manual

Bertepatan hari Sumpah Pemuda kemarin, sekolah gue enggak ngadain upacara bendera sebagai peringatan hari Sumpah Pemuda, tapi justru ngadain pembagian hasil rapot UTS. Seperti yang udah pernah gue ceritain sebelumnya, sekolah tempat gue ngajar rapotnya nggak cuma pas semesteran aja, tapi tengah semesteran juga ada rapotnya. Lumayanlah... bisa bikin gue sibuk sambil berkeluh kesah.

Pengerjaan rapot kali ini lebih banyak ngeluh dari yang sebelumnya karena sekolah gue menerapkan sistem baru. Kalau biasanya udah ada formatnya di excel dengan segala kemudahan yang tetep aja ribet. Kali ini sekolah gue melakukan uji coba pengerjaan rapot dengan aplikasi.

Aplikasi ini tujuannya biar semua nilai anak juga tersimpan dalam database yang jika sewaktu-waktu membutuhkan tidak perlu mengobrak-abrik berkas nilai di dalam lemari yang entah ada di lemari sebelah mana.

Nah... tepat satu minggu sebelum pembagian rapot, para  wali kelas dikumpulin lalu diberi arahan buat ngerjain rapot pake aplikasi yang katanya udah dibeli dengan harga mahal oleh sekolah. Gue sih malah bersyukur akhirnya sekolah gue ini makin keren aja.

Sayangnya, apa yang gue harapkan hanyalah tinggal harapan. Aplikasi yang dibagikan ke tiap guru ini masih terdapat banyak masalah. Mulai dari nggak ada tombol ‘back’-nya. Jadi kalo mau balik ke halaman sebelumnya, ya harus nutup halaman aplikasinya. Pertama kali ngelihat hal ini, rasanya pengen ketawa ‘HAHAHA’ kenceng banget.


Selanjutnya, daftar mata pelajaran yang dimuat dalam aplikasi tadi ternyata belum lengkap. Di aplikasi yang gue pegang, ekstrakurikulernya banyak yang belum diinput. Gue ingin mengulang ‘HAHAHA’ yang sebelumnya terlintas dalam pikiran, udah niat-niat mau ngentry nilai tapi tempatnya nggak ada.

Selanjutnya lagi, daftar absensi anak yang gue pegang ternyata berbeda urutannya. Di aplikasi, daftar nama anak diurutkan pakai abjad dari A sampai Z. Beda sama absensi yang gue pegang, yang diurutkan dari nomor induk.

Mungkin emang sepele sih, tapi kalo mesti masukin nilai dengan daftar absen yang beda, rasanya jadi makan waktu banget. Misal Bambang di absen nomer dua puluh, tau-tau di aplikasi jadi nomer lima. Gue jadi mesti selalu mengamati daftar nama yang jadi memperlama.

Salah satu yang bikin gue pengen tepuk tangan nanar adalah aplikasi ini dibagikan tepat satu minggu sebelum pembagian rapot. Dengan sedikit tutorial dari sang pembuat aplikasi, gue mengentry nilai satu per satu sambil menahan air mata. Dibandingkan dengan tahun lalu yang nilainya tinggal di copy paste ke dalam kolom excel. Kali ini nilai 31 anak dengan puluhan mata pelajaran harus gue entry satu per satu.


Belum lagi ngentry-nya mesti nyari nama anak dulu karena nggak sesuai absen kelas. Hari pertama, semua masih coba gue jalanin dengan tegar. Hari kedua, gue masih semangat mengerjakan dengan sesekali berkeluh kesah. Hari ketiga, gue masih terus ngerjain tapi kok rasanya nggak selesai-selesai ya...

Nggak perlu nunggu hari keempat, siang itu gue langsung pasrah nggak sanggup buat ngerjain rapot dengan aplikasi yang nggak ada tombol back-nya ini. Rekan wali kelas tiga di sebelah gue bahkan udah memberi hasutan untuk memundurkan jadwal pembagian rapot karena situasi lapangan yang tidak kondusif.

Kepasrahan gue berubah putus asa setelah melihat nilai hafalan juz 30 anak-anak harus dientry satu-satu, dan satu anak ada tiga surat alqur’an yang harus ditulis secara manual. Itu artinya gue harus bersemangat mengisi sembilan puluh tiga surat yang penilaiannya ada dua macam. Itu artinya lagi, berarti sembilan puluh tiga dikali dua. Dan itu harus dikerjakan hanya dalam sisa waktu dua hari. Gue yakin Bandung Bondowoso yang sanggup bikin 999 candi dalam satu malam belum tentu bisa nyelesein pekerjaan ini.

Gue dan rekan sejawat sepenanggungan dilanda kepanikan dan keputusasaan yang panjang. Disaat kegetiran ini membuat kepala cenat-cenut, instruksi libur dari kepala sekolah belum juga kami dapatkan. Yap.. disela-sela mengerjakan rapot, gue juga harus tetap membagi waktu untuk tetap mengajar di kelas. Sampai sore.

Aplikasi yang belum sempurna dan waktu yang sudah sangat mepet akhirnya terdengar juga oleh kepala sekolah. Wali kelas diminta berkumpul dan diminta untuk tetap bersemangat. Nggg... ini.....

Hingga akhirnya, titah dari kepala sekolah siang itu membuat gue bisa menyambung nafas yang tersengal-sengal. Hari kelima, sekolah akan diliburkan dipersembahkan spesial untuk wali kelas fokus mengerjakan rapot dengan aplikasi yang gue sebut sebagai mahakarya ini. Meskipun gue sendiri enggak yakin, gue bisa menyelesaikan nilai rapot yang luar biasa banyaknya ini, sekedar informasi aja... mata pelajaran Agama Islam di sekolah gue sendiri ada enam nilai yang harus dientry.

Disela-sela bisik-bisik wali kelas di ruang rapat, akhirnya salah satu wali kelas memberi solusi bahwa nilai yang sudah masuk nanti bisa di export ke format word atau excel sesuai selera. Nantinya nilai-nilai yang belum masuk karena aplikasi yang belum sempurna bisa diedit manual pakai word.


Subhanallah.... luar biasa sekali. Kenapa hal ini harus dicetuskan ketika hari penghakiman hanya tersisa dua hari.

Dengan beban tanggungjawab yang mau nggak mau harus diselesaikan. Rapot anak-anak tengah semester gue kerjakan dengan tangkas via microsoft word. Gue yang dari awal cetak-cetik masukin nilai ke aplikasi dengan sungguh-sungguh akhirnya bermuara juga ke sistem manual.

Terus ini sebenernya aplikasi buat apaaaaaan???

Nggak mau kesel terus-terusan, akhirnya nilai rapot anak berhasil gue selesaikan tengah malam dengan terengah-engah sebelum besoknya dibagikan. Itu semua terjadi berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan serta didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat guru di sekolah menyatakan dengan ini kemerdekaannya.


Sebenarnya dari pihak sekolah juga nggak menyangka akan jadi seribet ini. Waktu awal pengen dibuatin aplikasi buat mengolah nilai siswa, dari pihak sekolah taunya dengan dana sekian aplikasi siap digunakan dengan segala pesona kemudahannya. Sayangnya, aplikasi yang digadang-gadang akan membuat penyimpanan arsip nilai lebih nyaman justru menimbulkan keresahan di awal kemunculannya dan ujung-ujungnya pake manual juga.

2 Upil

semangat terus bang edotz, namanya juga cobaan wkwkwk

Reply

salut ah, sekolah berani invest aplikasi. Bisa dibayangkan jika gurune tua akan seribet apa, lah wong sampean yang tuanya belum begitu parah aja masih ribet. *eh

semoga aplikasi segera diperbaiki dan bisa mempermudah, bukan malah memperibet

Reply

Post a Comment